SETELAH DI CERAI

SETELAH DI CERAI
bab 99


__ADS_3

"ternyata beneran kangen sama uncle nya ya" seru Raihan terkekeh melihat putri nya yang memeluk erat leher Niel.


"tadi rewel kak, ngomong il il, tapi aku ngga paham maksud nya apa. Ehh ternyata uncle Niel" seru Zaifa.


"memang sesayang itu Rara sama uncle nya. lihat manja banget" sahut Rama.


Wulan hanya terkekeh melihat itu, ia mengelus perut nya yang sudah agak membuncit. Ia berharap anak nya kelak akan di kelilingi oleh orang-orang yang menyayangi nya seorang baby Rara.


"masuk yuk, ngga enak di luar" ajak Wulan.


"ibu-ibu makasih ya udah mau nemenin suami saya bikin rujak. Maaf sekali sudah merepotkan" ucap Wulan merasa sungkan.


"aduh, dokter Wulan ngga usah sungkan. Kami seneng kok bisa bantu dokter dan suami, apalagi kan kami ngga keluar apapun cuma nemenin rujakan aja. semoga kandungan dokter Wulan sehat-sehat terus sampai saat nya nanti lahir"


"aamiin... makasih ya ibu-ibu"


Wulan memperhatikan beberapa ibu-ibu yang sudah kembali ke rumah nya masing-masing. Setelah itu ia mengajak Zaifa dan Raihan masuk. sedang Rama membawa mobil nya yang terparkir di pinggir jalan ke halaman rumah.


Sementara Niel sudah bermain dengan sang keponakan. Niel rebahan di sofa sedang Rara ikut tiduran di atas dada Niel. Sesekali Rara akan mengelus pipi Niel hingga kemudian kedua nya sama-sama terlelap.


"ya ampun, kangen sama uncle Niel cuma buat kasur aja ternyata" seru Zaifa menggeleng kan kepalanya.


"biarin aja dek, kita ke dalam ya bantuin kakak masak. Lagi pengen makan bakso buatan sendiri"


Zaifa mengangguk, ia mengekor di belakang Wulan menuju dapur. Raihan dan Rama pun juga meninggalkan Niel dan Rara menuju ke depan untuk sekedar mengobrol dengan para pekerja.


***


Malam hari telah tiba, di kediaman mama Niken sudah ramai orang-orang yang akan ikut serta dalam acara pertunangan Rama dan Patricia. Mereka sengaja berkumpul di rumah mama Niken karena rumah itu yang jarak nya lumayan dekat dari rumah tuan Hadi.


dokter Nana pun ikut serta dalam rombongan itu, karena bagaimana mungkin Rama adalah sahabat dari sang keponakan dan menantu nya.

__ADS_1


Rama berada di kamar tamu bersama ketiga sahabat nya. Dengan jas hitam limit dan celana sepadan serta kemeja putih sebagai dalaman nya Rama terlihat sangat tampan dan mempesona. Di antara keempat sekawan memang hanya Rama yang belum menikah.


"akhirnya siap melepas masa lajang juga ni anak" seru Dani merangkul bahu Rama.


"doain ya, jujur masih ada rasa takut Dan, takut kalau seandainya perusahaan kembali oleng dan kemudian Patricia...."


"sssttt,,, kamu harus berpikir positif Ram. ngga semua wanita seperti itu. Meskipun Patricia terbiasa hidup mewah sejak masih dalam kandungan tapi aku yakin didikan tuan Hadi bukan lah didikan receh" sahut Raihan.


"thanks ya, kalau bukan karena kalian aku ngga akan ada di posisi seperti ini" ucap Rama memandang ketiga sahabat nya dengan mata berkaca-kaca.


Mereka pun akhirnya berpelukan, persahabatan yang sudah terjalin lama membuat mereka berlaku seperti saudara. Dulu ketika sang ayah baru saja meninggal dan ibu nya meninggalkan dia seorang diri hanya ketiga sahabat nya lah yang mau menemani dirinya disaat terpuruk.


