
jangan lupa cerita othor yang baru di lirik ya gaes. Masih beberapa yang mampir. mampir dong biar othor lebih semangat nulisnya.
***
"apa yang kau pikir kan? kenapa kau diam saja?" tanya seorang wanita baya menatap putra nya.
Pria berusia tiga puluhan itu menoleh dan menatap ke arah wanita yang tak lain adalah mama nya.
"apakah kau masih memikirkan Zaifa, mantan istri mu itu? Ingat imam dia sudah menikah. dan gara-gara kamu terus memikirkan dia perempuan yang mencintai mu jadi meninggalkan kamu!" sentak sang mama.
Imam menghela nafas, ia merasa menyesal dengan kebod*ohan dirinya di masa lalu. Jika ia tak egois ingin child free mungkin saat ini Zaifa masih ada di samping nya.
"kau menyesal? Kamu tau mama merasa sangat bersalah karena mengira Zaifa man*ul tak tau nya justru anak mama sendiri lah yang tak ingin memberikan mama cucu"
"ma, bukan begitu"
"lalu apa???"
"aku hanya....."
Wanita itu membuang pandangannya ke arah jendela. Imam pun tak melanjutkan ucapannya karena merasa percuma. Semua memang salah nya. Ia yang egois dan tidak memikirkan semua orang termasuk Zaifa. Bahkan disaat Zaifa di caci maki oleh keluarga nya ia tak melakukan pembelaan sama sekali, padahal sebab dirinya lah Zaifa di cap mand*l oleh keluarga nya.
Imam menghela nafas panjang, hatinya masih terasa sakit ketika mengingat ia harus berpisah dari Zaifa, wanita yang sampai saat ini masih di cintai nya.
***
"gimana kelanjutan hubungan antara dirimu dan anak tuan Hadi itu?" tanya Raihan.
Saat ini Raihan dan Rama sedang quality time di sebuah cafe modern tempat di mana anak-anak muda nongkrong di akhir waktu seperti sore ini.
Rama menghela nafas pelan, ia tak tau jika Raihan mengajak nya keluar bersama untuk membahas hubungan asmara nya.
"kau tau belum Rai" jawab Rama kemudian menyesap kopi hitam panas milik nya.
"Ram, tidak semua wanita seperti ibu mu yang akan meninggalkan seorang pria disaat pria itu sedang terpuruk. Aku tau ketakutan mu, tapi ketakutan itu jangan sampai membuat mu menjauhi semua wanita yang mencoba mendekati mu. Aku lihat Patricia tulus, terlihat sekali jika ia adalah gadis lugu. Dan apakah kau tau alasan gadis itu menyukai mu?"
__ADS_1
Rama menggeleng, ia yang semula menatap jendela kini beralih menatap Raihan.
"karena kamu yang menolak pemberian ganti rugi dari nya. Cukup naif memang, hanya karena itu ia sudah mengira bahwa kamu adalah pria yang baik hati dan tidak suka memanfaatkan keadaan"
"pesan ku, jangan sampai apa yang terjadi pada Dani terjadi juga padamu. Orang tulus tak akan datang dua kali. Orang tulus tak akan pergi, kecuali disaat ia sudah merasa sangat lelah dengan keadaan. Seperti Patricia, hanya menunggu waktu saja. Jika kau tetap sama maka aku akan menjamin tak lama lagi ia akan pergi meninggalkan mu"
Setelah mengatakan itu Raihan beranjak meninggalkan Rama. Ia hanya bisa membantu sebatas ini karena pemilik perasaan mutlak adalah Rama.
***
Hari-hari berlalu, setelah seminggu di rawat di rumah sakit hati ini Zaifa akan pulang kembali ke rumah. tapi mereka akan menuju ke rumah mama Niken. Atas permintaan mama Niken yang ingin ikut andil merawat cucu pertama nya.
Di ruang tamu rumah mewah itu Santi, Dani dan istrinya, Boby dan keluarga kecil nya, serta kedua orang tua Raihan sedang menyiapkan sambutan kecil-kecilan untuk Zaifa dan baby nya. Sementara di dapur, ada bik Surti dan beberapa pelayan yang sedang menyiapkan makanan untuk suguhan.
