
"Hah! Dasar!"
Taka pun tampak tersenyum mendengar ucapan Rara. Ia tidak menyangka jika gadis yang duduk di sebelahnya mempunyai selera humor yang unik.
"Baiklah. Aku akan membayar pajak untuk setiap pertanyaanku. Maka kau harus menjawab seribu pertanyaanku!" tantang Taka.
"Eeeh???" Seketika itu pun Rara terkejut. "Yang benar saja?! Kau ingin membuatku pusing sembilan keliling?" tanya Rara balik.
“Sembilan keliling? Hah, ada-ada saja. Rara-rara."
Taka pun tampak tersenyum kembali. Ia ingin mengusap kepala Rara saat ini. Namun, keinginan itu ia tepiskan segera. Taka masih menahan keinginannya.
Dia seperti adik kecilku. Begitu ceria walaupun perjuangan hidupnya susah.
Taka memerhatikan Rara dalam diam. Ia tersenyum memandangi gadis yang ada di sampingnya. Entah mengapa semakin lama mengobrol, Taka semakin ingin tahu tentang Rara. Taka pun merasa nyaman dengan sikap Rara yang polos. Rara juga blak-blakan, tidak malu menceritakan siapa dirinya. Taka membutuhkan gadis seperti Rara. Yang bisa diajak berbagi suka maupun duka.
"Taka, kau bukan orang sini? Dari mana kau berasal?" Rara memberanikan diri bertanya.
"Em, itu ...,"
Taka tampak ragu menjawab. Ia memandangi langit sore. Membuat Rara menunggu dan terus menunggu.
"Taka, kau baik-baik saja?" tanya Rara yang mulai kesal karena pertanyaanya tidak dijawab.
"Kau yakin ingin tahu?" Taka malah balik bertanya kepada Rara.
__ADS_1
"Tentu," jawab Rara segera.
"Baiklah. Tapi kau akan dikenakan pajak untuk setiap jawaban dariku," balasnya.
"Ap-apa?!"
Seketika suasana menjadi hening kala Taka mengucapkan kata seperti itu. Atmosfer sekitar terasa aneh saat Rara merasa tertohok dengan balasan Taka. Mereka pun saling pandang satu sama lain. Dan tak lama kemudian keduanya tertawa bersama.
"Ahahahaha. Kau bisa saja, Taka."
Tanpa malu Rara tertawa di depan Taka hingga terlihat gigi gerahamnya. Merasa lucu dengan umpan balik yang terjadi di antara mereka. Begitupun dengan Taka yang merasa senang karena telah berhasil membalas lelucon yang dilemparkan kepadanya tadi.
"Kita seri, ya?" tanya Rara.
"Eh?! Rara terkejut. "Kau keterlaluan, Taka. Huh!" cetusnya lalu membuang pandangan dari pria itu.
"Hei, aku hanya bercanda, Manis," sebut Taka kepada Rara.
Saat itu juga raut wajah lelah Rara berubah menjadi memerah karena malu. Taka menyebut dirinya dengan sebutan manis. Membuat hatinya melayang tinggi ke angkasa.
"Hei, kapan libur?" Taka bertanya lagi yang ditanggapi dengan berbaliknya wajah Rara ke arahnya.
"Ada apa kau bertanya tentang hari liburku?" Rara balik bertanya.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin mengajakmu ke sungai," jelas Taka.
__ADS_1
"Lalu menenggelamkanku, bukan?" sela Rara.
"Hahahaha." Sontak raut tawa tertanam di wajah Taka yang rupawan. "Ra,"
"Hm?"
"Kau tahu?"
"Tidak."
"Rasanya aku ingin mencubit hidungmu." Taka merasa gemas.
"Nanti aku bisa mati," jawab Rara dengan polosnya.
"Mengapa bisa sampai seperti itu?" tanya Taka terheran.
"Karena hidung yang kau cubit tidak dapat menghirup udara. Lalu aku pun berhenti bernapas," jawab Rara seadanya.
Taka tertawa kecil mendengarnya. "Tenang saja, aku akan memberikan napas gratis," tukas Taka.
Eh? Dia ini? Rara pun merasa terpancing. "Tapi aku tidak mau dicium," balas Rara lagi.
"Eehhh, siapa yang akan menciummu? Aku bilang kan napas gratis. Nanti aku akan memberikannya lewat balon udara," terang Taka.
"Haaahhh???" Rara pun tak percaya dengan jawaban pria itu.
__ADS_1