SETELAH DI CERAI

SETELAH DI CERAI
bab 89


__ADS_3

"Wuulaaaannn!!!!" teriak dokter Nana memanggil sang putri.


Tak lama Wulan datang dengan tergopoh-gopoh sekaligus heran. sebab baru kali ini sang mama memanggil dengan intonasi yang tinggi.


"ada apa ma? Mama nggak apa-apa kan??" tanya Wulan khawatir.


"maaa,, mama pusing?" tanya Wulan lagi ketika melihat sang mama memijat pelan pelipis nya.


"ma, jawab dong. jangan bikin Wulan khawatir"


Dokter Nana menghembuskan nafas kasar kemudian menatap Wulan.


"ya, mama pusing. pusing banget" jawab dokter Nana.


"kenapa kamu ngga bilang kalo Niel mau ngelamar kamu malam ini??" hanya dokter Nana dengan kesal.


"ini sudah hampir senja dan keluarga Dani akan datang pukul delapan malam. Sementara di rumah kita belum ada persiapan sama sekali Wulan. gimana mama ngga pusing" ucap dokter Nana.


"hah? Serius??" tanya Wulan.


Dokter Nana mengernyit, tak mengerti maksud putri nya.


"iya. Bukan nya kamu yang minta di lamar hari ini. dan kamu justru ngga bilang sama mama"


"ta-tapi... Waktu itu Wulan cuma...."


"apa???"


Wulan menggeleng, dia ingin di lamar sebab ia terlalu terbawa suasana melihat adegan romantis antara Rama dan Patricia. Tak di sangka Niel menanggapi dengan serius permintaan nya.


"Wulan? Nak.??" panggil dokter Nana menggoyangkan lengan Wulan.


"mama!!! Aduh gimana dong. Mana Wulan belum perawatan. Aduh, gimana wajah Wulan ma... Gimana ini ma, waktu nya mepet banget. Wulan belum milih gaun, belum dandan. Aduh mama!!!!" ucap Wulan panik.


"kamu cepat hubungi teman kamu yang bisa melakukan perawatan cepat dua jam aja. Mama mau hubungi teman-teman mama untuk urusan hidangan dan catering"


Wulan mengangguk, ia segera berlari menuju kamar dan mengambil ponsel ia menghubungi teman nya yang memiliki salon. Beruntung itu adalah teman baik, jadi dia langsung menuju rumah Wulan dengan kedua karyawan nya.


Sementara dokter Nana sibuk menghubungi teman-teman nya. Ia meminta tolong kepada temannya yang seorang MUA sekaligus penata dekorasi acara pernikahan dan lamaran. Orang itu langsung menuju rumah dokter Nana. Setelah urusan riasan dan dekorasi selesai dokter Nana menghubungi temannya yang memiliki kedai kue, ia meminta agar temannya mengantar semua hidangan yang ada. Hal itu tentu saja di sambut antusias oleh pemilik kedai itu.


Untuk urusan makanan seperti nya dokter Nana akan menyuruh para pelayannya saja yang menyiapkan. Sebab jika meminta orang mungkin akan lama.


"Siti, tolong masak ayam panggang, opor ayam, sayur asem, sambel, tumis sayuran. Pokok nya apa aja lah. kamu siapin cepet. Mau ada tamu datang ke rumah kita"


"siap nyonya"


Pelayan bernama Siti itu langsung mengerahkan semua teman-temannya untuk memasak apa saja yang ada di kulkas dapur. Mereka bergerak cepat karena sesuatu perintah sang nyonya tamu itu akan datang pukul delapan malam.


karena kesibukan kesana kemari menghubungi orang-orang. Tak terasa waktu sudah mendekati Maghrib. Teman Wulan yang memiliki salon baru saja tiba. Ia langsung di sambut oleh dokter Nana yang sedang mengawasi para penata dekor.


"ayo, langsung masuk ke kamar Wulan aja. Kamu kan tau Net?"

__ADS_1


"iya Tante, Neta masuk dulu ya"


Dokter Nana mengangguk, ia kemudian memperhatikan kembali para penata dekor itu.


"ya ampun Wulan!!! kamu gi*laa ya, mendadak banget sih ngabarin nya. untung aja aku ngga sibuk" rutuk Neta yang baru masuk.


Wulan hanya meringis, sesungguhnya ia juga tak menduga hal ini.


