SETELAH DI CERAI

SETELAH DI CERAI
bab 61


__ADS_3

mobil Rafli sampai bersamaan dengan mobil sedan warna putih. Mereka keluar bersamaan, bedanya seseorang yang berpenampilan seperti dokter itu masuk tergesa-gesa. Bahkan Niel sendiri yang menyambut kedatangan nya dan langsung menyuruh ke atas.


Rafli dan Santi menyusul perempuan setengah baya itu.


"mbak Zaifa kenapa mas?" tanya Santi.


"entah lah, kita tunggu saja di ruang tamu. dokter Nana baru sampai dan sedang melakukan pemeriksaan"


Mereka bertiga duduk di sofa yang ada di ruang tamu, Santi meletakkan dua bag di atas meja, satu bag berisi beberapa macam buah dan satu bag lagi berisi beberapa macam kue.


tak ada pembicaraan antara mereka, hanya Santi dan Rafli yang saling lirik sementara Niel menunggu dengan harap-harap cemas.


Sementara di lantai dua rumah itu, dokter Nana sudah selesai memeriksa Zaifa. Dokter sekaligus Tante dari sahabat Raihan itu tersenyum.


"kau tak perlu panik Rai" ucap dokter Nana memasukkan peralatan nya dalam tas.


"apa maksud Tante, istriku terbaring sakit dengan wajah pucat dan Tante melarang ku panik" jawab Raihan tak suka.


"Rai..." tegur mama Niken.


"besok bawa lah istri mu ke rumah sakit, biar dia di periksa oleh dokter kandungan. Sebagai calon ayah seharusnya kau mengurangi sifat pemarah mu bukan?" goda dokter Nana.


Raihan terpaku, pun mama Niken.


Raihan calon ayah?


Periksa di dokter kandungan?


"saya permisi dulu, kebetulan hari ini ada acara keluarga" pamit dokter Nana.


"ah iya dokter, terima kasih" sahut mama Niken yang langsung tersadar.


Mama Niken mengantar dokter Nana sampai ruang tamu, dokter Nana tersenyum kepada Niel dan dua tamu yang belum di kenal nya. Sementara mama Niken memeluk singkat Santi kemudian kembali mengantar dokter Nana.


"sekali lagi terima kasih dokter,"


"tak perlu sungkan, kau adalah teman ku Niken. Jangan panggil aku seperti itu" ucap dokter Nana.

__ADS_1


"sungguh, aku kira Nana siapa yang Niel kenal. Ternyata adalah dirimu"


"selamat ya Niken, kau sebentar lagi akan menjadi calon nenek"


"bagaimana dengan mu Na, apakah putri mu sudah terbujuk untuk segera menikah?"


"haih, putri ku itu sama sekali belum memiliki keinginan untuk merajut rumah tangga. Tapi aku pun tak bisa memaksa."


"ya, kau benar Na, sebagai ibu kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk anak-anak kita"


"baik lah, mungkin lain waktu kita makan malam bersama di luar"


"ya, boleh saja. Nanti aku akan menghubungimu jika keadaan Zaifa sudah lebih baik"


"kalo begitu aku permisi"


Mama Niken mengangguk, dokter Nana pun masuk ke mobil dan melakukan mobil nya dengan santai.


Mama Niken kembali ke ruang tamu, ia melihat belum ada minuman atau pun camilan yang terhidang.


"ish, Niel bagaimana kau ini nak. tamu di biar kan, kenapa kau tak menyuguhkan minuman?" tanya mama Niken.


"maaf ma, Rafli, Santi maaf ya saya terlalu larut dengan keadaan adik saya"


"tidak apa-apa tuan, saya bisa mengerti" jawab Rafli dan di angguki oleh Santi.


Mama Niken duduk di sebelah Santi. "bagaimana pekerjaan mu nak?" tanya mama Niken.


"semua baik Tante, saya juga sudah mengirimkan beberapa gambar ke email Tante dan semoga saja gambaran itu sesuai dengan permintaan pelanggan"


"Tante suka dengan gambar mu dan sudah tentu mereka juga pasti akan suka juga" puji mama Niken dan Santi hanya tersenyum malu.


