SETELAH DI CERAI

SETELAH DI CERAI
bab 102


__ADS_3

Seorang perempuan baya sedang duduk di kursi plastik yang ada di teras sebuah rumah mewah yang ada di desa. Matanya awas melihat ke arah jalan, gurat wajah nya terlihat bahagia dan seperti sedang menunggu seseorang.


Tak lama matanya berbinar dan ia segera beranjak dari kursi. Dengan perasaan gembira wanita itu langsung berdiri menyambut kedatangan sebuah mobil sedan hitam yang telah berhenti di pelataran rumah itu.


"ya Allah non, mbok kira kesasar kok belum nyampe dari tadi" seru perempuan baya itu menghampiri seorang wanita yang baru turun dari mobil.


"maaf mbok, tadi sengaja keliling dulu lihat suasana desa sama kebun ternyata makin subur" ucap wanita itu yang tak lain adalah Zaifa.


"ini rumah kamu sayang?" tanya Raihan.


"iya mas, yuk masuk" ajak Zaifa mengulurkan tangannya.


Raihan pun menerima uluran itu, mereka pun kemudian masuk ke dalam rumah untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah setelah perjalanan yang lumayan jauh.


"mbok, tolong masakkin cah kangkung sama telur ceplok ya. saya laper" seru Zaifa terkekeh.


"iya non, mbok baru mau tanya non pengen makan apa. Ya udah kalo gitu mbok belanja dulu ke warung. non istirahat aja dulu, nanti kalo makanan nya udah siap mbok bangunin"


"makasih ya mbok"


"sama-sama non"


perempuan yang di kenal oleh Zaifa dengan nama Lasmi itu bergegas keluar rumah. mbok Lasmi adalah kerabat jauh dari bik Surti. mereka seperti seumuran karena usut punya usut mereka adalah sepupu yang usia nya hanya selisih beberapa bulan saja.


"mas Rai ngga jadi tidur?" tanya Zaifa ketika melihat suami nya sedang berdiri sedang mengamati sesuatu.


"sini deh sayang" perintah Raihan tanpa menoleh.


Zaifa pun mendekat, suasana kamar nya tidak berubah sama sekali. Tetap sama seperti setahun yang lalu. Tatanan buku, figura foto dan juga letak lemari dan ranjang tetap sama seperti sebelumnya.


"kenapa mas?"


"lihat deh"


Zaifa menoleh dan ikut memandang ke arah depan Raihan. Matanya melotot ketika sadar foto apa yang di lihat oleh Raihan. Zaifa hendak menghindar namun Raihan sudah menyentak tangan nya hingga ia akhirnya menubruk dada bidang Raihan.


"jadi meskipun dulu kamu kabur dan menghilang dari mas, kamu tetap mencintai mas ya?" tanya Raihan.


"mana ada" sangkal Raihan.


"foto itu bukti nya. Pantas saja mas selalu kesulitan jika akan membuka hati untuk gadis lain ternyata ada seorang perempuan yang sangat mencintai mas"


Zaifa mencubit perut Raihan membuat Raihan tertawa sekaligus mengaduh. Ia semakin gemas ketika Zaifa menyembuhkan wajah yang memerah itu di dada bidang Raihan.

__ADS_1


Suara tawa itu terdengar sampai ke arah luar. Mbok Lasmi yang sudah pulang dari belanja hanya tersenyum sembari menggeleng kan kepalanya. Ia turut bahagia untuk majikan yang sangat baik padanya. Bahkan ia sudah di amanahi rumah besar ini padahal bisa saja Zaifa menyewakan nya pada orang lain.


Mbok Lasmi segera ke dapur untuk menyiapkan makanan pesanan sang nona. Sementara dua orang yang di masakkan itu kini tengah memadu kasih di kamar yang bagi Raihan sedikit sempit tapi jika untuk berdua dengan Zaifa cukup nyaman.


Setelah saling melepaskan kenikmatan, kedua nya terbaring sembari berpelukan.


"kau curang mas" ucap Zaifa merajuk.


"curang bagaimana sayang? Kau yang menggoda mas terlebih dahulu"


Zaifa memalingkan wajahnya kemudian berbalik memunggungi Raihan membuat Raihan gemas hingga akhirnya menggigit kecil punggung polos Zaifa.


