SEPERCIK KEBAHAGIAAN

SEPERCIK KEBAHAGIAAN
Hadiah


__ADS_3

Tepat pukul sembilan, seorang pria mengenakan sweter rajutan berwarna hitam datang, dibalut jas biru gelapnya. Pria itu berjalan ke arah Taman Santapan sendirian. Entah dari mana arahnya, ia tiba-tiba saja sudah sampai.


Kali ini pria itu tampak berbeda. Ternyata pakaian yang dikenakannya serba hitam seperti mengungkapkan kedukaan. Hanya jasnya saja yang menyamarkan apa yang ia rasakan. Ia kemudian berjalan santai mendekati Rara sambil menyembunyikan sesuatu di belakang tangannya.


“Hai, Ra. Kau sudah lama menunggu?" tanyanya kepada Rara.


"Taka?!" Rara pun terkejut. Taka tiba-tiba saja sudah datang.


"Maaf, kali ini aku datang terlambat. Ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya," janji pria itu kepada Rara.


Pria itu memang benar adalah Taka. Ia sengaja datang terlambat untuk menciptakan kenangan yang mungkin tidak akan bisa lagi terulang di masa yang akan datang. Pagi ini Taka datang untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Rara. Tapi sebelumnya ia ingin membuat Rara bahagia.


"Em, tidak apa-apa. Apa itu?" tanya Rara yang melihat Taka menyembunyikan sesuatu di belakang tangannya.


Taka tersenyum. Ia menatap Rara dengan tatapan menahan kesedihan. Ya, Taka menahan sedihnya tapi ia berusaha untuk tersenyum kepada Rara. Ia tahu jika hari ini adalah hari terakhirnya bersama Rara.

__ADS_1


"Ra." Taka kemudian menatap Rara tepat di mata. "Kau sudah menjadi bagian dari hidupku, maka terimalah hadiah ini." Taka memberikan setangkai bunga mawar merah kepada Rara. Ia juga memberikan satu kotak kecil kepada Rara.


Rara terkejut. Ia tak menyangka jika hari ini akan diberikan hadiah. "Taka, kau sudah terlalu banyak memberiku." Rara tampak keberatan menerimanya.


Taka mengangguk. "Begitu." Ia terlihat kecewa. "Jadi kau tidak mau lagi menerima pemberian dariku?" tanya Taka kepada Rara.


Rara terdiam.


"Bagaimana jika ini pemberian terakhirku? Kau masih tidak mau juga menerimanya?" tanya Taka sambil menahan kesedihan di hatinya.


"Taka, maafkan aku." Rara pun jadi tidak enak hati sendiri.


Saat itu juga Rara mengangguk. Walaupun sebenarnya ia segan untuk menerima pemberian dari Taka. Ia merasa sudah terlalu banyak menerima, sedangkan dirinya saja belum sempat memberikan sesuatu kepada Taka.


"Jika kau menolak, hanya akan membuatku sakit hati," ucap Taka yang meminta Rara untuk menerima pemberian darinya.

__ADS_1


Rara pun dengan tidak enak hati menerima pemberian dari Taka. Setangkai bunga mawar merah palsu yang dihias plastik kaca. Sangat rapi. Seperti bingkisan dengan harga yang lumayan mahal.


"Kau tidak membuka kotak ini?" tanya Taka yang mengingatkan Rara untuk segera membuka kotaknya.


"Hm, baiklah. Aku buka juga."


Rara pun membuka kotak tersebut. Dan alangkah terkejutnya ia saat melihat sesuatu yang ada di dalam sana. Mengalihkan perhatiannya dan membuat hatinya tidak karuan.


"Taka, ini?!" Rara tidak percaya.


"Aku memberikannya untukmu. Jangan kau tolak, ya?" pinta Taka.


"Tap-tapi ini. Ini mahal, Taka." Rara amat tidak percaya dengan pemberian Taka.


"Sudah. Sini aku pakaikan."

__ADS_1


Taka kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam kotak kecil tersebut. Ia mengambil seuntai kalung perak berhias huruf T di gantungannya. Ia juga segera memakainya kepada Rara. Saat itu juga Rara merasa jika Taka mempunyai perasaan yang sama dengannya. Sebuah perasaan yang diliputi harapan besar.


Taka ....


__ADS_2