
"Selesai." Taka pun dengan cepat memakaikan kalung tersebut ke leher Rara. Ia kemudian tersenyum saat melihat kalung pemberiannya sudah tergantung di leher sang gadis. Rara pun memegang kalung yang dipakaikan Taka itu.
"Kau terlihat cantik, Ra. Hari ini aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang indah dan juga bisa untuk bersantai. Kau mau?" tanya Taka kepada Rara.
Rara mengangguk. "Aku mau," jawab Rara. Ia masih tak percaya dengan sikap Taka yang romantis ini.
"Baiklah. Aku memesan mobil dulu."
Taka kemudian mengeluarkan ponselnya. Ia memesan angkutan online. Tak lama kemudian ia pun menerima telepon dari angkutan online tersebut.
Rara sendiri masih memegangi kalungnya. Ia ingin sekali menanyakan apa maksud dari pemberian kalung ini. Namun, ia takut hatinya kecewa saat mendengar jawaban dari Taka. Takut jika semua harapannya hanya sebatas angan-angan belaka. Harapan jika Taka mempunyai perasaan yang sama padanya. Sebuah perasaan sayang dan lebih dari sekedar teman.
"Ra? Rara?" Terlarut dalam pikirannya sendiri, Rara pun tidak menggubris panggilan Taka. "Hei, Ra! Mobil sudah datang, ayo!" ucap Taka yang mengajak Rara segera berjalan menuju mobilnya.
"Hm, i-iya."
__ADS_1
Rara pun terkejut karena tiba-tiba saja lamunannya itu terhenti. Ia lalu segera mengikuti Taka dan berjalan bersama menuju mobil yang ditunjukkan. Mereka kemudian masuk ke dalam mobil tersebut lalu segera berangkat menuju suatu tempat untuk menghabiskan waktu bersama.
Empat puluh menit kemudian, Wira Garden pukul 09.45 WIB...
Sebuah tempat rekreasi bernuansa alam dikunjungi oleh keduanya tanpa membawa apa-apa. Selesai membayar ongkos mobil, keduanya berjalan bersama menuju pintu masuk untuk membayar tiket. Tidak terlalu mahal, terlebih keduanya tidak membawa kendaraan pribadi, sehingga harga tiket masuk pun hanya sekitar lima puluh ribu saja.
Mereka kemudian menanjaki dataran yang lebih tinggi karena tempat itu lebih mirip seperti perbukitan yang tanahnya bergelombang, naik dan turun. Sehingga untuk sampai ke tempat tujuan, mereka harus berjalan menanjak atau menurun.
Taka kemudian mengajak Rara menuju sebuah taman yang terdapat sepasang kudanya. Kuda-kuda tersebut pun sedang diberi makan oleh penjaganya. Kuda itu satu berwarna putih, sedang satunya berwarna hitam.
Rara merasa perjalanan kali ini begitu melelahkan. Maklum saja, sebelum pergi bersama ia harus membereskan rumah terlebih dulu yang menghabiskan banyak tenaga.
"Kau ingin mampir ke kantin itu?" tanya Taka seraya menunjuk sebuah tempat yang berada dekat dengan taman.
Di kantin itu menjual berbagai macam santapan dan juga kebutuhan personal. Walaupun tidak terlalu banyak, tapi amat berguna jika pengunjung lupa membawa sesuatu. Terlebih bagi mereka yang sedang berkemah di tempat itu.
__ADS_1
"Hm, tidak. Sepertinya lebih baik kita beristirahat di sana saja." Rara menunjuk sebuah tempat yang lebih tinggi dari tempat lainnya.
"Baiklah. Tapi jangan pingsan, ya? Aku tidak sanggup untuk menggendongmu. Ayo!"
Taka malah berjalan duluan di depan. Ia meninggalkan Rara sendirian sehingga membuat Rara sedikit kesal dengan sikap Taka.
Bukannya membantu, malah meninggalkan.
Rara menyadari jika sampai detik ini Taka belum pernah menyentuhnya sama sekali. Walaupun hanya sekedar berjabatan tangan, belum pernah mereka lakukan. Pria itu pun berhasil membuat Rara terpukau.
Taka sendiri mempunyai pandangan lain mengapa tidak ingin bersentuhan dengan Rara. Walaupun hanya sebatas berjabatan tangan saja. Ia ingin menjaga Rara. Walau ia tahu akan sangat sulit mencintai seseorang tanpa menyentuhnya. Tapi Taka berusaha sekuat mungkin untuk menjaganya.
.........
...Taka...
__ADS_1