
tok tok tok
Tuan Hadi melepas pelukan nya pada sang putri. Mereka menoleh ke arah pintu yang ternyata salah satu pelayan nya sedang berdiri di ambang pintu. Pelayan itu membungkuk hormat sebelum berkata.
"tuan, rombongan tuan Rama telah datang. mereka menunggu anda dan nona muda" ucap nya ramah.
"baik lah, katakan pada mereka beberapa menit lagi kami akan turun"
Pelayan itu kembali membungkuk kemudian berlalu untuk turun dan menyampaikan ucapan tuan Hadi.
"mereka telah datang, mari kita turun untuk menemui calon suami mu" ucap tuan Hadi membuat Patricia tersipu.
Dengan menggandeng lengan sang papa, Patricia melangkah kan kaki nya menuju ruang depan. ruang yang sudah di sulap menjadi ruang pertunangan nya dengan Rama.
Semua yang sedang menunggu kedatangan Patricia dan tuan Hadi menoleh pada tangga ketika terdengar suara langkah kaki. Mereka kagum pada Patricia yang malam ini terlihat sangat cantik. Namun, Rama justru terlihat salah fokus memandang sang calon ayah mertua. Di balik senyum itu seperti ada kesedihan yang tersimpan di mata nya.
Sampai mereka duduk berdekatan, Rama tak mengalihkan pandangan nya. Raihan dan Dani yang ada di samping nya menyenggol lengan Rama membuat Rama menoleh ke samping kanan dimana Dani duduk.
"segitu amat mandang nya" ledek Dani.
Rama melirik ke arah Patricia dan ke arah tuan Hadi yang tersenyum padanya. Namun, ada sedikit mendung dari mata pria baya itu dan mungkin tak di sadari oleh orang lain.
Acara demi acara berjalan lancar tanpa suatu halangan apapun. Patricia dan Rama sudah memasangkan cincin di jari masing-masing. Semua tamu di persilahkan mencicipi makanan yang di hidang kan. Melihat sekeliling yang tampak sibuk begitu pun Patricia yang sedang bermain bersama putri Zaifa dan putra Boby. Akhirnya Rama melangkah ke arah tuan Hadi yang sejak tadi Rama perhatikan hanya diam meskipun sesekali menanggapi ucapan orang di sekeliling nya.
"pa..." panggil Rama.
Memang semenjak tadi pagi, Patricia sudah menyuruh Rama mengganti nama panggilan Rama pada sang papa.
Tuan Hadi menoleh dan tersenyum hangat kepada sang calon menantu. Rama mengambil posisi duduk di sebelah tuan Hadi. Rama ikut memandang ke arah dimana tuan Hadi melihat, Patricia. Ya rupa nya pria baya itu sejak tadi tak mengalihkan pandangan nya dari sang putri tunggal.
"apakah ada masalah pa?" tanya Rama hati-hati.
__ADS_1
Tuan Hadi menoleh sebentar kemudian memandang kembali ke arah Patricia dan menggeleng.
"tidak ada nak" jawab tuan Hadi dengan suara serak.
"papa bisa bicara padaku jika memang ada suatu masalah."
Tuan Hadi memandang Rama lekat, melihat sebuah ketulusan di mata Rama membuat pria baya itu tersenyum lega.
"papa percaya kan putri tunggal papa pada mu. Bahagia kan dia seperti papa yang selalu berusaha membahagiakan dirinya. Seperti nya papa akan tenang meninggalkan Patricia pada mu"
Kalimat itu keluar dari mulut tuan Hadi, dan Rama bingung menanggapi seperti apa sebab ucapan itu seperti memiliki makna ganda dan terdengar sangat ambigu.
"aku akan berusaha membuat Cia bahagia pa, aku sangat mencintai nya. Papa tak perlu khawatir"
"ya, papa bisa tenang jika suatu saat nanti papa harus pergi"
"apa maksud papa?"
