SETELAH DI CERAI

SETELAH DI CERAI
bab 103


__ADS_3

"Alhamdulillah kami baik-baik semua mbak. Apalagi setelah kerja di kebun mbak Rani ekonomi keluarga kita jadi lebih baik mbak. anak-anak bisa sekolah ke jenjang yang tinggi. Apalagi sekolah anak kecil sama TK itu cuma bayar yang buat seragam aja. Kami bersyukur dan sangat berterima kasih karena mbak Rani mau membantu warga desa ini meskipun udah ngga tinggal di sini lagi. Jalan-jalan juga sekarang sudah bagus, sudah ngga becek lagi kalau musim hujan. Kami juga ngga harus berhutang sama rentenir karena sudah memiliki upah dari mbak Rani" ucap seorang ibu dengan antusias.


Zaifa menanggapi ucapan ibu dengan tersenyum, ia merasa bahagia karena semua yang ia lakukan tidak sia-sia.


"semoga bermanfaat ya ibu-ibu, maaf saya ngga bisa bantu banyak"


"owalah,, itu aja udah banyak sekali mbak. Kalo ngga ada mbak Rani entah jadi nya bagaimana kami ini yang cuma ibu rumah tangga. juragan desa mana mau memperkerjakan wanita-wanita"


"bahas apa to kok seru sekali" ucap mbok Lasmi yang baru keluar, di tangan wanita baya itu ada beberapa amplop.


"ini Lo yu, mbak Rani makin cantik, kulit nya makin bersih. Oalah, suami nya juga ganteng banget"


Raihan yang mendengar pujian dari ibu-ibu itu hanya tersenyum tipis. Pesona nya memang tak bisa di ragukan bahkan ibu-ibu pun kagum pada nya.


"ini upah nya ya yu. Hari ini dapat sedikit bonus dari mbak Zaifa"


"makasih banyak Lo mbok dan mbak Rani juga. Kami pamit dulu mau sekalian belanja ke warung."


Ibu-ibu itu pun pergi dari rumah Zaifa. Zaifa pindah duduk di kursi begitu pun Raihan.


"mbok ke dalam ya non"


"iya mbok"


"kenapa mereka masih manggil kamu dengan sebutan Rani yang?" tanya Raihan.


"mungkin itu sudah kebiasaan mereka mas, tiga tahun aku disini dan mereka terbiasa memanggil ku dengan sebutan Rani jadi wajar jika mereka tetap memanggil ku seperti itu"


Apa yang di katakan Zaifa tak sepenuhnya salah. Mereka para warga desa sudah terbiasa memanggil nya dengan sebutan Rani. dan untuk panggilan Zaifa membuat mereka sedikit kesulitan memanggil karena lidah jawa mereka begitu kental. Biasanya masyarakat Jawa melafalkan huruf z menjadi j dan huruf f menjadi p. Maka mungkin jika mereka memanggil Zaifa bukan lagi Zaifa yang benar melainkan jaipa.


"itu mobil apa?" tanya Raihan saat melihat dua mobil pick up belok di halaman rumah.


"itu mobil yang mengangkut hasil panen mas. Untuk di pilah kemudian di bawa ke kota"


Raihan mengangguk dan memperhatikan mobil itu berhenti kemudian sopir mobil itu keluar dan berjalan tergesa ke arah Raihan dan Zaifa.


"assalamualaikum" ucap kedua sopir itu.


"wa'alaikum salam" jawab Zaifa dan Raihan ramah.


"ini benar mbak Rani, ya Allah gimana kabar nya mbak"


"Alhamdulillah baik pak, bapak sendiri bagaimana?"


"baik mbak. Kami baik, bahkan lebih baik dari sebelumnya"

__ADS_1


"udah sampe?" tanya mbok Lasmi keluar rumah.


"sudah yu, ini tinggal Milah terus kami mau langsung ke kota sore ini juga. Soalnya besok mau panen padi"


"wahh, sudah mau panen rupa nya pak" tanya Zaifa


"iya mbak. Panen kali ini kayak nya lebih baik lagi"


Zaifa mengangguk, Raihan karena ingin berkenalan dengan kedua sopir yang terlihat sangat akrab dengan istri nya itu pun berdiri dan berjalan ke arah bak mobil bersama kedua sopir tadi.


