SETELAH DI CERAI

SETELAH DI CERAI
bab 105


__ADS_3

"maaaa..!" seru seorang bocah berusia setahun sembari melambaikan tangan nya.


Berusia setahun yang tidak lain dan tidak bukan adalah Rara itu terlihat gembira melihat mobil orang tua nya sudah sampai di halaman. Bocah itu turun dari gendongan Rama kemudian dengan tertatih berlari menghampiri Zaifa yang baru keluar dari mobil.


"maa..." ucap Rara memeluk kaki Zaifa.


Zaifa langsung mengangkat tubuh kecil Rara dan di ciumi wajah nya membuat bocah itu tertawa karena geli.


"kangen sama mama?" tanya Zaifa.


Bocah itu mengangguk kemudian mengalungkan tangan nya di leher Zaifa dan bersandar di ceruk sang mama dengan nyaman.


"hai princess ngga kangen juga sama papa?" tanya Raihan menghampiri anak dan istrinya.


Rara bergeming, ia tak menoleh ketika sang papa menanyai nya. Namun ucapan Raihan selanjutnya membuat Rara, si bocah menggemaskan itu berbalik.


"papa bawa boneka Barbie loh untuk Rara"


"ana"


Raihan tersenyum, ia mengeluarkan sebuah boneka barbie berwarna pink yang ukuran nya cukup sedang untuk bocah Rara. Boneka itu masih terbungkus rapi di dalam plastik.


"auu"


"gendong papa dulu dong"


Rara pun mengulurkan tangan nya minta di gendong oleh Raihan. Sampai di gendongan sang papa Rara mencoba meraih boneka Barbie yang menarik perhatian nya itu.

__ADS_1


Mereka pun menghampiri Rama yang sejak tadi duduk di kursi teras sembari mengamati keluarga bahagia itu.


"Rara rewel enggak kak?" tanya Zaifa.


"aman Zai, tapi tidur nya sama Tante Niken ngga mau sama aku"


"sorry bro udah ngerepotin" sahut Raihan.


"santai lah, kita saudara bukan?"


Raihan mengangguk dan tersenyum, mereka pun kemudian masuk ke kembali ke rumah. sedang Rama membawa sepiring kacang goreng ke depan dan menghampiri pak satpam. Selama di pingit ia sungguh merasa bosan sekali karena tidak di izin kan keluar dari rumah ini. Beruntung rumah besar mama Niken memiliki banyak pekerja sehingga Rama tak merasa sendiri.


setiap hari nya Rama akan mengobrol dengan tukang kebun yang di pekerjakan tiga hari sekali. Kadang bersama pak satpam, atau juga supir jika sedang senggang. Namun yang sering ia mengobrol dengan si mbok saat si mbok sedang masak. tapi ia pun juga merasa bahagia karena tidak kesepian apalagi di rumah itu ada bocah kecil yang sangat menggemaskan meskipun ia harus menemani bermain boneka barbie tapi itu tak masalah. itung-itung dia simulasi jika pernikahan nya kelak di karuniai seorang anak perempuan. Kira-kira ya seperti Rara lah tingkah nya.


"kacang goreng pak" tawar Rama duduk di samping pak satpam.


"eh mas Rama"


"Monggo duduk sini mas"


"bapak seneng enggak kerja di keluarga ini?" tanya Rama tiba-tiba.


"seneng lah mas, keluarga Bu Niken baik-baik. Nggak membedakan dan tidak sombong. Meskipun saya adalah orang yang di pekerjakan oleh pak Pras, tapi ketika beliau meninggal saya tidak di pecat oleh Bu Niken" ucap pak satpam bercerita.


"bapak nggak kangen sama keluarga di rumah"


"ya kalo kangen ya kangen mas, tapi bagaimana lagi. Daripada saya Deket sama mereka tapi saya ngga bisa memberi nafkah yang layak pada keluarga saya lebih baik saya merantau tapi bisa membuat mereka bahagia. Lagipula keluarga Bu Niken nggak tega-tega banget mas, kalo saya abis gajian saya di kasih libur empat hari untuk menjenguk keluarga saya. Desa saya pun nggak jauh dari sini, hanya empat jam perjalanan saja"

__ADS_1


Rama mengangguk paham, melihat pak satpam ini ia sedikit kagum karena rela bekerja jauh untuk menghidupi keluarga di kampung. Tapi, kemudian Rama berpikir bukan kah setiap kepala rumah tangga akan selalu mengusahakan yang terbaik untuk keluar nya. termasuk ayah nya, hanya saja....