"pa, tolong katakan. Jangan buat Rama bingung"
Tuan Hadi diam, ia bimbang. Apakah ia akan mengatakan yang sebenarnya atau tidak. Namun kemudian melihat wajah bahagia sang putri membuat tuan Hadi memutuskan untuk menitipkan secara resmi putri nya kepada Rama, lelaki yang sangat di cintai oleh putri nya.
"ikut lah papa, kita akan bicara berdua saja"
Rama beranjak mengikuti tuan Hadi, meskipun ada kebingungan dalam hatinya namun ia tetap mengikuti langkah Tuan Hadi masuk ke ruang kerja pribadi.
sementara tanpa mereka sadari, Patricia tanpa sengaja menoleh ke arah tangga dan mengernyit ketika Rama dan sang papa masuk ke ruang pribadi papa nya. Namun kemudian ia mengalihkan pandangan nya pada Rara yang sedang senang-senangnya belajar berjalan.
***
Beberapa hari berlalu, Rama dan Patricia sibuk mengurus acara pernikahan mereka yang akan di adakan secara terbuka di halaman rumah tuan Hadi. Acara pernikahan itu di gelar private atas permintaan tuan Hadi. Sebenarnya Patricia sempat menolak jika acara pernikahan nya di gelar dua Minggu setelah pertunangan tapi tuan Hadi selalu membujuk sang putri dan akhirnya Patricia luluh juga.
__ADS_1
"aku heran deh mas sama papa" ucap Patricia pada Rama.
Hari ini mereka berdua melakukan fitting baju pengantin dan baru saja selesai. Mereka mampir ke restoran untuk mengisi daya tubuh. Rama menoleh ke arah sang kekasih.
"aneh gimana yank?" tanya Rama.
"akhir-akhir ini tuh papa sering mandangin aku lama terus nanti tiba-tiba nangis."
Deg..
Jantung Rama seperti di pompa dengan cepat mendengar itu. Ia langsung teringat dengan pembicaraan nya dengan calon ayah mertua pada malam setelah acara pertunangan berlangsung.
"mas..." panggil Patricia menyentuh tangan Rama.
Rama tersenyum, ia ingin mengatakan apa yang ia tau tapi sesuai pesan tuan Hadi bahwa jangan sampai sang putri tau.
"mungkin papa hanya bahagia sebab sebentar lagi putri nya yang manja akan segera menikah" ucap Rama mengecup punggung tangan Patricia membuat gadis itu tersipu.
"tapi tuh kayak aneh aja mas"
"positif thinking aja sayang... Mungkin papa sangat bahagia dan seperti belum rela jika putri yang dulu di rawat nya dengan sepenuh hati akan menjalani kehidupan rumah tangga"
Patricia mengangguk setuju, meskipun ada sesuatu yang sedikit mengganjal di batin nya tapi ia abai. Mereka pun menyelesaikan acara makan siang dan segera berlalu untuk memesan katering. Mereka sengaja mengurus sendiri karena mereka ingin menikmati moment-moment sebelum pernikahan itu terjadi.
***
Di sebuah ruangan, seorang pria baya sedang memandang ke arah pigura foto dimana dirinya dan seorang perempuan sedang tersenyum dengan menghadap ke depan. tampak di tengah-tengah mereka seikat bunga mawar putih. Kebahagiaan terpancar antara keduanya.
"sayang... Harapan kita menikah kan putri semata wayang kita dengan seorang pria yang di cintai akan terkabul. Dan sebentar lagi mungkin aku akan segera menyusul mu. Sudah cukup lama aku menunda nya karena aku belum sanggup meninggalkan putri ku tanpa seseorang di samping nya. Dan sekarang aku bisa tenang karena sebentar lagi kita akan bertemu kembali. Putri kita sudah berada di tangan lelaki yang tepat"
setelah berkata seperti itu, samar-samar terdengar suara isakan kecil. pria baya itu meletakkan foto itu dan kemudian menangis sesenggukan. sedang seseorang di belakang nya menatap iba. Tak berani berkata sepatah pun karena tak ingin mengganggu sang tuan.
__ADS_1
'saya selalu berdoa untuk kebaikan anda tuan, entah apa yang akan terjadi pada nona muda jika anda pergi' batin pelayan itu.