SEPERCIK KEBAHAGIAAN

SEPERCIK KEBAHAGIAAN
Berbelanja


__ADS_3

Tiga puluh lima menit kemudian...


Rara dan Taka berjalan bersama, masuk ke sebuah supermarket yang ada di tengah kota. Di lantai pertama dekat dengan pintu masuk, terdapat area pengambilan uang dari berbagai jenis ATM bank. Yang mana di sampingnya terdapat sebuah area bermain anak kecil. Area bermain itu sangat luas hingga anak-anak bisa bermain dengan leluasanya. Rara dan Taka pun melihatnya.


Keduanya terlihat begitu serasi. Tinggi Rara yang hanya sebahu Taka, membuat Rara terlihat pendek di mata pria berkebangsaan Jepang itu. Namun, karena hal itulah menjadikan Taka lebih leluasa memandangi gadis yang tengah bersamanya ini. Sedangkan Rara harus sedikit mendongakkan kepala agar dapat melihat Taka lebih jelas. Keduanya bak sepasang kekasih yang baru saja mengikat janji. Tampak malu-malu namun saling mencuri pandang satu sama lain.


"Hei, Ra. Kau tidak berminat untuk menjadi seorang penulis?" tanya Taka memecah keheningan di antara keduanya.


"Penulis?" Rara pun menoleh ke arah Taka yang berjalan di sisinya.


"Iya. Mungkin saja ada yang tertarik dengan kisah kita,” cetusnya.

__ADS_1


"Eh?!" Rara pun terkejut. "Jadi maksudmu aku menuliskan cerita kita untuk dijadikan novel?" Rara balik bertanya.


"Hm, iya. Bagaimana menurutmu?" tanya Taka kembali.


Rara terdiam sejenak, memikirkan apa yang Taka katakan. "Aku ... tidak mempunyai fasilitas untuk menulisnya. Lagipula untuk pemula sepertiku pasti akan sangat sulit mendapatkan pembaca." Rara terlihat pesimis.


"Heh, kau tidak boleh berpikiran seperti itu. Merintis itu memang sulit. Tapi percayalah, jika sudah meraih imbalan dari apa yang kau jerih payahkan, niscaya akan lupa dengan rasa lelahnya." Taka memberikan dukungan kepada Rara.


Rara terdiam sejenak. Ia berpikir. "Aku tidak tahu tempat untuk menulis cerita, Taka." Kembali Rara menuturkan.


"Teknik dasar?"

__ADS_1


Rara pun bertanya lagi. Ia seperti tertarik untuk mengetahui dunia tulis-menulis. Terlebih Taka memberikan dukungan kepadanya. Rasanya semangat itu semakin berkobar saja.


"Iya, kau harus belajar teknik dasarnya terlebih dulu. Karena itu sebagai pondasi dari ceritamu. Ibarat sebuah rumah, harus ada pondasinya, bukan? Kau pasti bisa Rara." Taka kembali memberi semangat kepada Rara.


Mereka kemudian menaiki eskalator menuju lantai dua supermarket. Yang mana di lantai dua terdapat berbagai macam kebutuhan rumah tangga dan pribadi. Rara dan Taka pun bergegas ke sana.


Rara terdiam sepanjang menaiki eskalator karena memikirkan saran dari Taka. Baginya dunia tulis-menulis itu masih sangatlah baru. Rara tidak mempunyai keterampilan khusus di bidang itu. Tapi karena semangat yang Taka berikan, semangat itu semakin berkobar di hatinya. Rara pun ingin mencobanya.


Mungkin tidak ada salahnya aku mencoba.


Lantas Rara pun memantapkan tekad untuk mengikuti saran dari Taka. Entah bagaimana nantinya, Rara hanya menjalaninya saja.

__ADS_1


Sesampainya di lantai dua supermarket...


Taka dengan setia membantu Rara mencari barang-barang yang dibutuhkan agar dapat menghabiskan voucher belanja yang ia dapatkan. Tapi, Rara sangat sayang menghabiskan voucher belanja hanya untuk membeli kebutuhan pribadinya. Yang ada di keranjang dorong itu berisi berbagai macam kebutuhan rumah tangga. Hal itulah yang membuat Rara tampak keibuan di mata Taka. Taka pun semakin menyayanginya.


__ADS_2