Support system dan motivasi yang di berikan ketiga nya bukan kaleng-kaleng. Mereka bahkan mengumpulkan uang jajan mereka akan bisa mendongkrak kembali perusahaan ayah Rama yang berada di ambang kebangkrutan.


Berkat bantuan Niel, Boby dan Dani akhirnya perusahaan itu sedikit-sedikit kembali berkembang dan akhirnya sampai sekarang tetap berdiri kokoh.


"udah siap Ram?" tanya Tante Niken menghampiri keempat pria itu.


"kau sangat tampan nak, kau yakin dengan pilihan ini kan?" tanya mama Niken menyentuh pipi Rama.


Rasa haru kembali menyeruak, wanita yang masih terlihat cantik meskipun usianya yang hampir mendekati 50 tahunan itu pun punya andil yang besar dalam hidup nya. Rama memeluk mama Niken erat seperti seorang anak kepada sang ibu.


Dani, Boby dan Niel membiarkan Rama mengeluarkan perasaan nya kepada wanita yang sudah di anggap nya sebagai ibu nya itu. Mereka bertiga pun memilih keluar dari kamar.


Mama Niken menepuk lembut pindah pria yang tinggi nya jauh di atas nya itu.


"doain Rama ya Tante, semoga Rama bisa menjadi pria yang bertanggung jawab dan bisa membahagiakan Patricia kelak"


Mama Niken menangkup kedua pipi Rama kemudian membawa nya mendekat dan mengecup kening Rama.


"pasti. Tante pasti akan mendoakan yang terbaik untuk dirimu. sekarang kita keluar karena takut macet dan kita akan terlambat"

__ADS_1


Mereka pun akhirnya keluar dan menghampiri semua orang yang sudah menunggu di halaman.


***


Di kediaman tuan Hadi, ruang tamu sudah di seting menjadi ruang lamaran. sofa yang biasanya ada di ruang itu dikeluarkan karena konsep pernikahan yang di inginkan sang putri adalah lesehan.


Di kamar pribadi Patricia, gadis itu sedang di dandani oleh seorang MUA. Wajah yang sudah cantik bertambah cantik dengan make up tipis-tipis yang membuat wajah nya terlihat fresh.


Gaun kebaya berwarna hijau dengan rok lilit membuat tubuh langsing nya terbentuk sempurna. Di lehernya ada kalung berbentuk hati pemberian dari Rama ketika melakukan lamaran pribadi beberapa bulan lalu.


"sempurna!" seru sang MUA.


Patricia membuka matanya dan menatap kagum bayang dirinya dalam cermin.


"ini beneran aku mbak?" tanya Patricia tak percaya.


"iya, mbak cia sangat cantik.. saya yakin mempelai pria akan semakin terpesona oleh kecantikan mbak Cia"


Mendengar itu Patricia tersipu. Ia jadi membayangkan bagaimana ekspresi Rama nanti ketika melihat dirinya.


ceklek...


Patricia dan MUA itu menoleh, Patricia tersenyum mendapati sang papa menghampiri dirinya. Tak mau mengganggu kebersamaan anak dan papa itu sang MUA pun pamit undur diri.


tuan Hadi menatap sang putri yang malam ini terlihat sangat cantik, tuan Hadi menangkup wajah Patricia kemudian mengecup kening nya lama. Tak terasa air matanya terjatuh namun ia segera menghapus nya.


"papa nangis?" tanya Patricia.


"papa hanya bahagia, akhirnya papa melihat putri satu-satunya papa akan bertunangan dan sebentar lagi menikah. Putri papa sudah dewasa rupa nya"


"papa!!"

__ADS_1


Patricia menghambur ke pelukan sang papa. Dan air mata tuan Hadi semakin mengalir. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di hati Patricia mengenai sikap papa nya. Mengapa papa nya terlihat begitu sedih padahal ia baru akan bertunangan. Rencana pernikahan pun baru akan di gelar dua Minggu lagi sesuai permintaan sang papa.


__ADS_2