
Sesuai kesepakatan Santi dan Rafli, setelah mendengar nasihat Zaifa akhirnya kedua nya memutuskan untuk melaksanakan acara pertunangan terlebih dahulu sebelum melaksanakan pernikahan karena mereka berencana mencari keberadaan pak bewok terlebih dahulu.
Dengan balutan gaun sederhana Santi sudah di dandani oleh sang perias. Santi menginginkan acara tunangan yang private yang hanya di hadiri oleh keluarga Zaifa, Niel, dan juga sang ibu.
Ceklek...
Santi menoleh dan mendapati sang ibu yang sedang tersenyum sembari mendekat ke arah nya.
"kau cantik sekali sayang...." ucap Bu Dewi mencium kening Santi.
"terima kasih Bu..."
"semoga kamu selalu bahagia, ibu lihat Rafli sangat mencintai mu"
"insyaallah Bu.... Ibu setelah hari ini ibu tinggal sama Santi aja ya. Santi ngerasa kesepian dan ngga ada teman. Pasti ibu juga merasakan hal yang sama kan?" tanya Santi.
Bu Dewi diam, ia ingin dan sebenarnya sangat ingin berada dekat dan tinggal satu rumah dengan sang putri. tapi, teringat perlakuan nya dulu kepada Santi ia merasa sungkan. Meskipun Santi sudah melupakan hal itu tapi Bu Dewi tetap mengingat nya.
"ibu,,, lupakan masa lalu ya. kita mulai segalanya dari awal lagi. Aku ingin berada di dekat ibu seperti dulu" ucap Santi memeluk sang ibu.
Bu Dewi tersenyum mengelus lembut lengan Santi. Akhirnya ia pun mengiyakan permintaan sang putri.
"iya, mulai nanti malam ibu akan tinggal disini bersama putri cantik ibu."
Santi menatap sang ibu, akhirnya setelah setahun lebih berpisah mereka akan tinggal serumah lagi.
"terima kasih Bu"
"baiklah. Sekarang ayo kita keluar dan menyambut kedatangan calon suami mu"
senyum Santi merekah, ia pun keluar dengan menggandeng lengan sang ibu.
di ruang tamu kontrakan Santi, terlihat keluarga Zaifa dan keluarga Niel sudah hadir sebagai pihak Santi. mereka sedang berbincang ringan tanpa menyinggung kontrakan Santi yang terlihat sedikit sempit dan kecil.
Acara lamaran di laksanakan di ruang tamu, sofa yang tadi ada di situ di keluarkan karena memang ruangan nya terkesan kecil. Santi sengaja memilih kontrakan yang kecil karena ia merasa tidak tinggal bersama siapa pun jadi kontrakan itu cukup dirinya.
"maaf ya mbak kontrakan aku sedikit sempit" ucap Santi menatap Zaifa dan Wulan.
"tak apa San, tak peduli besar atau kecil karena yang terpenting adalah kenyamanan. lihat bahkan Rara merasa nyaman disini" jawab Zaifa.
__ADS_1
Santi menoleh menatap bayi yang usianya sudah satu tahun. Bayi itu terlihat asyik bermain sendirian. Tangan nya memukul tikar yang sengaja di gelar, tikar itu bergambar bunga-bunga dan entah apa yang lucu namun Rara begitu bahagia bermain di sana.
"kau tak perlu khawatir dek, kami semua nyaman disini" ucap Wulan mengelus lengan Santi.
"terima kasih kak"
Wulan mengangguk. Ia kemudian memandang sang keponakan yang sudah bisa berdiri tapi belum sanggup melangkah kan kaki.
"lihat lah bayi itu. Berlagak sekali ingin berjalan ya padahal usianya belum genap satu tahun" ledek Wulan namun justru membuat Rara tertawa.
"mama mama......"
"sini sayang" ucap Zaifa melambaikan tangan nya.
Rara pun duduk dan bersiap untuk merangkak. Namun bukan nya menuju ke arah Zaifa, Rara justru merangkak ke arah pintu. Bayi itu mencoba berdiri dengan berpegang pada kayu pintu. Bayi itu merambat menuju ke arah luar namun tak sampai ke luar. Sesekali bayi itu akan menengok ke arah dimana semua duduk dan menyunggingkan senyum.
