
di perusahaan milik Niel, sore ini ketika ia hendak pulang ia di kejutkan dengan kedatangan sang sahabat, Rama. Rama terlihat kacau dan uring-uringan. Bahkan sejak datang ia tak mengatakan apapun dan malah sibuk berjalan kesana kemari tidak jelas. terkadang ia berhenti sejenak seolah sedang berpikir kemudian ia akan kembali mondar mandir.
Niel yang melihat itu hanya menghela nafas, ia sudah lelah bekerja seharian dan ingin segera pulang dan bermain bersama keponakan nya. Meskipun sang keponakan nya belum mengenal dan belum bisa melihat dengan jelas dirinya tapi semangat nya kembali pulih jika menggendong bayi mungil itu.
"hentikan Ram!" seru Niel membuat Rama berhenti.
"sebenarnya ada apa dengan mu sampai kau bertingkah tak jelas seperti ini?" tanya Niel.
"katakan Niel apa yang harus aku lakukan? Katakan??"
"apa yang terjadi?"
Rama terdiam begitu lama hingga membuat Niel berdecak kesal.
Cerita baru othor dong gaes jangan lupa di baca.
***
"katakan!!" sentak Niel menendang pelan kaki Rama dari bawah meja.
"Patricia hilang!"
Hening.... Hingga kemudian
"apa maksud mu Rama!!! Bagaimana bisa Patricia hilang, apa kah dia di culik? Tapi mengapa tuan Hadi tak membuat pemberitahuan apapun" ucap Niel panik, bahkan ia berdiri dari kursi kebesaran nya sangking panik nya.
"Patricia hilang dari kehidupan ku Niel" ucap Rama pelan.
"kenapa kau menjadi tidak jelas!" seru Niel menoyor kepala Rama.
"ceritakan apa yang terjadi"
Rama menghela nafas panjang, kemudian mengeluarkan nya secara perlahan. Setelah melakukan beberapa kali ia menatap serius ke arah Niel dan mulai bercerita.
__ADS_1
Beberapa hari yang lalu...
Setelah Raihan menasihati Rama untuk mempertahankan Patricia. Rama masih acuh dan bersikap seperti biasa nya. Rama seperti tak ingin menegaskan hubungan antara dirinya dan Patricia. Awal nya gadis cantik itu tak terlalu mempermasalahkan. tapi ketika ia melihat Zaifa dan Diva memiliki bayi, jiwa keibuan Patricia tergugah. Meskipun ia belum sedewasa Diva atau pun Zaifa tapi ia adalah gadis berusia 28 tahun. Usia nya sudah cukup matang untuk menikah dan memiliki anak.
Patricia memang baru saja menyelesaikan kuliah nya, tapi kuliah yang di maksud adalah dia menyelesaikan kuliah magister nya di luar kota sehingga ia jarang pulang ke rumah.
Keesokan hari setelah pertemuan Raihan dan Rama. Patricia memberanikan diri menemui Rama untuk meminta kepastian. Mereka bertemu di cafe yang tak terlalu jauh dari apartemen Rama.
"ada apa Pat?" tanya Rama.
"Rama, sebenarnya dalam hati kamu ada niatan untuk serius sama aku engga?" tanya Patricia to the poin.
Rama terdiam, ia ingin menjawab iya, tapi perasaan nya tidak. Dan ketika ingin menjawab tidak, tapi perasaan takut kalau Patricia akan memilih pergi seperti yang di katakan oleh Raihan.
Patricia menatap wajah bingung Rama, dari sini gadis itu dapat menyimpulkan bahwa Rama masih lah ragu dengan hubungan tanpa status mereka. pantas saja Rama tak berniat mengungkapkan perasaan atau pun memberi kepastian ternyata Rama masih sangat-sangat ragu pada nya.
