
Lusa kemudian...
Pemandangan di pelabuhan peti kemas terlihat begitu ramai. Taka pun tampak sibuk dengan berbagai macam urusan di ruangannya. Ia mengecek nota masuk jumlah barang yang datang. Apakah sesuai dengan permintaan atau tidak.
Taka mengatur lalu lintas pelabuhan peti kemas agar berjalan sesuai SOP dan standar internasional. Ia bak pengawas dari negeri asing yang dipekerjakan oleh negara. Tak lain tak bukan untuk membuat jalur distribusi lebih terarah lagi. Dan tidak tumpang tindih seperti sebelumnya. Karena banyak para importir yang ingin terburu-buru menaruh barangnya. Sehingga Taka dipekerjakan. Ia bak sistem yang membuat importir lebih disiplin lagi.
"Anda memanggilku?" Tiba-tiba seseorang datang ke ruangannya.
Ia adalah Hiroshi, sepupu dari Taka sendiri. Ia datang ke ruang kerja Taka lalu duduk di kursinya. Taka pun tampak melirik ke arahnya yang baru saja datang.
"Pihak pelabuhan menemukan penyelundupan barang dari barat tanpa nahkoda. Kau tahu datangnya dari mana?" tanya Taka sambil terus mengecek nota barang masuknya.
Hiroshi tampak santai duduk di depan Taka. "Aku tidak tahu. Mungkin saja sebelumnya memang ada pihak-pihak tertentu yang melakukannya," jelas Hiroshi.
"Begitu ya. Jadi ada yang ingin mengambil keuntungan di tengah usaha orang?" Taka menimpali.
"Mungkin saja." Hiroshi pun mengamini.
__ADS_1
Taka meletakkan nota-nota yang telah ia cocokan. Ia kemudian menatap Hiroshi yang duduk di hadapannya. "Mungkin sudah terbiasa orang-orang melakukan seperti itu. Tapi aku berharap tidak padamu." Taka menatap tajam ke arah Hiroshi.
Hiroshi tersinggung. "Maksudmu?" Ia merasa dituduh oleh Taka.
Taka menyandarkan punggung di kursi kerjanya. "Jangan kira aku tidak tahu apa yang telah kau lakukan." Taka pun mulai bicara tentang permasalahan mereka.
Hiroshi tak mengerti. "Aku tak tahu apa yang kau maksudkan." Ia benar-benar tak mengerti.
Bukan tanpa alasan Taka memanggil Hiroshi ke ruang kerjanya siang ini. Melainkan ia ingin menuntaskan sebuah urusan yang belum sempat terselesaikan. Yaitu tentang keikutcampuran Hiroshi dalam urusan pribadinya. Taka amat tidak menyukai hal itu.
Saat itu juga tatapan Taka berubah tajam ke Hiroshi. Hiroshi pun membenarkan sikap duduknya. Ia duduk tegak di hadapan Taka. Seperti bertemu dengan orang yang formal saja.
"Aku tidak mengerti maksudmu." Hiroshi tampak masih bertanya-tanya dengan maksud Taka.
Taka pun beranjak berdiri. Ia berjalan menuju jendela ruangannya, membelakangi Hiroshi.
"Ayah datang untuk memperingatkanku. Menurutmu, siapa orang yang telah mengadu kepadanya?" tanya Taka santai lalu menoleh ke arah Hiroshi.
__ADS_1
Hiroshi pun menelan ludahnya.
Taka berbalik. Ia berjalan mendekati Hiroshi. Ia kemudian mengangkat satu kakinya ke atas meja, ke hadapan Hiroshi. Saat itu juga Hiroshi tersadar dengan maksud Taka.
"Aku bisa saja menginjakmu saat ini. Aku juga bisa membalas perbuatanmu dengan keji. Tapi ... apakah itu yang kau inginkan?" tanya Taka kepada Hiroshi.
Hiroshi menelan ludahnya. "Taka, aku—"
"Aku tidak butuh pembelaan. Kau harus berkaca sebelum ikut campur urusan orang. Apakah sudah merasa benar? Apakah sudah merasa hebat untuk mencampuri privasi orang lain?" Taka menanyakannya dengan tegas.
Hiroshi terdiam di kursinya. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia tersadar jika telah membuat kesalahan kepada Taka.
.........
...Taka...
__ADS_1