SETELAH DI CERAI

SETELAH DI CERAI
bab 77


__ADS_3

"sayang... Akhirnya kamu bangun juga" ucap Raihan dengan mata berkaca-kaca.


Zaifa menoleh dan menatap sekeliling, ada mama dan Kakak nya, serta Boby dan Diva.


"anak ku mas?" tanya Zaifa.


Niel berjalan ke arah box dan menggendong bayi merah yang kembali memejamkan matanya setelah menangis tadi. Niel membawa bayi kecil itu menemui mama nya.


"kau ingin minum sayang?" tanya Raihan.


Zaifa mengangguk, ia memang merasa sangat haus seperti tak minum beberapa hari. Zaifa mungkin belum sadar bahwa ia baru terbangun dari tidur panjang nya. Raihan membantu Zaifa meminum segelas air. Tak sampai habis hanya beberapa teguk saja.


"aku ingin menggendong nya kak"


Niel menyerahkan bayi itu kepada Raihan, kemudian dengan di bantu Raihan Zaifa menggendong putri kecil yang di lahir kan nya kemarin.


"dia sangat mirip dengan mu mas. Lihat lah hidung dan bentuk alis nya." ucap Zaifa memperhatikan putri yang sedang terlelap itu.


"tapi dia sama cantik nya seperti dirimu sayang" ucap Raihan mencium pucuk kepala Zaifa.


Tiba-tiba bayi itu menggeliat dan membuka matanya. Zaifa tersenyum melihat hal itu, memiliki bayi adalah impian nya sejak pernikahan dengan imam dulu. Dan sekarang impian nya terpenuhi. Bayi mungil itu berkedip, Zaifa tau bahwa putri nya masih belum bisa melihat dengan jelas karena memang penglihatan bayi yang baru lahir masih blur dan tidak jelas. tapi bayi itu samar-samar sudah bisa mendengar sesuatu.


"dia sangat manis mas"


Zaifa menciumi seluruh wajah mungil itu karena ia gemas sekaligus senang. Akhirnya setelah ini ia akan menikmati peran nya sebagai ibu.


"baiklah kalo begitu kami permisi dulu, putra kami di rumah bersama nenek nya" pamit Boby.


Boby tak ingin mengganggu momen keluarga sahabat nya itu.


"ya, hati-hati di jalan" ucap Niel menepuk bahu Boby.


"hati-hati Div, jangan lupa nanti kenal kan putra mu pada putri ku" ucap Zaifa terkekeh.


Diva ikut terkekeh, bau-bau perjodohan sejak bayi seperti nya akan terjadi. Diva maju dan memeluk singkat Zaifa.


"lekas sembuh Zai, jangan lupa kabari jika kau sudah kembali dari rumah sakit" ucap Diva.


Boby dan Diva pun keluar dari ruangan, tak lama setelah itu hanya berselang lima menit. pintu kembali di buka, kali ini Rama, Patricia dan pak Hadi yang datang. hal itu langsung di sambut oleh Niel.


"selamat siang tuan Niel" sapa pak Hadi.

__ADS_1


"selamat siang tuan, silahkan duduk" ucap Niel.


"hei Zai, bagaimana keadaan mu?" tanya Rama.


"sudah lebih baik kak" jawab Zaifa.


"apakah ini calon kakak ipar ku?" tanya Zaifa dengan wajah menggoda Rama.


Rama melihat ke arah Patricia, kemudian tersenyum tipis. Sejak malam itu entah mengapa perasaan nya ingin selalu dekat Patricia. Padahal sebelumnya ia selalu membentengi dirinya dengan prinsip tak akan mengenal wanita mana pun lagi.


"baik lah, silah kan duduk kak." ucap Zaifa mengalihkan pembicaraan.


Rama pun berlalu menghampiri Niel dan tuan Hadi yang duduk di sofa. Sementara Patricia hanya memandang sendu ke arah punggung Rama dan itu di lihat oleh Zaifa. Zaifa pun menyenggol lengan sang suami dan memberi kode lewat mata. Raihan paham dengan hal itu, seperti nya nanti ia harus berbicara empat mata dengan Rama.