Di rumah sakit, Raihan sedang memasukkan perlengkapan istri dan anaknya yang selama seminggu di pakai di rumah sakit. Mama Niken sedang menggendong sang cucu. Sementara Niel asyik menggoda bayi kecil itu dengan menarik ulur dot susu nya.
"jangan begitu uncle" ucap mama Niken.
"lihat lah ma, dia begitu lucu. Bibir nya seperti bibir ikan. Ha ha"
"kakak!!!" seru Zaifa melempar Niel dengan botol plastik dan mengenai pundak pria itu.
"masa anak ku di bilang mirip ikan" rengek Zaifa.
"jangan nakal" ucap mama Niken menjewer telinga Niel.
"aduh mama... sakit ma. Aauu" teriak Niel kemudian mengelus telinga nya yang memerah.
"jahat banget sih sama anak sendiri" sungut Niel kemudian duduk di sofa.
"permisi" ucap seseorang mengetuk pintu ruangan Zaifa yang terbuka.
"eh dokter Wulan" sapa Zaifa.
Dokter Wulan tersenyum dan kemudian menghampiri Zaifa untuk melakukan pemeriksaan terakhir.
__ADS_1
"baik kondisi nya sudah sangat stabil. Obat nya di minum ya dek biar lekas sembuh. Jangan mengerjakan yang berat-berat dulu, dan jangan berjalan jauh-jauh" pesan dokter Wulan.
"siap dokter. terima kasih"
Dokter Wulan tersenyum menanggapi Zaifa yang terlihat lucu dan berwajah imut meskipun sudah memiliki seorang bayi.
"kalau begitu saya permisi"
Dokter Wulan pun meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh ke arah pria yang sejak tadi selalu memandang ke arah nya. melihat dokter Wulan keluar pria yang tak lain adalah Niel itu langsung mengejar nya. Zaifa, Raihan dan mama Niken yang melihat itu hanya menggeleng kan kepalanya.
"sayang tunggu...." ucap Niel memegang tangan dokter Wulan.
Dokter Wulan berhenti dan menatap datar ke arah Niel. dokter Wulan tak berbicara hanya menunggu Niel yang berbicara.
"kenapa kamu terus menghindar dari aku? aku punya salah sama kamu? Aku minta maaf kalo aku seminggu ini jarang ada waktu buat kamu" ucap Niel.
Dokter Wulan hanya mengangguk kemudian berlalu. Niel hanya menatap punggung wanita yang di cintai nya dengan pandangan bingung. Tapi tiba-tiba ia teringat dengan ucapan sang adik beberapa hari yang lalu.
"****... Pasti gara-gara itu" gumam Niel dan langsung mengejar kembali dokter Wulan.
"sudah semua mas?" tanya Zaifa pada Raihan.
"sudah sayang, kita langsung pulang atau nunggu Niel dulu?"
"em, kita langsung pulang aja ya ma. Zaifa udah kangen sama rumah dan masakan bik Surti" ucap Zaifa terkekeh.
Mama Niken mengelus rambut Zaifa yang terbungkus jilbab.
"iya. Kita langsung pulang. kakak mu sudah besar biar nanti pulang sendiri atau di jemput Rafli"
Zaifa pun mengangguk. Zaifa turun dari ranjang dengan hati-hati. ia duduk di kursi roda karena ia belum di perbolehkan jalan kaki jauh meskipun dari ruangan nya ke parkir. Raihan menggendong tas ransel besar itu sembari mendorong kursi roda Zaifa.
"biar aku bawa aja mas. Di tarok di paha aku sini" ucap Zaifa mendongak menatap Raihan.
"tak perlu, biar mas bawa saja"
__ADS_1
Mereka pun berjalan menuju parkiran, disana sudah ada Rafli yang menunggu. Melihat sang majikan sudah keluar dari rumah sakit ia lekas membuka pintu dan menerima ransel Raihan untuk di letakkan di bagasi. Raihan membantu Zaifa masuk ke mobil dan kursi roda itu di letakkan di bagasi juga. Sementara Rafli membuka kan pintu untuk nyonya besar.
Setelah itu mereka pun menuju ke rumah, senyum Zaifa mengembang karena akhirnya ia kembali menghirup udara bebas.