
"Nanti saja ya, Mbak. Tunggu panennya," ucap seorang wanita berpakaian santai yang duduk di bawah salah satu pohon mangga.
Seketika Rara menyadari jika pohon mangga itu ada penjaganya. Dengan malu, ia pun melepaskan satu buah manga apel yang hampir dipetik olehnya. Ia segera meneruskan perjalanan ke tahap berikutnya. Namun, di tahap ke empat ini tiba-tiba saja sudah berubah menjadi kelas sekolah yang berjajar. Teman-temannya pun menghilang entah ke mana. Yang mana ternyata sedang disekap di dalam kelas-kelas itu. Rara pun dengan sekuat tenaga menolong teman-temannya.
Tak lama terdengar suara memanggil dari seorang petani apel yang berada di puncak bukit. Terlihat jika petani itu sedang menanam apel berwarna merah. Sedang petani lainnya yang sedang memetik buahnya. Salah satu dari petani itupun memanggil dirinya seraya melambaikan tangan. Anehnya, terlihat salju di atas bukit tersebut. Padahal cuaca tampak cerah karena matahari menyinari puncak bukit dengan terangnya. Namun, karena merasa lelah setelah menolong teman-temannya, ia tidak sempat memenuhi panggilan petani itu. Dan tiba-tiba saja ia sudah tersadar dari mimpinya.
.........
"Hah ... hah ...."
Jam di dinding kamar menunjukkan pukul tiga pagi. Rara pun terlihat sangat lelah sampai tertidur sendiri. Ia tertidur dalam mimpi aneh yang baru saja dialami. Ia pun terbangun lalu mengucek matanya. Ia tersadar jika telah terlelap dalam mimpi.
Tadi itu???
__ADS_1
Rara seperti habis berdestinasi di alam bawah sadarnya. Ia pun lekas membasuh wajah lalu meneguk segelas air minum. Ia duduk di pinggir kasurnya sambil membayangkan mimpinya tadi. Ia pun merasa ada pertanda baik untuknya.
Apakah ini pertanda Tuhan menjawab doaku?
Tentu saja Rara mengharapkan jawaban atas doa yang selama ini ia panjatkan. Ia ingin merubah perekonomian keluarga menjadi lebih baik lagi. Ia tidak tega melihat ibunya terus-menerus menanggung penderitaan. Apalagi sejak kepergian ayahnya yang tidak pernah sekalipun mengirimkan uang. Ibu Rara sendirian membesarkan anak-anaknya.
Ya Tuhan, semoga saja benar ada pertanda baik untukku.
Beberapa hari kemudian...
Hari-hari terus dilalui oleh sang gadis pejuang. Suka duka, canda tawa serta tangis mengiringi langkah kaki yang menyerta.
Di sana, ia pun sedang melayani pengunjung tokonya yang berbelanja kebutuhan. Dengan sigap ia menemani sambil membawakan keranjang belanja. Namun, tidak ada kata terima kasih yang ia dapatkan.
__ADS_1
Rara tetap memberikan senyum tulusnya kepada pembeli tersebut. Menyadari dirinya hanyalah seorang pelayan toko yang tidak perlu diberikan ucapan terima kasih. Walau sesungguhnya ia pun ingin dihargai, sama seperti yang lainnya. Tapi Rara juga sadar jika setiap pembeli berbeda-beda sifatnya.
Hari ini ia masuk siang di tokonya. Hanya berdua saja dengan wakil kepala toko. Namun, tiba-tiba saja barang datang dari gudang distribusi yang mengharuskan Rara untuk ikut mengangkat barang-barang tersebut. Cukup banyak, sekitar dua ratus dus minyak kelapa ukuran besar.
Mengangkat barang sudah menjadi rutinitasnya. Walaupun gaji yang didapat tidak sesuai dengan keringat yang bercucuran, Rara selalu bersyukur. Ia bersyukur karena mendapat pekerjaan tanpa harus menyuap. Ia pun menikmati pekerjaannya sebagai kasir itu.
Jadwal bekerja Rara ternyata sudah berubah. Ia kemudian melihat dengan cermat jadwal bekerjanya bulan ini.
Mengapa liburnya tidak maju, malah mundur?
Rara melihat waktu liburnya harus tertunda dua hari pada minggu depan. Padahal malam ini ia sudah kelelahan mengangkat barang.
Suasana toko pun malam ini tampak sepi. Maklum sudah pukul sembilan malam yang mana sebentar lagi toko akan tutup. Tapi karena barang datang, mau tak mau pihak toko menerimanya lebih dahulu. Begitu juga dengan Rara yang harus bekerja ekstra. Mengasiri sambil mengangkat barang-barang tersebut ke dalam. Namun, ia tetap bersemangat dalam menjalani aktivitasnya. Ia adalah Rara Alya, sang pejuang perekonomian keluarga.
__ADS_1