
"mang!!" seru seseorang dari belakang mamang.
mamang yang sering di sapa mang Asep itu pun menoleh dan mendapati seorang wanita setengah baya di belakang nya.
"eh kamu wi, udah Dateng. Baru aja tuh kamu di cariin sama orang?"
Wanita itu mengernyit heran, ia tak mengenal siapa pun disini selain mang Asep pemilik warung makan ini dan ibu-ibu pemilik kontrakan yang ia sewa.
"nyari saya mang? Siapa?"
"ada, cewek. masih gadis kayak nya. cakep juga kok. Dia itu kerja di butik milik nyonya Niken, yang terkenal itu loh"
Wanita itu semakin heran, ada keperluan apa seorang gadis mencari nya.
"mamang tau siapa nama nya?"
"emm,,, bentar mamang ingat-ingat dulu"
Mang Asep pun diam seperti mengingat sesuatu terlihat dari kening nya yang mengerut. hingga kemudian ia berbinar ketika mengingat sesuatu.
"iya namanya nya Sa......"
"mang, pesen soto ayam kampung ya lima porsi" seru seseorang membuat mang Asep menoleh.
"ya udah mang, nanti aja bicara lagi. Sekarang mamang layani aja dulu itu udah banyak yang nunggu"
Akhirnya mang Asep membuat pesanan dan melayani pelanggan yang ternyata sudah banyak menunggu. Dengan di bantu oleh wanita tadi mereka pun bersama-sama melayani pembeli.
Banyak nya pelanggan yang datang, di tambah dengan cucian mangkuk dan piring membuat kedua nya melupakan pembicaraan mereka tadi pagi. Hingga ketika malam hari menjelang warung tutup mang Asep menepuk dahi nya pelan.
"aduh gimana bisa lupa, mana si Dewi udah pulang" gumam mang Asep.
Mang Asep pun menutup warung dan setelah selesai ia pun pulang ke rumah kecil yang tak jauh dari lokasi warung nya.
Sementara wanita yang di panggil Dewi baru saja selesai membersihkan diri dan duduk di kursi makan.
"yahh,, jadi kelupaan deh siapa nama gadis yang nyariin aku" gumam Dewi.
***
"Patricia!!!"
Gadis yang memakai rok span di bawah lutut dan blazer ala-ala gadis Korea itu menoleh dan mendapati lelaki yang terakhir kali di lihat nya ketika di rumah Zaifa. Patricia diam di tempat menunggu pria itu menghampiri nya.
"kamu habis belanja?" tanya pria itu yang tak lain Rama.
Patricia menggeleng tak berniat menjawab dengan suara. terdengar helaan nafas dari Rama. Semenjak terakhir kali mereka bertemu Patricia sama sekali tak menjawab telepon nya atau pun sekedar membalas pesan singkat nya. Bahkan ketika Rama sengaja mampir ke rumah gadis itu, selalu saja tidak ada.
"ngapain disini?"
"aku....."
"Ciaa!!!!"
Kedua nya menoleh menatap sumber suara yang memanggil Patricia. Tampak dokter Wulan menghampiri kedua nya.
"kamu kenal sama dia?"
Patricia mengangguk, ia tersenyum ramah kepada wanita yang baru datang menghampiri nya itu.
"loh, kamu ngajak Rama? Tau gini aku juga ngajakin Niel tadi" ucak dokter Wulan cemberut.
__ADS_1
"enggak kok, kita ngga sengaja ketemu" jelas Patricia.
"kalian mau kemana?" tanya Rama.
"nonton" jawab dokter Wulan.
"boleh ikut?" tanya Rama memandang Patricia berharap gadis itu mengangguk mengiyakan.
"bole......"
"ngga boleh, ini girls time. Boy ngga boleh ikutan" sahut Patricia sebelum dokter Wulan menjawab.
"yuk"
Patricia menggeret lengan dokter Wulan dan membawa nya masuk ke mall menuju ruang menonton bioskop. Sementara Rama hanya tersenyum tipis membalas lambaian tangan Wulan.
setelah kedua gadis itu tak terlihat akhirnya Rama memilih pergi. Ia berniat datang ke rumah Niel untuk mengunjungi wanita kecil Raihan, ia sengaja mampir ke mall untuk membelikan boneka mungil serta mainan untuk bayi Raihan.