"kak, kau tak ingin melihat bayi ku?" tanya Zaifa.


"seharusnya kau tak perlu memanggil ku kak karena umur ku ada di bawah mu" ucap Patricia terkekeh.


"heee,, tak apa. Rasanya tidak sopan jika memanggil calon kakak ipar dengan sebutan nama"


Patricia hanya tersenyum tipis, meskipun dalam hatinya ia juga berharap bahwa Rama mau menjadi kekasih nya tapi ia tetap tak boleh berharap lebih. Sebab hingga saat ini hubungan keduanya masih mengambang. Tak pernah jadian, namun selalu dekat.


"putri mu sangat cantik" puji Patricia.


"mas" panggil Zaifa.


"ya sayang"


"aku lapar" ucap Zaifa memandang Raihan dengan tatapan Popy eyes.


Raihan mencubit pipi Zaifa dengan gemas. Sangking bahagia nya dia karena Zaifa telah sadar hingga lupa bahwa istri belum makan sejak kemarin karena kritis.


"kau ingin makan sesuatu?"


"aku ingin makan bubur kacang hijau saja"


"kau tak ingin makan nasi?"


Zaifa menggeleng, Raihan pun kemudian berlalu menuju ke arah kantin untuk membeli bubur kacang hijau. Selepas kepergian Raihan, Dani dan Fatma datang. Fatma tersenyum lebar ketika tau bahwa Zaifa sudah sadar.


"Zaifa... Ya ampun akhirnya kamu bangun juga" seru Fatma menghampiri Zaifa.

__ADS_1


Dani tersenyum tipis dan membiarkan sang istri melepas rindu dengan Zaifa. Dani memilih menghampiri para pria dan meletakkan bawaan nya di meja.


"kau mau minum nak?" tanya mama Niken.


"tidak Tante, aku masih kenyang" ucap Dani.


Mama Niken mengangguk dan menghampiri putri nya untuk mengambil alih sang cucu.


"sayang, bawa sini cucu mama. ingat bahwa jahitan di perut mu masih basah"


Zaifa tersenyum dan memberikan sang putri pada mama nya untuk di tidur kan kembali di box.


"hei, kau bukan nya kekasih Rama?" tanya Fatma.


Patricia menoleh dan tersenyum miris. kekasih? sejak kapan.


"bukan mbak. Sebenarnya hubungan ku dengan Rama masih belum jelas. Memang Rama sudah tak dingin lagi tapi di antara kami masih ngambang" jawab Patricia.


Zaifa dan Fatma saling lirik kemudian menatap sendu ke arah Patricia.


"kalian udah makan belum?" tanya Fatma.


"kebetulan tadi mampir di rumah makan terus aku beli salad buah."


"wah, aku mau dong kak"


Fatma tersenyum kemudian mengambil kresek yang tadi di letakkan di meja oleh Dani. Fatma membuka kresek itu dan mengambil dua box kecil berisi salad buah dan memberikan nya pada Patricia dan Zaifa.


"terima kasih" ucap Patricia dan Zaifa bersamaan. Dan Fatma hanya tersenyum.


Sementara di sofa sana. Para pria sedang menikmati kopi kaleng yang memang sengaja di beli oleh mama Niken untuk teman begadang tadi malam.


"maaf tuan, saya tidak bisa menghadiri meeting untuk yang lalu ataupun sekarang" ucap Niel.


"tak masalah tuan, bagaimana pun juga urusan keluarga lebih penting" jawab tuan Hadi.


Mereka yang ada di ruangan itu mengobrol dengan hangat. Sudah seperti keluarga, tapi tanpa mereka sadari ada satu hati yang perasaan nya berkecamuk.


***


Di bandara, tampak seorang pria berjalan dengan wanita paruh baya. Mereka baru saja datang dari luar kota setelah hampir setahun mereka pergi dari kota kelahiran mereka.

__ADS_1


'bagaimana kabar mu Zai...' batin pria itu.


Ia pun segera masuk ke dalam taksi yang sudah di pesan nya.


__ADS_2