SETELAH DI CERAI

SETELAH DI CERAI
bab 97


__ADS_3

Pagi ini kediaman mama Niken di buat ribut karena Rara yang terus rewel. bahkan bocah itu sama sekali tidak mau turun dari gendongan sang papa. Zaifa sudah membujuk dengan berbagai cara tapi ketika Rara di gendong oleh Zaifa dan Raihan beranjak bocah itu akan menangis.


Tak hanya Raihan, bahkan mama Niken yang sudah bersiap akan pergi ke butik pun di tangisi oleh bocah itu. Ia meronta dari gendongan sang papa tapi ketika mama Niken akan menggendong nya bocah kecil itu tak mau.


"Rara kenapa ya ma? Apa dia sakit, tapi badan nya ngga panas" ucap Zaifa sedih.


Mama Niken dan Zaifa memandang ke arah Rara yang sedang di gendong oleh Raihan. Bocah itu tampak sangat nyaman menyandarkan kepala nya di bahu sang papa. Raihan terus berdiri sembari menggendong sebab ketika Raihan duduk Rara akan menangis.


"maa....." panggil Zaifa.


"iya sayang, Rara mau ikut mama. Mau di gendong mama?" ucap Zaifa mengulurkan tangannya pada Rara.


Namun bocah kecil itu menggeleng, ia semakin mengeratkan pelukan nya pada leher Raihan.


"Rara sama mama bentar yuk, biar papa sarapan dulu ya. Kasian loh papa belum makan pagi" ucap Zaifa lembut.


Rara tak bergeming. entah apa keinginan bocah itu sehingga tidak mau turun dari gendongan. Padahal saat bangun tidur sempat bermain bersama Zaifa dan membiarkan sang papa memakai pakaian kerja. tapi ketika Raihan sudah siap berangkat bocah itu menangis kencang dan merangkak mengejar sang papa. Akhirnya Raihan mengalah karena tak tega melihat Rara yang menangis sesenggukan.


"enggak apa-apa ma, nanti biar papa makan kalo Rara udah tidur" ucap Raihan.


"kalo gitu aku suapin Rara dulu mas, nanti gantian mas yang aku suapin"


Raihan mengangguk, jas kerja nya masih menempel di badan nya karena tadi belum sempat di lepas.


"Rara mau sama Oma? Biar papa sarapan dulu. Rara sarapan sama mama ya di depan sana sambil liat om Rafli. Oke?"


Mama Niken memandang sang lucu yang terlihat lemas. Setelah lama Rara hanya memandang tangan mama Niken yang terulur akhirnya Rara mau berpindah di gendong oleh mama Niken.


"kamu sarapan dulu gih Rai, nanti bilang sama Zaifa kalo Rara sama mama di depan"


"iya ma"


mama Niken berlalu, wanita setengah baya itu selalu mengajak sang cucu mengobrol meskipun Rara tak menanggapi seperti biasa nya. Raihan melepas jas hitam nya, ia merasa sedikit gerah karena menggendong putri nya cukup lama. Raihan menyampir kan jas itu pada sofa kemudian berlalu ke ruang makan.


"Rara mana mas?" tanya Zaifa yang kebetulan baru keluar dari ruang makan.


"sama mama di depan" jawab Raihan.


"syukur deh kalo Rara mau sama mama. Kamu sarapan dulu mas, biar aku suapin Rara"

__ADS_1


Raihan menahan tangan Zaifa, ia langsung memeluk tubuh sang istri. Zaifa menepuk pundak Raihan dengan lembut agar daya semangat Raihan kembali terisi penuh.


Raihan melepas pelukan itu dan langsung meraih tengkuk Zaifa. Di lu*at nya bibir manis sang istri hingga menimbulkan suara decapan yang menandakan keduanya sama-sama menikmati ciuman itu. beruntung saat ini para pelayan tidak ada yang ke ruang makan.


Zaifa memukul dada Raihan karena ia hampir kehabisan nafas.


"hah hah hah...."


"kau keterlaluan mas" ucap Zaifa.


"mas sangat merindukan mu" ucap Raihan mengecup dahi Zaifa.


