
seminggu berlalu dengan begitu singkat. Tak terasa pernikahan Rama dan Patricia hanya tinggal menghitung hari saja. kedua nya kini menjalani masa pingit menjelang pernikahan. selama masa pingit itu Rama memilih tinggal di rumah mama Niken. Selain karena rumah mama Niken dekat dengan rumah tuan Hadi, rumah itu juga ramai dan Rama tak akan kesepian jika tinggal di sana daripada tinggal di apartemen yang isi nya hanya dirinya sendiri.
Dengan Rama tinggal di rumah mama Niken pun juga sangat membantu Raihan dan Zaifa. saat ini kedua nya tengah bersiap akan pergi ke desa untuk mengunjungi perkebunan Zaifa yang sudah setahun lebih tidak ia kunjungi.
"sayang, Rara di rumah sama om Rama ya mama sama papa mau pergi dulu" pamit Zaifa pada sang putri.
Rara yang sedang bermain boneka Barbie dengan di temani oleh Rama pun menoleh. Ia menatap sang mama kemudian mengangguk patuh dan kembali bermain.
"Rara ngga boleh nakal ya sama om Rama, ngga boleh nangis oke"
"ote mama...." balas Rara.
"pinter anak mama, sini peluk dulu"
Rara pun meletakkan boneka Barbie milik nya kemudian melangkah ke arah sang mama. Rara memeluk mama nya erat kemudian mencium kedua pipi sang mama.
"baik-baik di rumah om Rama ya."
"iya mama...."
Zaifa memeluk kembali sang putri dan kemudian menciumi seluruh wajah putri nya membuat Rara terkikik geli.
"sayang...."
Rara menoleh ke belakang dan tersenyum lebar ketika melihat sang papa tengah berjalan ke arah nya.
"papa sama mama pergi ya. Rara baik-baik di rumah sama om Rama dan Oma"
seperti hal nya tadi, Rara kembali mengangguk patuh dan berjalan ke arah Raihan. Memeluk kaki Raihan dan mendongak menatap papa nya. Raihan pun berjongkok untuk menyamakan dengan sang putri.
"yayaang papa" seru Rara memeluk leher Raihan.
"papa juga sayang princess" balas Raihan mencium kedua pipi Raihan.
__ADS_1
"yuk mas berangkat nanti keburu macet" ajak Zaifa.
"aku berangkat dulu Ram, titip Rara ya kalo rewel telepon aja nanti"
Rama mengangguk, ia kemudian menggendong Rara dan mengikuti Raihan juga Zaifa.
"papa sama mama berangkat ya sayang..."
"ya papa,,, tata papa mama"
Rara melambaikan tangan nya ke arah mobil Raihan yang sudah melaju. Setelah mobil itu keluar dari gerbang Rama pun membawa Rara kembali masuk ke dalam.
"princess tadi udah makan pagi belum?"
"dah..." jawab Rara.
"om ma, ain elbi ayo"
"mau main Barbie lagi?"
Rama pun mencium pipi Rara dengan gemas. Bocah yang usianya baru setahun itu sedikit demi sedikit sudah bisa berbicara meskipun belum terlalu lancar dan tepat dalam berbicara.
Rama membawa Rara duduk di karpet tadi, ia sengaja menghidupkan tv agar tidak terasa sepi karena mama Niken telah berangkat ke butik. Sementara bik Surti di tempat kan di rumah Raihan agar meskipun rumah itu belum di huni kembali tapi setidaknya ada seseorang yang setiap hari membersihkan.
***
Berbeda dengan Rama dan Patricia yang sedang menjalani masa pingit. Kini Santi dan Rafli sedang berkunjung ke desa. tujuan mereka tentu saja untuk mencari keberadaan sang ayah yang belum di ketahui. Mereka sengaja datang ke desa karena siapa tau ia bisa bertanya dengan seseorang yang dulu akrab dengan pak bewok.
"kita mau cari dari mana ya mas?" tanya Santi.
Saat ini kedua nya sedang duduk di teras setelah makan pagi bersama. Suasana desa yang asri dan sejuk membuat mereka bisa menghirup udara segar. sangat berbeda dengan kota sana yang pagi-pagi sudah terkena polusi udara.
