
"Dani aku harap kamu ngga salah paham sama aku" ucap Fatma.
Dani mengangkat satu alis nya, sejak kapan panggilan mereka menjadi aku kamu.
"sejak kapan aku kamu?" tanya Dani.
Fatma jadi di buat kikuk, entah mengapa rasanya sekarang ia akan lebih nyaman jika menggunakan sebutan aku kamu. tapi sepertinya Dani tidak terima.
"lupakan. Salah paham soal apa?" tanya Dani lagi.
Sungguh Dani baru melihat Fatma si gadis tomboy gugup di hadapan nya. Seminggu yang lalu gadis ini bahkan masih bisa berkata judes di depannya bahkan sampai menolak nya mentah-mentah.
"soal kemarin itu, aku harap kamu ngga salah paham. Aku sama dia ngga ada hubungan apa-apa, serius" jelas Fatma.
Dani terdiam, apa tujuan Fatma menjelaskan kepada nya. Tunggu.. Apakah mungkin Fatma mulai suka kepada nya sehingga ia takut jika Dani akan salah paham.
"jadi....."
"aku duluan ya, aku harus jagain ibuk ku" pamit Fatma.
Dani menghela nafas nya dan menyimpan pertanyaan yang ingin di ajukan sebab melihat dokter Nana masuk ke ruangan rawat nya.
"selamat pagi Dani..." sapa dokter Nana.
"selamat pagi Tante" balas Dani cerah.
"seperti nya pagi ini suasana nya lebih baik"
"he he, iya Tan"
"udah sarapan?" tanya dokter Nana melirik kotak nasi di atas meja.
"su..dah"
"jadi sekarang tinggal minum obat ya, ini obat nya silahkan di minum"
Dani menerima beberapa butir obat yang di berikan oleh dokter Nana lalu meminum nya.
"kapan aku boleh pulang Tan?"
"mungkin nanti sore, jika kau sudah tidak merasa lemas lagi"
"baik lah."
"kalo begitu Tante tinggal dulu ya, kau jangan lupa istirahat. Jika butuh apa-apa kau tinggal pencet tombol itu"
Dani mengangguk, ia kemudian merebahkan tubuhnya dan mulai memejamkan mata.
***
__ADS_1
"akhirnya sampai di rumah" seru Raihan bahagia.
"barang-barang nya biar nanti aja yank, sekarang kita masuk dulu yuk"
Zaifa menyipitkan matanya menatap curiga ke arah Raihan. Mereka baru saja sampai ke rumah pribadi milik Raihan dan Raihan sudah mengajak masuk tanpa menata barang terlebih dahulu.
"jangan menatap ku seperti itu" ucap Raihan.
Zaifa hanya mendengus kemudian bergegas masuk ke dalam rumah dan menuju dapur untuk memasak makan siang.
"sayang.... Kok kesini sih"
"aku mau masak mas"
"jangan masak dulu lah. Nanti aja kita delivery order" ucap Raihan.
"tapi aku pengen masak"
"sayang, kita main aja yuuukkk"
Drrrttt
Drrtttt
"hp kamu bunyi tuh" ucap Zaifa.
Raihan berdecak dan mengutuk siapa yang mengganggu waktu nya saat ini. Ia mengambil ponsel nya dari saku dan melihat nama Alex yang menghubungi nya.
"tu-tuan, tolong saya" ucap Alex.
Raihan mengernyit, nada bicara Alex begitu cemas dan terkesan takut.
"kamu dimana?"
"saya di kantor tuan,"
Raihan langsung mematikan sambungan telepon nya dan memasuki mobil nya kembali. Zaifa yang melihat itu pun mengelus dada nya bersyukur. siang ini ia bisa terbebas dari kungkungan sang suami. Zaifa pun berlalu ke dapur dan siap bertempur dengan alat perdapuran.
Sedang Raihan mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi, ia takut terjadi apa-apa dengan Alex. Meskipun Alex adalah sekretaris nya yang handal, tapi di beberapa situasi Alex juga bisa menjadi manusia biasa yang bersembunyi di balik punggung Raihan.
Apakah saat ini Alex sedang menghadapi diskusi alot dengan klien?
Atau kah ada masalah dengan perusahaan selama ia cuti?
