
"ibu-ibu kalo misal manen nya hari ini full sampe sore gimana? Soalnya besok saya mau ke kota mau berkunjung ke rumah nom Zaifa" ucap bik Surti kepada ibu-ibu pekerja di kebun.
Bik Surti membawakan mereka camilan untuk istirahat siang hari sekaligus memberikan bahwa besok ia akan ke kota.
"non Zaifa iku sopo (itu siapa) Sur?" tanya ibu yang lebih tua dari bik Surti.
"owalah, saya lupa yu, non Zaifa itu ya non Rani. ternyata nama asli non Rani itu Zaifa Kamalia." jelas bik Surti.
"lah, piye to Iki (gimana ini)? perasaan dulu namanya Maharani toh?"
"iya, ternyata itu cuma nama samaran karena alasan tertentu. Nama asli nya ya Zaifa Kamalia"
"lah kenapa sampean mau ke sana bik?" tanya ibu yang lain.
"tadi malam non Zaifa menggelar acara tiga bulanan kehamilan, saya mau kesana sekalian jenguk. Udah lama banget loh ngga ketemu, saya kangen"
"owalah, iya. nanti titip salam ya bik buat mbak Rani, kapan-kapan suruh kesini. Kami juga kangen"
"iya wes, jadi gimana? Bisa kan kalo hari ini sampe sore. tapi kan besok libur"
"ya wes, enggak opo-opo (ya udah, enggak apa-apa)"
Setelah mendapat persetujuan dari ibu-ibu itu bik Surti pun kembali ke rumah. Sebelum itu ia mampir ke penjual bahan-bahan dapur di sana. Meskipun perkebunan Zaifa luas tapi perkebunan itu hanya di tanami sayuran untuk restoran. Seperti, sawi, brokoli, timun, tomat, dan ada beberapa yang di tanami padi.
Jadi hik Surti ingin berbelanja jengkol dan udang, serta ikan asin pesanan Zaifa. Zaifa juga berpesan agar bik Surti memasak rendang dan semur jengkol. Bik Surti ingin segera memasak itu agar nanti sore makanan nya sudah siap. Sebab nanti malam bik Surti akan langsung segera ke sana dengan di jemput oleh Rafli.
"kok belanja akeh men (banyak sekali) Sur?" tanya Mbah penjual nya.
"Iyo Mbah, saya mau ke kota pengen ketemu sama non Rani" jelas bik Surti.
Mungkin di desa itu nama Zaifa terasa asing, oleh sebab itu Bik surti tetap memanggil Zaifa dengan Rani. Nama yang sudah di kenal dan mendarah daging di desa itu.
"owalah, titip salam ya. Aku Yo kangen sama gadis baik itu"
__ADS_1
"sekarang udah nikah Mbah, udah mau punya anak juga"
"lha mosok, Alhamdulillah. Semoga pernikahan nya langgeng sampai maut memisahkan. persalinan nya juga nanti semoga lancar, sehat-sehat terus"
"aamiin, makasih Mbah. Saya permisi dulu kalo begitu mau langsung masak"
"iya wes"
Bik Surti pun melanjutkan perjalanan, sampai di rumah ia terkejut karena ada dua gadis yang sudah menunggu nya.
"Ono opo (ada apa)" tanya bik Surti.
"hee,, katanya besok bik Surti mau ke rumah buk Rani kan? kami titip ini ya bik, dengar-dengar buk Rani sekarang hamil jadi semoga ini bermanfaat" ucap salah satu gadis itu memberikan dua bungkus kado.
"iya, nanti tak sampaikan"
"bilang juga makasih ya bik sama buk Rani, sebab kalo bukan karena buk Rani kita ngga akan bisa kerja jadi guru di sekolah milik buk Rani" ucap gadis satu nya.
"iya, nanti tak sampaikan. yang terpenting kalian semangat terus ngajar nya. yang sabar kalo ngadepi anak kecil,"
"kalo gitu kami permisi"
bik Surti mengangguk, ia pun masuk ke rumah dan meletakkan dua kado itu di sampingnya koper agar ia tak lupa. Setelah itu bik Surti pun ke dapur dan bersiap memasak pesanan Zaifa.