"udah deh, kalian cepet siapin lulur yang terbaik yang udah saya siapin. Jangan lupa masker nya juga"


"siap Bu"


Mereka pun memulai ritual perawatan dengan cepat sebab waktu nya hanya satu jam saja.


***


"Niel!!!" teriak mama Niken memanggil sang putra.


Niel yang sedang bermain bersama sang keponakan dan adik nya pun saling pandang.


"kakak tuh di panggil mama" ucap Zaifa.


Niel mengangguk, ia menyerah kan Rara kepada Zaifa. Namun, Rafa justru menangis ketika Niel hendak pergi. Niel pun kembali menghampiri Rara.


"uncle mau nemuin Oma dulu ya, nanti uncle kesini lagi" ucap Niel lembut.


Seperti paham dengan ucapan Niel, Rara pun diam. Tak lama terdengar pintu terbuka dari arah kamar mandi.


Zaifa mengangguk, ia pun menidurkan Rara di ranjang mereka.


"mama mau mandi dulu ya sayang, Rara disini dulu sama papa" pamit Zaifa mengoceh pipi Rara kemudian beranjak.


"sayang nya papa lagi apa???" tanya Raihan.


Baby Rara terlihat tersenyum menanggapi pertanyaan sang papa.


"duhh,, gemes nya... Gemes banget sih"


Rara tersenyum lebar ketika pipi dan leher nya di ciumi oleh sang papa. Bocah kecil itu pun seperti merasa kegelian.


"yuk kita samperin uncle sama Oma"


Raihan pun membawa Rara turun untuk menemui sang mama mertua. Belum sempat Raihan turun ia sudah mendengar mama Niken mengomel. Dan ketika ia sampai di pertengahan anak tangga, ternyata Niel lah yang sedang di omeli oleh sang mama.


"ya ampun Niel,,, jadi bener kamu sama Wulan awal nya cuma bercanda?"


"y-ya... Gimana ma. Habis Niel kelewat seneng pas Wulan ngomong minta di lamar"


"kenapa ma?" tanya Raihan.


"kakak kamu ini bikin mama pusing, ya ampun."

__ADS_1


"kenapa?" tanya Raihan pada Niel.


Niel hanya mengangkat bahu nya acuh dan justru naik ke lantai atas.


"aku mau siap-siap dulu ya mama. Mama juga siap-siap gih."


Mama Niken hanya menggeleng kan kepalanya melihat kelakuan sang putra.


"ada apa sih ma?" tanya Raihan duduk di sofa keluarga.


mama Niken terlihat menghela nafas kasar kemudian duduk di samping Raihan dan membawa Rara pada gendongan nya.


"ternyata Wulan sama Niel ngga bener-bener Mateng buat bikin acara lamaran"


"maksudnya?"


"mereka cuma kebawa perasaan melihat Rama melamar kekasih nya"


"loh, jadi Rama udah tunangan?"


"tunangan secara berdua udah, tapi kalo secara resmi belum"


"kakak kamu ada-ada aja. Untung aja keluarga Nana tuh ngga marah-marah. Mereka bahkan tau kabar dari mama sebelum Maghrib tadi. Kalo seandainya mama ngga ngomong mungkin ngga ada persiapan apapun disana"


"astaga...."


"ada apa mas?" tanya Zaifa yang baru turun.


Ibu anak satu itu terlihat sangat cantik dengan balutan gamis brukat berwarna mocca dengan jilbab yang senada. Raihan bahkan sampai terpaku memandang ke arah sang istri.


"mas! Malu tuh"


Raihan terkekeh, ia mengecup pipi Zaifa yang duduk di antara Raihan dan mama Niken.


"kamu cantik" bisik Raihan.


Zaifa tersenyum dengan pipi yang sudah memerah.


"mama siap-siap dulu gih, aku tunggu sini"


Mama Niken memberikan baby Rara pada Zaifa kemudian masuk ke kamar yang memang berada di lantai satu.


setelah mama Niken masuk, Raihan pun menceritakan apa yang telah terjadi. Jika ternyata Niel dan Wulan awal nya hanya bercanda soal pertunangan ini.


"ada-ada aja emang Kakak kamu yang"


"teman kamu itu mas"


"iya deh, temen aku kakak ipar aku"


Zaifa dan Raihan terkekeh mendengar ucapan Raihan.

__ADS_1


__ADS_2