"tidak perlu di jawab mas, karena aku sudah tau jawabannya. Mungkin aku memang bukan yang terbaik untuk mu. Maaf jika akhir-akhir ini aku menganggu waktu mu. Permisi"
Ketika Patricia sudah pergi dari cafe itu, Rama tersentak dan langsung tersadar. Ia telah melakukan kebod*han. Rama berlari keluar dari cafe dan mobil Patricia sudah tak ia temui. Ada sudut hati yang tercubit ketika Patricia mengatakan 'permisi'.
kembali ke saat ini....
"dan sejak itu Patricia bagai hilang di telan bumi. Nomor ponsel nya tidak aktif dan pesan ku tak di balas nya" curhat Rama.
Niel menatap iba ke arah sang sahabat, baru kali ini ia melihat Rama meneteskan air mata setelah terakhir kali ketika ayah meninggal. Niel beranjak dan menghampiri Rama yang kepala nya telungkup di meja. Nile menepuk pundak Rama seperti memberi dukungan.
"bukan kah Raihan sudah mengingat dirimu sebelum nya?" ejek Niel.
"Niel, aku memang merasa nyaman ketika dekat dengan Patricia. tapi ada juga rasa takut jika Patricia akan meninggalkan kan diriku suatu saat"
"dan sekarang terbukti, Patricia benar-benar pergi dari hidup mu" ucap Niel sinis.
"sekali lagi Ram, tak semua trauma akan sembuh jika kau biarkan. Bisa jadi trauma itu akan sembuh jika kau mencoba untuk melakukan hal itu sendiri. Kau hanya melihat sisi buruk dari kisah orang tua mu. Coba lihat dari sudut pandang yang lain. Mama ku misal nya, bahkan setelah papa meninggal 27 tahun yang lalu mama tak menikah lagi dan fokus merawat ku. Dan untuk semua harta papa semua di atas nama kan dengan nama ku dan mama Anzeil atau Zaifa. Mama hanya mengurus butik dan perusahaan di pegang oleh paman ketika aku masih belum siap mengurus nya." ucap Niel dengan pelan berharap mata hati sang sahabat terbuka.
__ADS_1
Rama terdiam, memang benar apa yang di katakan oleh Rama. Ia tak pernah tau apa sumber permasalahan kedua orang tua nya sampai sang mama memilih pergi disaat ayah sama mengalami kerugian di perusahaan. Dan tak lama setelah itu, papa dari Rama yang merasa depresi karena di tinggal pergi istri nya dan kondisi perusahaan yang di ambang kebangkrutan akhirnya meninggal dunia.
Dari hal itu Rama langsung memiliki persepsi bahwa wanita hanya akan mencintai pria ketika pria itu memiliki segalanya.
"pikir kan baik-baik Ram, tenang kan dirimu. dan ketika kau sudah tenang dan tau apa yang harus kau lakukan. Maka lakukan lah tanpa merasa ragu sedikitpun"
***
"sayang,,, papa lihat akhir-akhir ini Rama tak pernah kesini untuk sekedar mengantar mu?" tanya tuan Hadi kepada sang putri.
Patricia yang sedang duduk selonjoran di sofa hanya menanggapi datar pertanyaan sang papa. Ia bahkan tak berniat menjawab.
"ada apa nak?"
Tuan Hadi mendekati sang putri, Patricia menurunkan kaki nya dan membiarkan sang papa mendekat ke arah nya. Patricia dengan manja menyenderkan kepalanya di bahu sang papa. Tempat ternyaman ketika ia merasa sedih atau pun bahagia.
"Patricia salah ya pa kalo suka sama mas Rama?"
"apakah kalian ada masalah?"
Patricia menggeleng, ia pun bercerita bahwa Rama hanya diam ketika Patricia meminta sebuah kepastian.
"kenapa kau langsung menyimpulkan seperti itu?" tanya tuan Hadi.
"mas Rama hanya diam saja pa, padahal aku hanya ingin sebuah kepastian saja"
"sayang... dengarkan papa"
Patricia menatap sang papa, ada aura sendu dari mata pria yang sudah merawat nya selama ini.
"tak selamanya sikap diam menunjukkan arti tidak mau nak, bisa jadi ia sedang bergulat dengan rasa bingung antara hati dan logika"
"maksud papa?"
__ADS_1