Raihan hanya bisa menerka-nerka, hingga kemudian memacu mobil nya lebih cepat. Tak berapa lama Raihan sampai di kantor nya. Ia segera berjalan cepat memasuki lift dan menuju ruangan Alex.
Brak..
pintu di buka dengan kasar, Raihan menahan napas ketika melihat ruangan Alex sudah seperti kapal pecah. Di lihat nya Alex yang sedang duduk bersimpuh di hadapan seorang wanita. Mata Raihan menajam, amarah nya langsung tersulut saat tau siapa perempuan itu.
__ADS_1
"Raihan, sayang... kau sudah sampai?" tanya perempuan itu mendekati Raihan.
Raihan mundur beberapa langkah, ia bergidik ngeri melihat perempuan di depan nya. Perempuan yang sudah lama hilang tiba-tiba muncul kembali.
***
"rumah nya sepi bee" ucap Diva pada Boby.
"mungkin semua lagi kerja"
"biasa nya Zaifa di rumah"
Boby dan Diva menatap rumah mama Niken yang terlihat sepi, bahkan dia mobil di garasi tak terlihat yang itu berarti Niel atau pun mama Niken sedang tidak di rumah.
"atau mau ke butik Tante Niken aja, siapa tau disana kamu bisa menghilang kan bosan dengan memilih gaun atau pun dress yang kamu inginkan" bujuk Boby.
"tapi aku pengen ketemu Zaifa" ucap Diva ngotot.
"baiklah, kita ke butik Tante Niken dulu lalu setelah itu meminta Tante Niken untuk menghubungi Zaifa. bagaimana?"
"sepakat"
Mereka pun masuk ke dalam mobil dan menuju butik mama Niken. Di dalam mobil Diva memejamkan matanya dan hanya butuh beberapa detik sampai ia berlabuh ke alam mimpi.
Boby meraih ponsel nya dan menghubungi nomor Raihan, namun tidak di angkat. Hingga beberapa kali namun hasil nya sama. Boby pun menghubungi Niel berharap Niel menjawab panggilan nya. Namun hasil nya sama, yang Boby tidak tau bahwa saat ini baik Raihan ataupun Niel sedang di sibukkan dengan sesuatu.
Raihan di sibukkan dengan seorang wanita gi*la yang mengaku sebagai calon tunangan nya. Bahkan wanita ini lebih gi*la daripada Ulfa si perempuan ulat. Ulfa sudah lama pergi dari hidup Raihan sejak perempuan itu kepergok mabuk dan tidur dengan pria lain. Sejak itu Raihan merasa ilfeel dan akhirnya Ulfa pergi.
Dan sekarang seorang wanita dengan dandanan menor, pakaian nya yang terlampau minim ada di ruangan sekertaris nya, Alex.
"siapa dia Lex?" tanya Raihan.
"sa-saya tidak tau tuan. Tadi dia mengetuk pintu dan ketika saya membuka nya tiba-tiba ia langsung menanyakan keberadaan tuan dan ketika saya menjawab tuan tidak ada di kantor dia melempar benda apa saja yang ada di ruangan ini." jelas Alex.
Raihan langsung menghubungi security di bawah. tak lama security itu datang bersama beberapa orang dengan seragam putih.
"permisi pak" ucap security itu.
"maaf pak, ini kelalaian saya, dia adalah salah satu pasien di rumah sakit jiwa. Dia memiliki seorang kekasih bernama Raihan, tapi kekasih nya itu pergi meninggalkan nya dia mengalami depresi hebat dan akhirnya kejiwaan nya terguncang." jelas petugas rumah sakit jiwa.
"apa-apaan ini?" gumam Raihan.
Kantor berlantai lima belas milik nya di masuki oleh orang gi*la?
Raihan tak habis pikir, baru seminggu di tinggal nya tapi kantor nya sudah di masuki oleh orang tidak waras.
"maaf sekali lagi pak, ini benar-benar kelalaian kami" ucap petugas itu lagi dengan wajah pucat.
"sebaiknya bapak-bapak segera pergi" ucap Alex melirik ke arah bos nya.
__ADS_1
petugas rumah sakit jiwa itu pun pergi dengan membawa gadis gi*la tadi. Raihan menatap ke arah security dan membuat security itu menciut.