
Shila terdiam. Ia menatap manik mata Alex. Terlihat sebuah ketulusan dalam binar mata pria itu. Hubungan mereka sudah terjalin tiga tahun silam. tapi baru sekarang bos mereka mengendus hubungan mereka.
Antara Alex dan Shila memang patut di acungi jempol sebab kedua nya sama-sama bisa bersikap profesional meskipun sebenarnya memiliki hubungan spesial. Bahkan mereka kerap kali terlibat pembicaraan karena memang bos mereka memiliki hubungan persahabatan. Tapi tak sedikit pun mereka menunjukkan bahwa mereka memiliki jalinan kasih.
"kamu serius?" tanya Shila.
"aku serius sayang, aku udah ngga bisa nahan diri buat nunda nikahin kamu. Apalagi ketika nyonya Zaifa dan tuan Raihan memiliki bayi. rasanya aku juga ingin memiliki bayi tentunya bersama mu. Maka dari itu mari kita menikah?"
Shila tersenyum, ia memang mendengar kabar tentang adik bos nya yang telah memiliki seorang putri cantik. tapi Shila tak menyangka kalau kehadiran keponakan sang bos nya membuat Alex jadi ingin meresmikan hubungan mereka ke jenjang pernikahan.
"kamu mau kan nikah sama aku?"
Shila mengangguk kemudian tersenyum. Alex ikut tersenyum melihat itu. Mata mereka saling bertatap dan kedua nya saling mendekat. Semakin dekat hingga.....
***
"Patricia jangan lagi menghindar dari aku!!!" seru Rama menahan pergelangan tangan Patricia.
Patricia menatap sinis ke arah Rama kemudian berbalik menatap Wulan yang sudah berjalan jauh bersama Niel.
"kau sekongkol dengan Niel?"
Rama mengendikan bahu nya. Memang ia bekerja sama dengan Niel untuk menghampiri kedua gadis mereka masing-masing. Rasanya hidup Rama tak terasa tenang akhir-akhir ini ini. Ia selalu terbayang dengan wajah Patricia dan hanya bisa menebak jawaban apa kira-kira yang akan Patricia berikan.
tanpa mengucapkan apapun Rama tiba-tiba memeluk Patricia membuat tubuh gadis itu menegang. Patricia tak memberontak namun juga tak membalas pelukan Rama. Ia hanya merasakan hangat nya dekapan seorang Rama.
"bagaimana dengan pertanyaan ku waktu hem?" tanya Rama memandang wajah Patricia.
"pertanyaan apa?" tanya Patricia tak mengerti.
Rama berdecak kesal, memang seperti ini lah wanita. Ia yakin Patricia tahu dengan jelas pertanyaan apa yang di maksud oleh Rama. Tapi gadis itu hanya sedang pura-pura lupa.
"kamu mau nikah sama aku?" tanya Rama memandang lekat manik mata Patricia.
"kenapa mas? kenapa?"
Rama mengernyit, ia merasa heran dengan tanggapan Patricia.
"kenapa kamu ngga bilang kalo sebenernya kamu punya rasa trauma sama kehidupan rumah tangga yang menimpa orang tua mu?! Padahal kalo kamu ngomong aku bisa dengan pelan-pelan memahami dirimu" ucap Patricia lantang.
Beruntung keadaan mall sudah sepi atau memang di buat sepi. karena sejak Patricia dan Wulan keluar dari area restoran. Mall itu sudah tak nampak orang-orang.
"aku...."
"ketika kamu ngga mau cerita sama aku, itu berarti aku belum masuk jadi bagian hidup kamu. karena kamu belum mau berbagi sesuatu sama aku" ucap Patricia lirih.
__ADS_1
Rama menggeleng, ia merasa sakit melihat Patricia menangis. Ia juga tak menyangka Patricia begitu tulus pada nya. Salah kan kepada dirinya sendiri yang memiliki ego tinggi dan merasa paling tersakiti karena luka masa lalu.
Rama merengkuh tubuh Patricia, ia menciumi puncak kepala Patricia sembari mengucapkan seribu maaf. Bahkan air mata ikut terjatuh di pipi Rama.
"maafin aku.. Aku ngga bermaksud kayak gitu. Aku cuma ngga mau mengungkit luka masa lalu aja" jelas Rama.