"coba kita nanti tanya sama tetangga mu dek, siapa tau aja mereka ada petunjuk"
__ADS_1
"semoga aja ya mas"
Mereka pun diam sembari menatap ke depan sana dimana hamparan sawah terlihat sangat indah karena padi yang sudah menguning dan siap panen. Sudah setahun mereka meninggalkan desa ini dan banyak sekali yang berubah. Jika dulu belum ada penerang jalan sekarang hampir di setiap rumah ada. rumah yang dulu nya banyak yang dari kayu papan sekarang mayoritas sudah gedung permanen.
Jangan di tanya bagaimana keuangan mereka dan darimana mereka mendapat uang untuk membangun desa tentu saja dari hasil perkebunan Zaifa. mereka yang bekerja di kebun milik Zaifa perlahan tapi pasti bisa membenahi rumah dan memiliki ekonomi yang stabil. terlebih sejak menikah Zaifa hanya minta 50 persen dari keuntungan bersih. 25 persen di sumbangkan untuk desa dan 25 persen untuk membangun sekolah.
Ngomong-ngomong tentang sekolah TK yang di bangun oleh Zaifa empat tahun lalu. Kini sekolah itu sudah memiliki banyak kelas dan guru. Bahkan semua guru sudah menjalani pendidikan lanjutan yang sesuai. kini bukan hanya sekolah TK saja, sudah ada bangunan play group dimana sekolah itu menampung anak dari usia 6 bulan sampai 3 tahun.
Desa yang dulu sepi dan minim pendidikan namun sejak kedatangan Zaifa sekarang desa itu menjadi lebih maju. Para warga desa sangat bersyukur berkat Zaifa kini desa itu sedang dalam proses pembangunan sekolah dasar. Tanah di samping bangunan TK itu masih luas karena dulu Zaifa membeli tanah itu dengan luas dia hektar. Dan di atas tanah itu baru di bangun sekolah TK dan play grup saja.
Uang keuntungan 25 persen dari Zaifa di simpan rapi oleh bendahara sekolah karena setiap bulan Zaifa selalu memantau nya meskipun tidak secara langsung. Sedang 25 persen yang di sumbang kan untuk desa di gunakan untuk perbaikan jalan dan memberi bantuan kepada masyarakat yang kekurangan.
"ini desa kamu yang?" tanya Raihan.
Zaifa mengangguk, ia membuka kaca mobil dan melihat sekeliling yang sudah banyak berubah. Jalan yang dulu tanah berwarna merah dan akan licin jika hujan turun sekarang sudah di cor. Zaifa tersenyum seperti nya para petugas desa tidak melakukan korup.
"kita ke rumah ku aja mas, rumah sudah di bersihkan kok"
"tunjukkan jalan nya yang"
"ini lurus aja nanti ada belokan pertama belok kiri"
Raihan fokus pada jalan dan mengikat arahan Zaifa. sedang Zaifa memperhatikan kebun milik nya yang terlihat hampir panen. Bahkan padi-padi nya pun sudah menguning. Zaifa tersenyum menikmati angin hembusan angin sejuk yang masuk lewat jendela yang di buka nya.
"ehh, itu kayak Mbak Rani ya" seru seorang ibu yang tanpa sengaja melihat wajah Zaifa.
sontak para ibu-ibu itu pun menoleh dan melihat ke jalan. tapi ternyata mobil Raihan sudah melaju dan mereka tak sempat melihat nya.
"ora Ono (tidak ada) yu" ucap ibu lainnya.
"walah wes kelewat (sudah terlewat)"
"nanti mampir aja coba ke rumah mbak Rani sekalian kita minta upah sama mbok Lasmi"
__ADS_1
Ibu yang lain pun mengangguk setuju dan segera menyelesaikan pekerjaan nya karena sebentar lagi hari akan menjelang sore dan mereka terbiasa pulang dari kebun jam 3 sore. Karena mereka pun memiliki pekerjaan di rumah sebagai ibu rumah tangga.