***
"sayaaang.....!!!!" seru Zaifa ketika memasuki ruangan Raihan.
Zaifa langsung membuka pintu tak peduli jika saat ini Raihan sedang melakukan meeting di ruangan nya.
Zaifa tak peduli dengan pria dan wanita yang sedang duduk di sofa dan menatap nya. Zaifa terus berjalan dan langsung duduk di pangkuan Raihan. Raihan melirik ke arah Alex dan Alex langsung paham dengan lirikan itu.
"mari tuan dan nona, kita lanjutkan meeting di ruangan saya" ajak Alex.
__ADS_1
klien pria itu pun mengangguk dan mengikuti langkah kaki Alex, sementara klien wanita nya mendengus kesal dan menatap tak suka ke arah Zaifa. tapi dia tetap berdiri dan mengikuti Alex.
"kenapa hm?" tanya Raihan.
"aku ingin makan donat dengan topping saus dan kecap" ujar Zaifa.
"baik lah, kita cari donat sekarang ya"
Zaifa menggeleng, ia justru memeluk Raihan dan menyandarkan kepala nya di dada Raihan.
"aku ingin kalo mas Rai yang membuat donat itu"
nafas Raihan tercekat, ia memang bisa masak namun hanya untuk sekelas makanan yang siap saji seperti mie, telur, spaghetti, jika untuk donat, tentu saja ia tak bisa.
"sa-sayang... Bagaimana kalo kita ke rumah mama Niken dan meminta mama untuk membuatkan donat sesuai permintaan mu" tawar Raihan.
Zaifa diam, kemudian mendongak menatap Raihan dengan mata berkaca-kaca. Raihan di buat kalang kabut oleh istri nya itu. Sejak kehamilan nya Zaifa memang selalu meminta sesuatu yang aneh-aneh. pernah ketika malam hari Zaifa ngidam makan mangga muda dan harus di petik langsung dari pohonnya. Alhasil Raihan membangunkan seisi rumah untuk membantu menyari pohon mangga.
Setelah dua jam akhirnya mereka mendapat kan mangga itu dan ketika kembali ke rumah Zaifa sudah kembali tertidur. Raihan hanya menatap nanar Zaifa yang dengan nyaman memeluk guling dan berselimut tebal. Ingin marah, tapi ia ingat bahwa ini adalah permintaan calon anak nya.
"mas Rai diam? mas Rai benar-benar ngga mau bikinin aku donat" tanya Zaifa.
bibir Zaifa bergetar menahan tangis, Raihan menghirup udara sebanyak-banyaknya dan menghembuskan perlahan. Ia pun tersenyum sangat manis kepada sang istri.
"mana mungkin, mas Rai akan melakukan apapun yang Zaifa minta. jadi bukan kah kita harus berbelanja terlebih dahulu agar sampai rumah kita bisa langsung membuat donat nya"
"bukan kita, tapi hanya mas Rai"
"iya, hanya mas Rai"
Zaifa pun beranjak dan memberikan kecupan singkat di bibir Raihan.
"terima kasih sayang" ucap Zaifa ceria.
__ADS_1
Bahkan air mata yang tadi siap di tumpah kan telah hilang entah kemana. Raihan hanya tersenyum tipis, anak nya memang suka sekali mengerjai dirinya. padahal saat ini ia sedang meeting penting tapi anak nya sudah mengganggu dirinya. tapi apakah Raihan marah, tentu saja tidak. Sebab ia sadar bahwa ia yang membuat Zaifa jadi hamil dan ngidam seperti ini. Beruntung Alex bisa di andal kan, jadi ia tak terlalu kepikiran dengan pekerjaan jika sewaktu Zaifa rewel seperti ini.
Mereka keluar dari kantor dengan bergandengan tangan. mereka masuk ke mobil dan Raihan melajukan mobil nya ke pusat perbelanjaan untuk membeli bahan-bahan membuat donat.