SEPERCIK KEBAHAGIAAN

SEPERCIK KEBAHAGIAAN
Terkejut


__ADS_3

Taka menghela napasnya. Ia menatap ke langit malam yang gelap dan mulai mendung. Cahaya lampu jalan yang menyinarinya pun seolah tidak sanggup menepiskan kegundahan hatinya. Taka menginginkan untuk berada di dekat Rara.


Maafkan aku, Ra. Sebenarnya aku ingin sekali datang menemuimu. Tapi rasa takutku lebih besar daripada keberanianku. Semoga waktu akan mempertemukan kita kembali. Jaga dirimu.


Pada akhirnya Taka pun memutuskan untuk pergi dari tepi jalan Taman Santapan. Ia melaju menuju apartemennya kembali. Yang mana tanpa Taka sadari Rara juga datang ke sana. Namun, ia tidak sendiri. Melainkan bersama ibunya dan beberapa perawat rumah sakit. Kakak Rara harus dibawa ke IGD malam ini. Rara pun tampak cemas mengantarkannya.


Sesampainya di rumah sakit...


Kakak Rara terkena gejala gula atau yang lebih dikenal dengan sebutan diabetes. Rara yang sedang menikmati masa-masa cutinya pun harus ikut mengantarkan kakaknya ke rumah sakit. Walaupun tidak sendiri, tapi tetap saja Rara harus ikut berjaga sampai pagi. Karena di rumah sakit fasilitas tunggu kurang memadai.


Kini Rara baru saja menyelesaikan administrasi pendaftaran ruang rawat untuk kakaknya. Ia juga baru menebus resep obat yang tidak ditanggung pihak kota. Rara pun mau tak mau harus membayarnya. Ia tak peduli lagi uang dari mana asal bisa membelikan obat untuk kakaknya.

__ADS_1


Walaupun seringkali disakiti hatinya, Rara tetap menolong sang kakak yang terkena penyakit. Baginya, keluarga adalah segalanya. Di mata orang, Rara mungkin bisa berlaku cuek dan jutek. Tapi di depan keluarga, Rara sangatlah lemah. Ia rela menurunkan egonya demi keluarga semata. Karena hanya keluarga lah yang ia punya.


"Satu strip saja sampai dua ratus ribu. Jika harus menebus tiap tiga hari sekali, itu berarti aku harus menyiapkan uang empat ratus ribu dalam seminggu. Jika sebulan ...."


Rara tampak pusing. Tentu saja ia pusing memikirkan cara menebus obat yang tidak ditanggung pemerintah kota. Pengobatan memang gratis, tapi tidak untuk semua obat. Ada beberapa jenis obat yang harus ditebus di apotek luar. Dan Rara pun mau tak mau harus menebusnya.


Dengan lemas ia berjalan kembali ke rumah sakit seusai menebus obat di apotek luar. Namun belum sampai, ada seorang pria yang menghadang jalan Rara. Pria berkemeja hitam itu tampak menunggu Rara di depan pintu masuk rumah sakit.


Taka?!


Tentu saja nama Taka sangat diingat oleh dirinya. "Ada apa menemuiku?" tanya Rara segera.

__ADS_1


Hiroshi tampak tersenyum penuh maksud. "Tidak seharusnya aku menemuimu, tapi ini untuk kebaikan Taka," tuturnya kepada Rara.


Rara tak mengerti. "Bicara langsung pada intinya. Jangan banyak basa-basi." Rara menegaskan kepada Hiroshi.


Saat itu juga Hiroshi terkejut dengan sikap Rara. Ia tak menyangka jika Rara akan sejutek ini kepadanya.


Hiroshi menyilangkan kedua tangannya di dada. "Aku hanya ingin memberi tahumu jika Taka bukanlah orang sembarangan. Jadi aku minta jauhi dia sekalipun dia ingin bertemu denganmu. Kau tidak pantas untuknya. Kau tidak selevel dengannya." Hiroshi bicara tanpa memedulikan bagaimana perasaan Rara.


Rara tersenyum tipis. "Jadi kau datang hanya untuk mengancamku? Maaf, sebagai seorang pria tidak pantas mengancam wanita. Ada baiknya kau memeriksakan jenis kelamin sebelum berkata. Permisi." Rara pun segera meninggalkan Hiroshi.


Apa?!!

__ADS_1


Begitu berani Rara berucap. Begitu terkejut juga Hiroshi mengetahui sikap Rara. Ia pun mulai tersadar mengapa Taka sampai rela dimarahi ayahnya demi Rara. Hiroshi melihat sendiri bagaimana Rara yang sebenarnya.


__ADS_2