"sarapan dulu, nanti kalo Rara sudah anteng baru"


"apa....?"


Zaifa hanya mengangkat bahu dan berlalu meninggalkan Raihan yang mematung di tempat. Namun kemudian setelah beberapa saat ia tersenyum lebar.


"semoga saja Rara anteng sama mama" ucap Raihan terkekeh.


Raihan duduk di kursi makan dan memulai sarapan nya yang sangat terlewat sebab saat ini jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi.


***


Tuan Hadi memandang Rama dengan senyuman tipis. Ia sudah menunggu ini sejak lama. Di pandang nya sang putri yang duduk di sebelah nya. Patricia terlihat malu-malu namun tuan Hadi bisa menebak bahwa sang putri sangat bahagia.


"om tunggu kedatangan mu bersama keluarga mu nanti malam nak. Om sudah lama sekali ingin menyaksikan putri satu-satunya om menikah"


Patricia mendongak, di tatap nya sang papa yang sudah membesarkan dirinya seorang diri. Patricia memeluk sang papa, pelukan hangat yang selama ini menjadi tempat ternyaman ketika ia sedih, senang, bahagia atau pun menangis.


Rama bisa melihat sebuah cinta yang besar dari tuan Hadi untuk sang putri. Dalam hati Rama berjanji akan berusaha untuk selalu membuat gadis di depannya bahagia.


"saya pasti akan datang om. kalau begitu saya permisi"


Tuan Hadi mengangguk, ia ikut beranjak bersama Patricia karena hendak mengantar kan tamu nya sampai ke depan. Patricia melambaikan tangan nya ketika mobil Rama sudah berjalan.


"kau bahagia sayang.?" tanya tuan Hadi.


"papa pasti lebih tau" jawab Patricia membuat tuan Hadi terkekeh.

__ADS_1


Mereka pun masuk kembali ke rumah dan memanggil para pelayan untuk mempersiapkan acara pertunangan nanti malam. Acara nya cukup private dan di lakukan di rumah tuan Hadi.


***


"selamat siang Tante...." sapa Rama menghampiri mama Niken yang sedang duduk di kursi tidur dekat kolam renang.


"siang Rama. Duduk sini. Tante lagi nyari angin tumben Rara rewel dari tadi" ucap mama Niken.


"hai princess" sapa Rama membuat Rara yang menghadap ke belakang menoleh.


"Ama...." ucap Rara menyapa Rama.


"iya ini om Rama, princess Rara kenapa hem kok tumben minta gendong Oma?"


Di luar dugaan, tiba-tiba Rara mengulurkan kedua tangan nya minta di gendong oleh Rama. dan tentu saja itu tidak di tolak oleh Rama.


"Raihan sama Zaifa kemana Tan?"


"Raihan lagi meeting zoom karena Rara ngga mau di tinggal ke kantor. Kalo Zaifa lagi makan siang. Kamu udah makan siang belum?"


Rama menggeleng, ia menimang Rara hingga mata Rara perlahan menutup.


"bawa ke dalam aja Ram, kayak nya Rara ngantuk" ucap mama Niken dengan suara kecil.


Rama pun mengangguk, ia membawa Rara masuk ke dalam melalui pintu samping yang langsung terhubung ke ruang makan. Disana Zaifa sedang menikmati makan siang nya yang terlihat sangat nikmat.


"kak Rama" sapa Zaifa.


"sini biar Rara sama Tante, kamu makan siang dulu"


Rama menyerahkan Rara pada mama Niken beruntung Rara tak menangis. Bocah itu mengecap jari nya seperti sedang minum su**.


"Zaifa tinggal ya kak. takut nya nanti Rara nangis"


Rama mengangguk, ia mengambil piring dan mengisi piring nya dengan makanan yang terhidang. Ia pun memulai makan siang nya dengan hikmad.


"Rara tidur ma?" tanya Zaifa yang melihat mama Niken di ruang keluarga.


"iya. semoga bangun tidur tidak rewel lagi"

__ADS_1


Zaifa mengangguk dan melihat sang putri yang tengah tertidur tapi mulut nya seperti bergumam sesuatu.


"iill... Iilll*


__ADS_2