"bagaimana keadaan nona Zaifa nyonya?" tanya Rafli.


"Zaifa masih lemas karena sedari pagi terus merasa mual dan muntah. Tapi itu adalah hal yang wajar sebab saat ini Zaifa sedang mengandung" jelas mama Niken dengan perasaan yang bahagia.


"mbak Zaifa hamil?"

__ADS_1


"nona Zaifa hamil?"


Rafli dan Santi berkata bersamaan, mereka berdua terkejut pun dengan Niel yang baru kembali dengan membawa nampan berisi dua gelas jus jeruk.


"aku akan menjadi paman ma?" tanya Niel keras.


Mama Niken tersenyum, Niel meletakkan nampan kemudian langsung berbalik menuju kamar Zaifa.


"selamat Tante, mbak Zaifa pasti senang sekali"


"ya itu benar, bukan kah sejak lama nona Zaifa ingin memiliki anak"


Mama Niken tersenyum, lagi-lagi ia merasa seperti orang asing ketika mendengar ucapan Santi dan Rafli. Betapa selama ini ia tak pernah menemani putri nya. putri nya berjalan seorang diri, menjalani kehidupan yang sulit sementara dirinya berselimut kebahagiaan meskipun tak sempurna namun kehidupan mereka sangat berbeda.


"Tante,,, mbak Zaifa pasti sangat bahagia sekarang. tak peduli kehidupan lalu yang sangat menyakit kan. Tapi sekarang sudah di gantikan dengan kebahagiaan yang selalu di impikan oleh mbak Zaifa. Memiliki kakak lelaki, mama yang cantik dan suami yang sangat mencintai mbak Zaifa." ucap Santi.


Mama Niken tersenyum, rasanya ia ingin menjodohkan gadis di samping nya ini dengan sang putra. namun, ia teringat bahwa Zaifa pernah berkata kalau di antara Santi dan Rafli ada sesuatu. Hanya saja mereka belum menyadari satu sama lain.


***


"saya sangat mencintai Fatma, saya dulu memang buruk sebab selalu mempermainkan hati wanita tapi dengan Fatma saya bersungguh-sungguh" Dani berucap dengan tegas.


Di tatap nya seorang pria berkemeja putih dan celana hitam di depan nya. Wajah pria itu memang tampan, tapi tentu saja Dani merasa lebih tampan.


pria itu tersenyum, akhirnya hal yang di tunggu oleh Fatma tiba. Ia di datangi oleh pria yang mencintai Fatma. Meskipun ia juga sama mencintai gadis tomboy itu. Namun jika hati Fatma terpaut pada lelaki di depan nya, ia bisa apa?


"saya tau tuan, Fatma banyak menceritakan tentang anda kepada saya. Saya sudah menanti waktu ini, menunggu anda meminta Fatma kepada saya. Saya pun mencintai Fatma, tapi saya tak bisa memaksa perasaan seseorang. Maka saya akan memutus hubungan perjodohan di antara kami. Dan saya melepaskan Fatma untuk anda"


Dani tersenyum lega mendengar itu, tak peduli jika setelah ini ia harus menanggung biaya rumah sakit ibu dari Fatma. karena rumah sakit itu milik nya.


"tapi jika suatu saat di masa depan anda menyakiti Fatma, maka jangan salah kan saya jika saya akan mengambil Fatma dari anda" ucap pria itu lagi dengan nada tegas.


"anda tak perlu risau, perasaan saya pada Fatma tak main-main. Saya sangat mencintai dirinya."


"saya harap begitu"


pria itu kemudian berlalu, mereka berdua tak sadar jika tak jauh di belakang mereka seorang wanita dengan gaya tomboy berdiri mendengar segala pembicaraan mereka. Ada rasa haru, senang, dan sedih.

__ADS_1


Ia merasa senang sebab akhirnya Dani memperjuangkan dirinya seperti keinginan nya, ia juga merasa sedih sebab harus mengecewakan pria yang selama ini baik kepada nya. Namun memang, perasaan tak bisa di paksa.


__ADS_2