***


Hari-hari berlalu dengan begitu cepat, sudah seminggu Santi dan Rafli mengusahakan untuk mencari pak bewok tapi tak menemukan hasil. Saat ini mereka sedang duduk di angkringan rumah-rumahan yang ada di sawah pak Man, ayah Rafli.


Mereka memandang ke depan dimana padi yang kemarin menguning kini telah selesai di panen. Di depan sana masih ada beberapa orang yang bergantian memanen padi milik warga lainnya. Sedang Santi dan Rafli memang sengaja datang kesana untuk mengantar makan siang sang bapak dan ibu Rafli. Sebenarnya mereka tak perlu bersusah-susah ikut memanen padi karena pendapatan mereka setelah panen milik mereka sendiri cukup untuk bekal hidup selama beberapa bulan ke depan.


tapi, tak ingin di pandang sombong jadi lah kedua orang tua Rafli ikut memanen padi milik orang lain. Biasanya panen padi di upah dengan padi atau uang sebesar 60 ribu rupiah sehari. tugas nya hanya mengambil separoh tumbuhan padi dan kemudian di masukkan ke mesin penggilingan tradisional. Meskipun sudah alat modern tapi mereka menolak keras karena akan merasa tak tega dengan mereka yang tidak memiliki sawah sendiri dan pastinya saat panen ini lah mereka berlomba-lomba untuk mencari uang tambahan.


Santi menatap nanar ke arah beberapa orang di depan sana. Meskipun orang-orang itu tampak beberapa kali mengusap dahi yang penuh keringat tapi senyum di bibir mereka selalu merekah. Santi jadi berpikir jika seandainya saja ayah nya tak banyak tingkah dan mau berusaha mencari nafkah mungkin keluarga mereka tak akan bercerai berai seperti ini.


Tapi pak bewok adalah tipe kepala rumah tangga yang egois, sudah tak mau bekerja tapi gemar bermain dan suka berhutang yang kemudian akhirnya membuat susah istri dan anak. Meskipun Bu Dewi tak beda jauh, tapi setidaknya Bu Dewi tidak seperti pak bewok yang gemar hutang tanpa membayar.


Rafli melihat ke arah sang kekasih, binar sedih tampak di mata teduh itu. Rafli meraih jemari Santi kemudian mencium nya. Di pandang nya sang kekasih yang tampak nya sedang merindukan sang ayah atau karena hal lain.


Santi tersenyum tipis kemudian menatap ke depan kembali.


"sungguh indah sekali keluarga mu mas, bapak dan ibu tak pernah gengsi untuk terjun ke sawah meskipun mereka tergolong orang berada. Seandainya bapak ku sama seperti bapak mu mungkin keluarga ku masih utuh. Tapi bapak ku sangat malas untuk sekedar bekerja dan memiliki gengsi yang tinggi untuk kerja di sawah" ucap Santi.


Bulir bening tampak keluar di mata nya, meskipun sudah mencoba untuk menahan tapi kesedihan dalam hati dan air mata yang tersimpan tanpa pernah di keluarkan sebelum nya memberontak keluar dengan sendirinya.


Rafli merangkul sang kekasih, ia berharap itu bisa membuat Santi sedikit tenang.


"menangis lah sepuas mu sayang, aku tau ada benci, rindu dan sayang dalam hati mu untuk pak bewok. Tapi jangan pernah berandai-andai jika hal itu hanya akan menyakiti hatimu"


Santi menangis dalam pelukan Rafli, Rafli hanya mampu menepuk lembut pundak sang kekasih.

__ADS_1


Seseorang yang sekarang tengah bersembunyi di balik rumput yang di tanam oleh warga merasa tersinggung. Ia menatap tajam ke arah Santi dan Rafli.


"dasar anak nggak tau di untung, ngatain bapak nya sendiri pemalas" rutuk orang itu kemudian membenarkan caping hingga menutupi wajah dan berlalu.


__ADS_2