SEPERCIK KEBAHAGIAAN

SEPERCIK KEBAHAGIAAN
Cinta Dalam Hati


__ADS_3

"Hm, iya. Aku sengaja menunggumu pulang," katanya yang membuat Rara sedikit bingung.


"Kau tahu jika aku masuk pagi?" tanya Rara lagi.


"Hem, tidak sih. Aku hanya mengiranya saja," jawab Taka.


Rara mengangguk-angguk.


"Oh, iya. Aku punya sesuatu untukmu. Ayo!" Taka mengajak Rara naik ke lantai dua Taman Santapan.


"Apa itu?" Rara tampak penasaran.


"Lihat saja nanti."


Taka memberikan kode agar Rara mengikutinya. Mereka kemudian berjalan bersama menuju lantai dua Taman Santapan. Setibanya di sana pun Rara diminta Taka untuk duduk membelakanginya. Tak lama kemudian, Taka memberikan sesuatu kepada Rara.


"Ini, bukalah," kata Taka yang memberikan sebuah kotak besar.


"Apa ini?" Rara tampak terkejut.


Taka duduk di kursi depan Rara. Mereka duduk berhadapan dengan jarak yang cukup dekat. Taka juga kemudian meminta Rara untuk membuka kotak yang ia berikan.


"Kau tidak sedang mengerjaiku, bukan?" tanya Rara yang khawatir saat akan membuka kotak tersebut.


"Tidak. Mana mungkin aku mengerjai gadis tangguh sepertimu. Yang ada malah bunuh diri. Tak ada gunanya," jawab Taka yang membuat Rara tertawa seketika.

__ADS_1


“Hahaha, kau ini. Baiklah, aku buka."


Rara pun membuka kotak tersebut. Namun, ia tampak kaget dengan isi dari kotak yang Taka berikan padanya.


"Ap-apa ini?" tanya Rara seraya melihat ke arah Taka.


"Hhh, kau tidak tahu apa ini, Pendek?" Taka pun mengejek.


"Em, komputer mini?" tanya Rara lagi.


"Bukan, ini notebook," jawab Taka.


"Notebook?"


"Hm, ya. Aku sengaja membelikannya untukmu."


"Kemarin aku sudah berjanji akan membantumu, bukan? Maka dari itu mulai sekarang kau bisa belajar menulis. Lalu tulislah cerita tentang kita," ucapnya kepada Rara yang terlihat bingung.


"Tap-tapi—"


"Sudah. Jangan banyak kata tapi." Taka menolak alasan Rara.


"Taka, em ... maksudku kau pasti membelinya dengan harga yang mahal, bukan?" Rara tidak enak hati sendiri.


“Tidak." Taka segera menjawabnya. "Ini notebook second tapi masih sangat bagus. Aku sudah mengeceknya tadi. Dan harganya juga hanya setengah dari harga asli. Jadi kau tidak perlu khawatir. Tugasmu hanya menuliskan cerita tentang kita saja. Tidak berat, bukan?" Taka meminta.

__ADS_1


Sejenak Rara terdiam. Ia tidak menyangka akan mendapatkan rezeki berupa notebook yang Taka berikan. Rara pun tidak mengerti mengapa Taka begitu berambisi agar dirinya menuliskan kisah tentang mereka.


"Baiklah, tapi aku harus mulai dari mana?" Rara tampak bingung.


"Ini." Taka pun memberikan sebuah novel kepada Rara. "Buatlah seperti ini, tapi jangan lupa untuk mempelajari teknik dasarnya terlebih dulu karena itu sangat penting. Kau pasti bisa, Rara." Taka menyemangati.


"Hm, begitu." Rara pun mengangguk-angguk.


"Semangat ya, Ra! Maaf kali ini aku tidak bisa berlama-lama. Mari kuantarkan kau pulang."


Setelah menepati janjinya untuk membantu Rara, Taka kemudian segera mengantarkan Rara pulang hingga ke depan gang rumahnya. Walaupun tak dapat ia pungkiri jika hatinya ingin berlama-lama bersama Rara. Namun, sebuah peringatan telah terucap dan harus dipatuhi jika tidak ingin Rara disakiti.


"Taka."


"Hm?"


"Terima kasih banyak," ucap Rara seraya menatap pria tinggi yang ada di hadapannya.


Taka pun tersenyum tanpa berkata apapun. Membuat Rara merasakan jika sesuatu telah terjadi padanya.


Taka, aku harap semuanya baik-baik saja.


Tak lama kemudian mereka pun berpisah. Tak lupa juga Rara melambaikan tangannya ke arah Taka sebelum ia benar-benar pergi. Namun, Taka tampak tak membalasnya. Ia hanya menatap kepergian Rara dengan pandangan menahan sedih.


Maafkan aku, Ra. Semoga beruntung.

__ADS_1


Batinnya berkata kala melepas kepergian Rara dari hadapannya. Taka harus bisa merelakan bunga cinta yang sedang merekah indah di hatinya. Demi kebaikan Rara kedepannya. Taka tidak mau Rara sampai kenapa-kenapa karena dekat dengannya. Taka menyayangi Rara.


__ADS_2