
"Rama, kau menyembunyikan sesuatu?" tanya Dani.
"apa?" tanya Rama tak mengerti.
"katakan bukan kah Fatma berkunjung kesini tadi?"
"entah lah, aku datang terakhir jadi tidak tau." sanggah Rama.
"memang nya ada apa?" tanya Niel menyela.
"aku hanya merasa jika....."
"apa?" tanya Rama dan Niel bersamaan.
Dani menghela nafas sebentar kemudian menatap Niel dan Rama bergantian.
"entah sadar atau tidak aku seperti merasa Fatma datang dan membisikkan sesuatu bahkan ia sempat mencium bibir ku sebelum pergi. tapi aku seperti tidur saat itu, ingin membuka mata pun tak bisa. Rasanya sungguh berat. Dan ketika aku membuka mata yang aku lihat justru kalian" jelas Dani.
"kau tak suka kami datang?" tanya Rama sinis.
"bukan itu maksud ku" jawab Dani.
"ah sudah lah, kau lebih baik tidur. Kau tau gara-gara polah mu yang kekanakan aku harus meninggalkan pekerjaan kantor ku" sungut Rama.
"lagipula kenapa kau harus ke tempat Dan, kami khawatir kau tau." ucap Niel.
"sorry. Aku benar-benar kalut kemarin karena melihat Fatma bersama lelaki lain, dan lelaki itu memanggil Fatma dengan sebutan sayang, aku sangat marah dan tanpa pikir panjang aku masuk ke tempat lak*nat itu"
Rama mencibir. "tempat lak*nat tapi kau habis beberapa botol"
Dani hanya nyengir. Kemudian ia membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata. Meskipun matanya terpejam tapi ia masih mencoba mengingat apakah yang di alami nya tadi hanya sebatas mimpi atau memang nyata. Namun memikirkan itu membuat Dani tanpa sadar terbuai oleh tidur nyenyak dan mimpi indah.
Sementara di sofa, Rama dan Niel sudah memejamkan mata. Mungkin mereka merasa lelah sebab seharian ini mengurus Dani.
***
"lu tau kan gua ngga pernah suka sama lu" ucap seorang gadis yang rambutnya di kucir kuda.
"gua paham Fat, ngeliat seberapa lu khawatir sama cowok itu gua langsung tau kalo sebenernya lu suka sama dia. Tapi kenapa lu selalu nolak dia?" tanya cowok itu.
"gua cuma mau bukti kalo emang gua yang dia inginkan. Gua ngga mau kaya cewek-cewek lain yang cuma di jadikan permainan sama dia"
"dan setelah kejadian tadi lu puas? Dia sampe masuk rumah sakit"
"sebenernya gua sedih, secinta apapun dia sama gua harus nya dia tetep mikir kesehatan nya."
__ADS_1
"kalo gitu lu harus temuin lagi dia Fat, dia pasti bahagia kalo lu temuin dia"
"gua pasti jenguk dia, tapi ga tau kapan. Udah ya, gua mau temuin nyokap dulu. Lu ati-ati, ini udah kelewat malem"
"beres"
Fatma pun memandang ke arah pria yang selalu ada untuk dirinya, tak ada yang salah dari pria itu. dari segi harta hampir sama dengan Dani, hanya saja entah mengapa perasaan nya terpaut pada Dani.
Fatma pun berbalik dan menyusuri lorong rumah sakit yang sudah sepi sebab waktu sudah tengah malam. Ia menuju ke ruang mawar nomor 13, ruangan dimana sang ibu di rawat.
***
Pagi menjelang, seorang wanita baya terbangun dari tidur nya. Ia merasakan pegal di punggung dan seluruh tubuh sebab tidur di bangku dalam posisi kaki menekuk. Ia melihat sekeliling, ada penyapu jalanan dan jalan pun sudah ramai oleh pengendara.
Di antara banyak nya pengendara, sebuah mobil terhenti tepat di depan wanita itu. karena jalan yang macet membuat mobil itu harus ikut serta merayap di jalan.
Di dalam mobil, Raihan dan Zaifa tengah mengobrol santai. hari ini kedua nya sudah memutuskan untuk kembali ke kantor. Meskipun ayah dari Raihan menyuruh mereka pergi bulan madu tapi mereka tidak tega membiarkan Alex bekerja sendiri.