"please, maafin aku. mari kita mulai semua dari awal. Tolong jangan menghindar dari aku lagi, jangan abaikan aku"
"maaf aku ngga bisa" ucap Patricia melepas kasar pelukan Rama.
Rama terpaku, ada rasa sesak di dada nya. Seperti inikah rasanya di tolak. Ia menatap Patricia dengan tatapan nanar. Ia memandang Patricia yang kembali mendekat ke arah nya.
"kalo langsung nikah aku mau" ucap Patricia lirih namun mampu di dengar oleh Rama.
Rama tersenyum lebar. Sementara Patricia sudah menyembunyikan wajah nya di dada bidang Rama. Rama membalas pelukan itu dengan hati bahagia. Akhirnya, akhirnya kesabaran nya terbayar dengan rasa bahagia.
"kamu kapan ngelamar aku?" tanya Wulan tanpa sadar.
Niel melihat ke arah sang kekasih yang masih asyik memandangi dua sejoli di bawah sana.
"besok juga boleh" jawab Niel tersenyum.
"bener ya?"
"iya sayang"
"yuk pulang, udah malam"
Wulan mengangguk, mereka pun berjalan dengan bergandengan tangan. Sementara membiarkan Rama dan Patricia menikmati waktu mereka.
***
Niel sampai rumah tepat ketika waktu menunjukkan tengah malam. setelah mengantar sang kekasih ia langsung pulang ke rumah.
"maa..." teriak Niel di depan pintu sang mama.
"mama!!" seru Niel lagi sambil mengetuk pintu.
"ada apa Niel?" tanya Raihan yang sepertinya baru dari arah dapur karena di tangan pria itu terdapat botol su*u.
"mama udah tidur?"
"udah. Baru aja. kenapa? jangan di ganggu deh, kasian. baru aja mama selesai menggarap desain pesanan klien sama Santi" ucap Raihan.
"emang kenapa sih?" tanya Raihan yang melihat wajah tak sabar Niel.
__ADS_1
"Rara bangun?" tanya Niel.
Raihan mengangguk, melihat Niel berjalan ke arah nya Raihan pun bergegas masuk ke kamar nya.
"loh,, ponakan uncle kok belum tidur?" sapa Niel kepada keponakan kecil nya itu.
"kebangun uncle" jawab Zaifa yang sedang mengganti popok Rara.
"nakal ya jam segini ganggu mama sama papa" seru Niel menjawil hidung kecil Rara.
Seperti menanggapi ucapan sang paman, bayi berusia satu bulan lebih itu tersenyum sembari memainkan tangan nya ke atas.
"mau ngajak uncle main?"
Rara hanya tersenyum, sementara Niel menggeleng kan kepalanya.
"ngantuk dek?" tanya Niel pada Zaifa.
"ngantuk kak, tapi seneng. Walaupun ngantuk kalo lihat Rara melek jadi ngga bisa tidur" jawab Zaifa.
"ini sayang minum dulu" ucap Raihan menyerahkan segelas wedang jahe bercampur madu kepada Zaifa.
"ini untuk putri papa yang masih tahan melek di saat udah tengah malam" ucap Raihan.
Rara pun tersenyum dan segera menyedot rakus dot berisi su*u yang di berikan oleh Raihan.
"utututu..... Haus ternyata putri mama" ucap Zaifa mencium pipi gembul sang putri.
Niel tersenyum melihat pemandangan itu. Ia berharap adik nya akan selalu bahagia bersama keluarga kecil nya. Tak mau mengganggu Niel pun pamit hendak ke kamar nya.
"jangan begadang dek, ngga baik. Kalo kau begadang mending suruh Raihan aja. Kakak mau ke kamar dulu"
Mendengar itu Zaifa mengangguk sementara Raihan mendengus.
***
"mas, tiba-tiba aku pengen makan nasi kuning buatan Tante Niken"
"hah!!"
"ayo lah mas, aku pengen banget makan itu"
"yang lain aja deh sayang"
"emmmm,, nggak mau. tetep mau itu" rengek Fatma.
__ADS_1
Fatma memandang wajah Dani dengan mata berkaca-kaca. Entah apa yang terjadi pada istrinya akhir-akhir ini. Fatma selalu meminta permintaan di luar nalar.