***
"hai baby Rara...." sapa Rama yang baru saja tiba di halaman rumah mama Niken dan melihat Zaira sedang di gendong oleh bik Surti.
"hai om ganteng" balas bik Surti.
"Raihan ke kantor bik?" tanya Rama.
"iya den, tuan muda udah berangkat tadi. Katanya ada rapat penting" jawab bik Surti.
Rama pun mengangguk, ia meletakkan bawaan nya di kursi yang ada di sebelah bik Surti.
"sini biar aku gendong bik" ucap Rama.
Bik Surti pun memberikan bayi kecil itu kepada Rama. Setelah melihat posisi bayi itu nyaman pada Rama bik Surti pun pamit ke dalam sebentar.
"bibik tinggal ke dalam dulu ya den. Aden mau minum apa?"
"es cappucino aja bik"
Bik Surti mengangguk dan masuk ke dalam. sampai di rumah ia pun berpapasan dengan Zaifa yang membawa segelas su*u kedelai dengan sepiring gorengan bakwan dan tempe mendoan.
"loh, Rara sama siapa bik?" tanya Zaifa.
"non kecil sama den Rama non, kebetulan den Rama datang kesini"
"oh, ya udah kalo gitu. Bibik mau bikinin kak Rama minum?" tanya Zaifa.
"iya den"
Zaifa mengangguk, ia pun berlalu ke depan menghampiri tamu yang pagi-pagi sudah datang.
"kak Rama ngga ke kantor?" tanya Zaifa.
"enggak. Hari ini biar di ambil alih sama kakak kamu sama Dani"
Zaifa mengangguk, ia duduk di bangku yang berjarak agak jauh dari Rama. ia melihat bayi nya begitu anteng di gendong oleh Rama.
"gorengan kak" tawar Zaifa kepada Rama.
"iya."
Zaifa mengunyah bakwan sayur yang tadi di buat kan oleh pelayan nya. Ia memandang Rama yang terlihat sudah begitu cocok memiliki bayi sendiri.
__ADS_1
"kak Rama udah cocok loh punya sendiri" ucap Zaifa.
Rama menoleh, ia memandang wajah kecil Rara. Hatinya berdebar, bagaimana kira-kira rasanya memiliki seorang bayi sendiri.
"kak Patricia udah ngasih jawaban?"
Rama menggeleng, "bahkan chat sama telpon ku pun di abaikan"
"kak Rama kurang effort mungkin"
"maksud nya?"
"seorang wanita membutuhkan sebuah kepastian kak, aku dengar kak Pat belum pernah menjalin hubungan dengan pria mana pun. Jadi ketika kakak bersikap seolah menolak nya kak Pat udah sedikit trauma."
"tapi aku udah ngajak nikah?"
"tapi kakak ngga segera melakukan itu? Kakak ngga langsung melamar kak Pat"
"kalau di tolak?"
"kakak yakin ngga kalau kak Pat suka sama kakak?"
Rama mengangguk.
"pas kakak ngajak nikah, ada kak Pat menolak atau merajuk?"
Sekarang Rama menggeleng, ia ingat ekspresi Patricia saat itu justru tersenyum lebar.
"jadi kenapa kakak ragu? karena kak Pat belum ngasih jawaban?"
Lagi-lagi Rama mengangguk.
"wanita suka kejutan kak"
Rama terdiam. kejutan? Mungkin bisa di coba.
***
"kamu masih gitu aja sama Rama?" tanya Wulan.
Patricia mengangguk, sebenarnya ia sudah sangat merindukan lelaki itu. Tapi ia juga menjaga image untuk selalu jual mahal. sudah cukup saat itu ia mengemis kepada Rama.
***
"kemarin bos besar nanyain hubungan kita. Kamu ada ngasih tau sama pak Niel?" tanya Alex kepada Shila, kekasih nya.
"ihh,,, sama. pak bos juga nanyain hubungan aku sama kamu. aku pikir kamu yang sudah bilang ke pak Raihan" jawab Shila.
"aku ngga bilang kok" ucap Alex.
"aku juga enggak"
"terus siapa?"
"tapi emang kenapa sih kalo mereka tau? Kamu malu punya pacar kayak aku?" tanya Shila dengan mata berkaca-kaca.
"bukan. Aku takut kamu ngga nyaman. Aku takut kamu yang malu karena pacaran sama aku"
"enggak kok"
"jadi kapan kamu siap aku lamar?" tanya Alex.
__ADS_1