"ehh mau ngapain mas?" tanya salah satu dari mereka.


"saya mau bantuin pak"


"waduh, ngga usah. Nanti tangan mas nya kotor dan bau. Mending mas nya duduk sama mbak Rani aja"


"enggak apa-apa pak, sayur nya kelihatan segar kok bapak tenang saja"


Supir itu menoleh ke arah Zaifa dan di angguki oleh Zaifa. Akhirnya kedua nya membiarkan pria tampan itu membantu pekerjaan mereka.


***


"ala antuk om ma"


"Iyah"


"sebentar lagi mau senja loh, ngga baik tidur senja nunggu nanti kalo udah Maghrib ya sayang" sela mama Niken.


Rara kecil pun mengangguk kemudian dengan manja menyandarkan tubuh kecil nya di lengan Rama yang sedang duduk di sofa.


"kangen mama?" tanya Rama yang melihat bocah itu galau.


"Iyah" jawab Rara cepat dan dengan senyum mengembang.


"tunggu sebentar ya"


Rama meraih ponsel nya di atas meja kemudian mencari kontak Zaifa. Ia langsung menekan tombol panggilan video dan tak berapa lama pun langsung tersambung. Hanya beberapa saat hingga kemudian wajah Zaifa memenuhi layar ponsel nya.


"mama..." seru Rara ceria.


"hai sayang, sudah mandi?" tanya Zaifa.


"udah"


"rewel nggak tadi di rumah sama Oma sama om"

__ADS_1


"endaakk"


"pinter anak mama, Rara kangen ya sama mama"


Rara pun mengangguk lucu kemudian mata jernih nya seperti melihat ke sekeliling Zaifa. Zaifa yang sadar pun tersenyum.


"Rara nyari papa?"


Sekali lagi bocah itu mengangguk cepat.


Sementara Zaifa yang sudah masuk ke dalam rumah pun kembali keluar dan menemui Raihan.


"mas" panggil Zaifa.


Raihan yang sedang duduk di teras karena baru saja selesai memilah hasil kebun menoleh, tampak keringat di wajah nya yang membuat nya justru bertambah tampan.


"kenapa sayang?"


"Rara"


Raihan langsung menghampiri Zaifa dan duduk di kursi teras.


"hai princess papa" sapa Raihan.


"aii papa..."


"princess papa cantik banget" puji Raihan.


Di sebrang sana tampak Rara menyembunyikan wajah nya di lengan Rama karena merasa malu. Dan itu membuat kedua orang tua nya tertawa begitu juga Rama dan mama Niken yang melihat tingkah gemas Rara.


Mereka pun akhirnya mengobrol hingga senja muncul dan waktu Maghrib telah terdengar. Zaifa dan Raihan bergantian mandi. Ponsel itu tetap menyala dan menampilkan wajah mungil Rara. Rara awas melihat ke mana saja layar itu tampak. Karena Zaifa sedang menunjukkan kamar dan ruang-ruang di rumah itu sembari menunggu Raihan mandi.


***


"bagaimana pencarian nya San, apa ada petunjuk?" tanya ibunda Rafli pada Santi.


"belum ada Bu, padahal aku sama mas Rafli sudah keliling desa tapi ngga ada yang tau keberadaan bapak"


"memang semenjak kalian pergi bewok sudah tidak kembali ke rumah lagi karena rumah itu sudah di jual oleh Dewi" jelas bapak dari Rafli.


"terus gimana pernikahan aku sama mas Rafli pak"


kedua orang tua Rafli saling pandang kemudian menghela nafas. Bagi mereka para warga desa ketika akan menikah dan itu adalah anak perempuan maka ayah kandung lah yang harus menjadi wali nikah. Jika pun di wakil kan oleh pihak KUA maka minimal ayah kandung tetap harus hadir dalam akad itu.


Entah kemana ayah dari Santi itu. Padahal yang tidak di ketahui oleh orang banyak adalah ayah kandung Santi diam-diam mengamati sang putri. Ia menunggu waktu yang tepat untuk muncul dan sebuah rencana licik siap di jalan kan nya.

__ADS_1


__ADS_2