SEPERCIK KEBAHAGIAAN

SEPERCIK KEBAHAGIAAN
Status


__ADS_3

...Taka...



...Rara...



.........


Setengah jam kemudian...


Rara bersyukur karena telah mendapatkan banyak rezeki hari ini. Ia terlihat senang sambil memegangi perutnya yang kenyang. Sedang Taka masih berusaha menghabiskan apa yang ia makan. Ia belum terbiasa menyantap lontong yang ada di sini.


"Taka, kau begitu baik padaku. Hari ini pasti sudah habis banyak. Sayangnya, aku tidak bisa membalas kebaikanmu. Maafkan aku, ya?" Rara tersenyum manis kepada Taka yang mana hampir saja membuat Taka tersedak irisan lontongnya.


"Ehem!" Taka pun berdehem karena grogi melihat senyum manis Rara. "Kau tidak perlu berterima kasih padaku. Lagipula aku tidak pernah meminta balasan darimu," sahutnya lalu cepat-cepat meneguk air.


"Tapi mencari uang itu sulit, Taka. Aku sangat tahu hal itu. Maka dari itu aku merasa sangat tidak enak karena telah menghabiskan uangmu. Padahalkan—"


"Sudah-sudah. Aku ikhlas memberikannya. Lagipula tak seberapa. Kau belum tahu saja pengeluaranku. Jika sudah tahu, pasti akan lari terbirit-birit karena takut,” ungkapnya.


"Hah? Benarkah?" Rara tak percaya.


"Iya," jawab Taka sambil meneruskan makannya.

__ADS_1


"Tapi entah mengapa aku tidak percaya ya." Rara menatap langit-langit warung karena tidak percaya dengan apa yang Taka katakan.


Taka pun terdiam. Ia merasa Rara tidak memedulikan sesuatu yang menakutkan dari dirinya.


"Ra, ada hal yang ingin kutanyakan padamu." Taka segera mengakhiri santap sotonya.


"Apa itu?" tanya Rara menanggapi.


Taka meneguk air minumnya kembali. Lalu kemudian berkata lagi. "Ke mana aku harus mencarimu jika ingin bertemu? Apakah aku boleh ke rumahmu?" tanya Taka serius.


"Ap-apa?!"


Saat itu juga jantung Rara berdetak kencang bukan main. Ingatan-ingatan akan sikap keluarganya terbayang cepat di alam pikirannya. Rara merasa Taka akan segera menjauh begitu mengetahui bagaimana sikap keluarganya.


"Em, maaf. Lain kali saja ya. Selama ini aku belum pernah mengajak teman lelaki ke rumah. Aku khawatir malah terjadi fitnah." Rara melarang Taka ke rumahnya.


Seketika Rara teringat dengan insiden adik perempuannya. Ia merasa khawatir akan dituding dengan hal yang sama.


"Taka, jika kau ingin menemuiku, kau bisa datang ke tempatku bekerja atau menungguku di luar hingga aku pulang,” jawab Rara seraya tersenyum lebar.


"Aku sebenarnya sudah tahu di mana tokomu." Taka menerangkan.


"Sungguh?" Rara tak percaya.


Taka mengangguk. "Supir—bosku pernah melihatmu di sana." Taka hampir saja menyebutkan supir pribadinya yang pernah bertemu Rara.

__ADS_1


Taka masih menyembunyikan siapa jati dirinya di hadapan Rara. Ia tidak ingin Rara mengetahui siapa dirinya. Bagi Taka pertemanan mereka cukup apa adanya. Kemewahan tidak perlu ditampakkannya. Namun, Rara sedikit demi sedikit mulai curiga. Apalagi Taka seringkali menraktirnya.


"Kau tidak terlihat seperti seorang pekerja, Taka." Rara mulai menyelidiki Taka.


"Eh, benarkah?" Taka melihat penampilannya.


"Kau seperti orang penting di kota ini." Rara menduganya.


Saat itu juga Taka tertawa. "Hahahaha. Aku hanya seorang TKA yang bekerja di sini, Ra. Hanya saja sudah lumayan lama sehingga bisa berbahasa Indonesia," terang Taka kepada Rara.


Rara mengembuskan napasnya. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Taka. "Kau seperti ... pria keturunan Jepang yang tampan," bisik Rara yang membuat Taka merona seketika.


"Rara ...."


"Tapi sayang, pastinya sudah punya orang." Rara mulai mencari tahu status Taka.


Taka menelan ludahnya. Ia tidak bisa berkata apa-apa.


"Aku khawatir pacarmu datang lalu melabrakku di toko. Baiknya kau menjaga jarak dariku," kata Rara lagi.


Taka terdiam. Ia ragu untuk mengatakan status yang sebenarnya. "Apa kau memikirkan status hubunganku?" tanya Taka mulai serius.


"Tidak." Rara pun segera beralibi.


"Kau bohong, Ra."

__ADS_1


"Aku jujur."


"Aku tak percaya." Taka pun tak percaya jika Rara hanya asal bicara.


__ADS_2