
"haii...." sapa seseorang menghalangi jalan Shila.
Shila mengernyit, wajah wanita di depan nya ini Tampak tak asing. Ia terdiam sebentar hingga kemudian ia melebarkan mata.
"kau putri dari pak Hadi bulan?" tanya Shila.
Wanita itu tersenyum, ingatan sekretaris dari pengusaha terkenal memang tidak bisa di ragukan.
"kau masih mengingatku rupa nya" ucap wanita itu bahagia.
"ada apa? Bukan kah tadi kau pergi bersama pak Hadi?"
"bisa kita bicara"
Shila melihat ke arah pergelangan tangannya, waktu makan siang sudah hampir habis. Pekerjaan nya menumpuk. Jika ia menerima ajakan perempuan itu sudah di pastikan ia akan lembur sendirian sampai menjelang malam. Dan tentu saja ia tak mau.
"maaf nona, sepertinya untuk saat ini Saya tidak bisa. Sebab saya harus menggantikan pekerjaan pak bos Niel dan saya tidak mau lembur nanti malam" jelas Shila.
perempuan itu menghela nafas, "baik lah, tak apa. Bagaimana jika nanti malam?"
Shila terdiam, ia menimbang akan menerima atau tidak. Namun, kemudian ia berpikir jika ia dekat anak dari klien nya mungkin kerja sama itu akan berlangsung. tapi, apa tujuan seorang putri pengusaha mengajak seorang sekretaris seperti Shila bertemu.
"saya usahakan nona, bisa saya meminta nomor telepon nona agar nanti saya bisa menghubungi nona"
Shila menyodorkan ponsel nya dan di terima oleh perempuan itu. perempuan itu mengetikkan angka dan juga menuliskan nama agar Shila tak bingung.
Patricia.
Shila tersenyum, tanpa bersusah payah ia bisa mendapat bonus dari Rama dan Niel sekalipun.
"baik nona, saya permisi. Waktu istirahat hampir habis"
Patricia memandang punggung Shila, ia menatap kagum ke arah perempuan berkaca mata itu.
"huh, sepertinya seru jika menjadi seorang sekretaris. aku harus bilang pada papa kalo aku ingin bekerja" gumam Patricia kemudian berlalu.
***
"ahh,, akhirnya waktu satu hari sudah berlalu" seru Niel merebahkan dirinya di sofa ruang tamu rumah Raihan.
"kau sudah pulang nak?" tanya mama Niken.
__ADS_1
Niel membuka matanya, ia tersenyum hangat pada wanita yang membawa segelas kopi hangat itu.
"iya" Niel meraih kopi itu dan menyesap nya.
Aroma kopi itu sangat menenangkan pikiran nya. Dan ketika menyesap minuman kafein itu, rasa lelah dan ngantuk langsung hilang.
"dimana adik mu"
"bocah itu di kamar. Huh, bagaimana bisa ia memiliki tenaga yang sangat banyak untuk berjalan kesana kemari memilih sesuatu yang pada akhirnya tak ia beli. apakah semua wanita seperti itu" sungut Niel.
Mama Niken mencubit pelan pinggang putra sulung nya itu.
"aw, kenapa mama mencubit ku" protes Niel.
"kau ini, baru di minta menemani adik nya seharian saja sudah mengeluh"
Niel hendak menjawab kembali ketika ia mendengar suara seseorang sedang berjalan ke arah nya.
"apa yang kau rasakan hari ini bahkan belum ada apa-apanya di banding aku Niel" ucap orang itu yang tak lain adalah Raihan.
Raihan meraih kopi milik Niel dan menyesap nya. setelah itu ia memandang sang kakak ipar.
"ya, tadi pagi Shila menelpon ku. tapi aku gagal mendapat izin dari istri mu sehingga aku tidak bisa menjenguk Rama"
"istri ku adalah adik mu"
"dan sayang nya kau benar"
Keduanya pun terkekeh. Memang semenjak kehamilan Zaifa, calon ibu anak satu itu sangat merepotkan. Terkadang merajuk tanpa sebab, terkadang meminta sesuatu di luar nalar. dan terkadang manja dan seperti tak butuh apapun, namun sekejap kemudian ia akan marah-marah tidak jelas.