"dia sama seperti mama nya yang selalu saja pecicilan" seru mama Niken membuat Zaifa menoleh ke arah sang mama.
"mama..." seru Zaifa merajuk.
"ya, dan itu sukses menular pada anak nya" sambung Niel.
"Niel, berhenti meledek istri ku" tegur Raihan menatap tajam Niel.
"ck,,, semoga nanti anak mu lebih pecicilan dari pada dirimu biar kamu kerepotan" ucap Niel.
"dan semoga saja anak mu seperti itu" balas Zaifa sembari menjulurkan lidah nya meledek Niel.
"mas, sudah..." tegur Wulan.
Niel justru memeluk sang istri dengan manja. Semenjak kehamilan sang istri Niel memang lebih manja dari biasanya. Bahkan ia sering absen dari kantor dengan alasan tak bisa jauh dari Wulan. Beruntung Rama tak keberatan jika harus mengurus perusahaan Niel.
"lihat putri mu mas, dia sangat menggemaskan" seru Zaifa saat melihat Rara melongok kan kepala nya keluar namun beberapa saat kemudian masuk kembali.
"ya, dia sangat menggemaskan sama seperti dirimu" ucap Raihan mencium pipi Zaifa.
Zaifa memukul pengen Raihan namun Raihan hanya terkekeh sembari matanya awas menatap sang putri. Tiba-tiba Rara kembali duduk dan merangkak dengan cepat ke arah pelukan sang mama.
"mamamamaaa paaa maaa"
__ADS_1
"kenapa sayang?" tanya Raihan yang tentu saja tak bisa di jawab oleh Rara. Bayi itu hanya berceloteh.
"maa...." Rara menunjuk ke arah luar.
Bersamaan dengan itu rombongan Rafli pun terlihat.
"oohh,,, pantas saja putri mama langsung lari rupa nya ada yang mau datang ya" ucap Zaifa menciumi leher Rara membuat bayi itu tertawa kencang.
Melihat tawa Rara membuat semua yang ada disitu ikut tertawa termasuk rombongan Rafli yang baru datang.
"assalamualaikum...." ucap rombongan Rafli.
"wa'alaikum salam" jawab rombongan yang ada di dalam.
Bu Dewi, mama Niken, Raihan dan Niel berdiri menyambut kedatangan mereka sebagai perwakilan tuan rumah.
Orang tua Rafli dan beberapa yang sengaja di minta untuk menemani pun menyalami tuan rumah. Mereka kemudian duduk melingkar, sedang Rafli berada di tengah-tengah orang tua nya tak berhenti menatap Santi yang di apit oleh Wulan dan ibu Dewi.
"mama papa... esewweeswess"
"ngomong apa sih" seru Wulan menjawil pipi Rara.
"paa .." seru Rara dengan telunjuk nya mengarah pada Rafli.
"iya, itu om Rafli. Kau tau rupa nya ya"
Rara mengangguk kan kepalanya lucu seolah mengerti dengan ucapan sang papa. Bayi itu kemudian merangkak menuju ke arah Rafli. Dan dengan anteng nya duduk di pangkuan Rafli.
"sayang,, sini sama mama"
Rara menggeleng kan kepalanya dan mendongak menatap Rafli kemudian mengetuk-ngetuk dagu Rafli dengan jari kecil nya.
"kau rindu om?" tanya Rafli dan lagi-lagi bayi itu mengangguk sembari tertawa memperlihatkan gigi nya baru hendak muncul.
Mengabaikan bocah kecil yang asyik dengan dunia nya sendiri. Pihak perwakilan keluarga Rafli menyampaikan tujuan mereka hingga kemudian di sambut oleh Niel sebagai perwakilan keluarga Santi.
Sampai akhir nya Rafli dan Santi di persilahkan duduk berdampingan untuk memasangkan cincin di jari masing-masing. Dan bayi kecil Rara seolah mengerti dengan itu, dia pun merangkak ke pangkuan sang papa.
Rafli dan Santi pun memasangkan cincin di jari masing-masing. perasaan haru dan bahagia menyeruak. Santi menyalami ibunda Rafli, begitu pun Rafli. Mereka pun menyalami semua orang yang ada disitu.
__ADS_1
Setelah pertukaran cincin, semua di persilahkan menikmati hidangan yang sudah di sedia kan. Suasana nya terlihat hangat dan penuh dengan kebahagiaan.