SEPERCIK KEBAHAGIAAN

SEPERCIK KEBAHAGIAAN
Tanggapan


__ADS_3

Seketika itu juga raut wajah Rara berubah drastis. Ia tidak menyangka jika Taka adalah seorang Atheis.


"Kau pasti memandangku aneh, bukan? Pasti setelah ini kau akan menjauh dariku," ungkap Taka lalu menunduk sedih di samping Rara.


Taka ....


Ingin rasanya Rara menyentuh Taka. Tapi ia begitu segan untuk melakukannya karena Taka pun tidak pernah menyentuh dirinya.


"Aku cukup tahu tentang negeri ini. Dimana isu SARA menjadi hal yang sangat tabu untuk diperbincangkan, dan juga dapat memecah belah persatuan. Perbedaan pandangan menjadikan konflik berkepanjangan. Dan hal itu pasti juga terjadi padamu. Belum lagi jika orang-orang di sekitarmu mengetahuinya. Pasti akan menjadi boomerang untukmu, Ra." Taka mengutarakan isi pikirannya.


Rara terdiam. Ia menunduk sejenak di samping Taka.


"Kau tidak perlu mengasihani diriku. Kau juga tidak perlu memaksakan diri untuk dekat denganku. Kita berbeda, Ra. Dan aku menyadari hal itu." Taka tampak berkecil hati dengan keadaannya saat ini.

__ADS_1


"Taka, kau jangan berkata seperti itu. Setahuku berteman tidaklah memandang apapun." Rara berusaha menguatkan Taka.


Taka mengangguk. "Ya, aku mengerti. Tapi apa kata orang jika kau berteman denganku? Apa kata tetanggamu? Apa kata keluargamu? Mereka pasti akan merasa tercemar dengan kedekatan putrinya padaku." Taka terlihat sendu.


Rara menelan ludahnya. Apa yang dipikirkan Taka memanglah tidak salah. Karena nyatanya perbedaan itu cukup tabu di lingkungannya. Apalagi ruang lingkup Rara bisa dibilang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama.


"Aku mengerti apa yang kau katakan, Taka. Setelah mendengar ceritamu, aku juga mempunyai ketakutan yang sama. Tapi tidak bisakah kita saling melengkapi dengan perbedaan itu? Layaknya minyak dan air yang tidak akan pernah bisa bersatu. Tapi mereka bisa saling melengkapi satu sama lain." Rara berusaha bijak, walaupun nyatanya ia juga takut jika keluarganya tahu dekat dengan Taka.


"Tapi, Ra. Aku—"


Ra, sebenarnya aku ... aku jatuh cinta padamu. Bagaimana jika keadaannya seperti ini? Kita tidak berteman, tapi menjalin hubungan. Apa kau masih bisa berkata seperti itu?


Taka ingin mengungkapkan isi hatinya pada Rara. Ia ingin mengeluarkan semua resah dan gelisah yang ada. Namun, entah mengapa semuanya seakan tertahan di dada. Taka tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkannya. Terlebih keadaannya dilarang keras oleh sang ayah. Taka tidak mempunyai kekuatan untuk melawan.

__ADS_1


Lantas apakah Taka akan selalu memendam perasaannya? Dan apakah Rara dan keluarga bisa menerima Taka apa adanya?


"Semua akan baik-baik saja, Taka. Percayalah."


Rara memberikan semangatnya untuk Taka. Yang mana semangat itu mulai menyalakan api kehidupan Taka sendiri.


"Hm, iya. Aku akan mencobanya, Ra. Tapi aku harap tidak salah langkah untuk saat ini," tuturnya.


"Maksudmu?"


"Kau tahu, sebelumnya aku sering melihatmu di sana. Hampir setiap hari melihatmu menyeberangi jalan itu." Taka menceritakan.


"Maksudmu di jalan raya Taman Santapan itu?" tanya Rara memastikan.

__ADS_1


"Ya. Awal mula aku biasa saja. Tapi minggu demi minggu membuatku kepikiran. Entah mengapa aku selalu melihatmu di sana." Taka merasa heran sendiri.


Rara pun tertawa kecil di samping Taka. Ia merasa lucu dengan cerita ini.


__ADS_2