"apakah kalian membicarakan aku?" tanya Zaifa dengan tatapan tajam nya.
Niel dan Raihan terdiam. Mereka hanya berharap pembicaraan mereka tadi tidak di dengar oleh Zaifa.
"mana mungkin sayang, Niel hanya bercerita jika menemani mu berbelanja sangat menyenangkan. dan Niel tak keberatan jika seandainya besok atau kapan-kapan kau meminta nya menemani mu lagi" jelas Raihan.
Niel melotot, sementara Raihan melirik Niel dengan tatapan mengejek. Sedangkan Zaifa berbinar dan langsung melihat ke arah Niel yang wajah nya sudah di buat semanis mungkin dengan senyuman menghias bibir nya.
"benar itu kak?"
"ya tentu saja, apapun untuk adik ku yang tersayang" ucap Niel, meskipun batin nya tertekan.
__ADS_1
"aah, kakak memang yang terbaik. semoga saja kakak berjodoh dengan kakak cantik yang tadi siang. Karena cocok dengan nya" ucap Zaifa polos.
Niel terdiam, sementara Raihan memandang Niel dengan mata memicing.
"apakah tadi siang kak Niel bertemu dengan seorang wanita sayang?" tanya mama Niken.
Zaifa melihat ke arah sang mama kemudian mengangguk kan kepalanya sembari tersenyum.
"iya ma, kakak tadi itu cantik, ramah lagi. Cocok deh sama kakak yang dingin ini" celoteh Zaifa.
"aku mau ke rumah sakit dulu ma, mau menjenguk Rama" pamit Niel.
Rasanya ia ingin memiting kepala sang adik seandainya saja Zaifa tidak sedang hamil. Namun, sebagai kakak yang baik lebih baik ia pergi daripada harus jadi bulan-bulanan adik nya sendiri.
"mau menjenguk kak Rama atau mau ketemu kakak cantik tadi kak?" tanya Zaifa dan di abaikan oleh Niel.
"hei Niel, Rama sudah pulang ke rumah nya tadi sore" teriak Raihan yang entah di dengar atau tidak oleh Niel.
"sayang, beneran tadi Niel ketemu sama cewek?" tanya Raihan.
Mama Niken pun mendekat ke arah Zaifa, ia ingin mengorek informasi dari anak perempuan nya yang polos dan jujur ini.
"tadi kamu bilang kakak mu mau ketemu perempuan tadi di rumah sakit? Memang nya ia bekerja di rumah sakit?" tanya sang mama.
"iya mama. Kak Niel itu tadi ketemu sama cewek cantik, pake jas dokter. Mereka ngobrol lama banget pas tadi Zaifa lagi makan siang di resto mall. Mereka tuh kayak akrab banget, nama nya tuh siapa ya????" jelas Zaifa sembari mengingat nama gadis yang tadi siang.
"dia kerja di rumah sakit tempat Rama di rawat tadi?" tanya Raihan.
"iya mas, kakak nya tuh kerja di rumah sakit Medika." jelas Zaifa.
Raihan terdiam, jika di rumah sakit Medika hanya ada satu dokter yang masih gadis dan itu....
Raihan melihat ke arah sang mertua dan ternyata mertuanya juga melihat ke arah nya. mungkin kah pikiran mereka sama.
Sedangkan Zaifa masih mengetuk-ngetuk kan telunjuk nya di dahi persis seperti seseorang yang sedang mengingat sesuatu.
***
Malam sudah menunjukkan waktu nya. Jam makan malam telah lewat satu jam yang lalu. Pukul delapan Shila bersiap keluar dari kost an menuju cafe yang ada di dekat kost-kostan nya.
Dengan mengendarai motor matic milik nya, Shila menuju cafe yang ketika malam ramai oleh anak muda. dan seperti tebakannya, cafe itu sudah ramai dan sesak. ia mengedarkan pandangan nya dan seseorang melambaikan tangan ke arah nya. Shila tersenyum kemudian menghampiri orang itu.
__ADS_1