"mas!!!"


Zaifa beranjak ke kamar mandi dengan selimut yang membungkus tubuh nya dan membiarkan tubuh polos Raihan di atas ranjang.


"sayang..."


Raihan bangkit hendak mengejar Zaifa namun dengan cepat Zaifa menutup pintu kamar mandi.


***


"Oma...." seru Rara ketika melihat mama Niken sudah pulang bekerja.


"Oma Awa apa?" tanya Rara melihat ke paper bag yang ada di tangan kanan mama Niken.


"Uee???"


"iya. Yuk kita mandi dulu ya baru makan kue nya"


"yyeeyy" Rara girang mendengar Oma nya membawa kue hingga Rama terkejut ketika Rara terlonjak dari gendongan nya.


"Rara ngga boleh gitu nanti om Rama jatuh loh" tegur sang Oma.


"aaf ya om ma"


"iya sayang. Sekarang Rara mandi ya, om Rama juga mau mandi. Nanti kita ke depan makan kue sama-sama ya"


Rara mengangguk dan kemudian menggenggam ujung paper bag berisi kue itu. Mama Niken membawa Rara ke dalam kamar nya untuk mandi dan berganti pakaian.


**


Tok tok

__ADS_1


Terdengar suara ketukan pintu dari luar membuat Zaifa dan Raihan yang sedang bersantai di ruang depan menoleh. Namun tak lama mbok Lasmi datang dari arah dapur dan kemudian membuka pintu.


"yu, yu Lasmi emang bener ya kalo mbak Rani datang kesini?" tanya seorang ibu dengan antusias.


"mbak Rani, mbak Zaifa?"


"Iyo, tapi kan kami kenal nya mbak Rani yu bukan mbak Zaifa. Jadi lebih enak manggil mbak Rani aja"


"duduk dulu yu, saya mau ke belakang ambil upah nya."


"sekalian panggil mbak Rani yu, kami kangen sama wajah cantik nya"


Mbok Lasmi masuk kembali ke dalam rumah dan membiarkan ibu-ibu itu duduk di teras.


"siapa mbok?" tanya Zaifa.


"itu non biasa ibu-ibu mau ambil upah. Ini kan udah waktunya pulang" jawab mbok Lasmi.


"loh, sekarang ngga siang lagi mbok"


"enggak non, semenjak ada sekolah play grup itu ibu-ibu semangat kerja tanpa mikir anak nya yang kecil di rumah sama siapa. jadi kerja nya sampe jam setengah empat kan nanti jam 4 harus jemput anak nya di sekolah"


"ohh ya sudah mbok"


Mbok Lasmi pun masuk kembali ke dalam rumah. Zaifa menghela nafas lega, setidaknya semua berjalan sesuai angan-angan nya meskipun bukan dirinya sendiri yang menjalankan sekolah itu.


"aku mau keluar mas, mau ikut?"


"boleh. Mas penasaran sama ibu-ibu di luar tadi sekilas denger kangen sama kamu"


Zaifa terkekeh, dengan menggandeng lengan sang suami Zaifa pun keluar menghampiri para ibu-ibu.


"selamat sore ibu-ibu semua" sapa Zaifa.


para ibu-ibu itu pun serempak menoleh dan mendapati Zaifa yang tengah tersenyum ramah pada mereka di samping nya seorang pria tampan dengan kulit putih sedang tersenyum ramah juga. Para ibu-ibu itu melihat Raihan dan Zaifa bergantian dengan tatapan kagum.


"ini bener mbak Rani?" tanya seorang ibu yang tadi melihat nya ketika di jalan.


"aku bilang juga apa yu, tadi itu beneran mbak Rani" lanjut nya memandang ke arah teman-teman nya.


"Iyo, sekarang aku percaya sama kamu"


"mbak Rani gimana kabar nya? terus ini suami nya mbak Rani pasti. Oalah, cantik sama ganteng kok cocok men Yo (cocok sekali)" seru ibu-ibu itu.

__ADS_1


"ibu-ibu semua apa kabar?" tanya Rani sopan bahkan tak segan ikut serta duduk lesehan bersama ibu-ibu itu.


para ibu-ibu memandang takjub ke arah Rani, meskipun kaya tapi Rani tak sombong dan tetap menghargai mereka.


__ADS_2