Tak sengaja Zaifa melihat ke arah luar, tepat dimana wanita baya tadi sedang memijat tangan nya yang pegal karena di jadikan bantal ketika tidur. Zaifa menyipitkan matanya, otak nya bekerja dengan keras ketika melihat wajah wanita baya itu tidak terlalu asing. Namun, ketika sekelebat bayangan muncul mobil sudah melaju dengan kecepatan sedang sebab jalanan sudah kembali lenggang.
"ada apa sayang?" tanya Raihan.
Raihan menatap spion dan melihat ke belakang, tidak ada apa-apa. hanya ada seorang wanita baya yang memegang tas dan berniat menyebrang jalan.
"enggak apa-apa mas." alibi Zaifa.
Sementara di rumah, Santi dan Rafli sedang sibuk sebab hari ini adalah kepindahan Santi.
"kenapa harus pindah sih San?" tanya mama Niken.
"enggak apa Tante, Santi mau mencoba hidup mandiri aja" jawab Santi.
"Tante tidak akan memaksa, kalo kamu mau main kamu bisa Dateng kesini kapan aja."
"iya Tante, makasih ya"
"udah semua Raf?" tanya mama Niken.
"sudah nyonya" jawab Rafli sembari menutup bagasi mobil.
"kami berangkat ya Tante" ucap Santi mencium tangan mama Niken kemudian mereka berpelukan singkat.
"mari nyonya" ucap Rafli ramah.
Mama Niken pun mengangguk dan memperhatikan mobil itu hingga keluar pagar kemudian masuk kembali ke rumah.
__ADS_1
"hah, akhirnya tetep sendirian aja. punya anak bujang juga ngga tau kemana semaleman ngga pulang. Anak perempuan juga sudah punya suami." gumam mama Niken
entah mengapa tiba-tiba ia merasakan rindu yang menyeruak. Rindu kepada yang telah pergi tak bisa kembali. Mama Niken berjalan, matanya menatap lurus pada figura yang menampilkan seorang lelaki yang tengah tersenyum sembari menggendong bayi perempuan yang cantik.
"mas Pras, putri kita sudah ketemu. Dia tumbuh menjadi gadis cantik yang baik. Bahkan sekarang putri kita sudah menikah dan mungkin sebentar lagi kita akan segera mempunyai cucu. Seandainya kau masih ada di sini mas..." ucap mama Niken sendu, air mata telah jatuh di pipi mulus nya.
***
"kita pamit dulu Dan, jaga diri baik-baik. Nanti dokter Nana bakal kesini buat meriksa keadaan mu lagi" pamit Niel.
"thanks ya bro, sorry ngrepotin" ucap Dani.
"santai aja. kita itu sahabat yang udah kayak saudara, jadi tenang aja. Kalo butuh sesuatu jangan lupa kabarin kita" sahut Rama.
Dani pun mengangguk kan kepalanya dan menatap kedua sahabat nya yang sudah keluar.
"bosen banget, padahal mah udah enggak apa-apa" gumam Dani.
Ceklek..
"kok balik lagi?" tanya Dani.
Dani mengerjapkan matanya, benarkah yang ia lihat pagi ini. Ataukah ia berhalusinasi sebab baru saja meminum obat.
***
"hueekk... Hueekk"
Terdengar suara orang yang sedang muntah di dapur. Boby yang baru selesai berkemas hendak ke kantor pun terkejut melihat sang istri sedang mengeluarkan semua sarapan mereka di depan wastafel.
"sayang... Kenapa?" tanya Boby menghampiri Diva.
Diva hanya menggeleng kan kepalanya kemudian muntah kembali meskipun sekarang hanya air yang di muntah kan nya.
"minum dulu bee" ucap Boby.
Diva menerima gelas yang di berikan oleh Boby dengan tangan bergetar. Sungguh ia merasa sangat lemas sekali.
"kita periksa ya" ajak Boby lembut.
tak tega rasanya melihat wajah sang istri yang terlihat pucat padahal tadi malam wajah itu terlihat manis menggoda.
"hueekk...."
Diva kembali muntah dan setelah beberapa saat ia kehilangan kesadaran.
__ADS_1
"sayang.... Diva... Heii" panik Boby menyentuh pipi Diva.