
Rama menatap gadis di depan nya dengan tatapan tak bisa di percaya. Ingin rasa nya merengkuh tubuh berbalut gamis berwarna coklat itu untuk mengungkapkan rasa bahagia nya karena bertemu. tapi, mengingat ia telah menyakiti gadis itu ia pun memilih pergi.
Ketika Rama hendak pergi Patricia menghalangi langkah Rama. Ketika Rama bergeser ke kiri maka Patricia menghadangi. ketika Rama geser ke kanan Patricia pun mengikuti. Hal itu berulang beberapa kali hingga Rama kesal sementara Patricia terkekeh.
"aku akan ke kamar mandi" ucap Rama.
"silah kan"
Rama melangkah pergi tapi kembali di halangi oleh Patricia.
"hentikan" seru Rama.
"kenapa? Bukan kah kau ingin berbicara dengan ku?"
"bahkan kau datang-datang pagi buta ke rumah ku kan?"
"kau tau?" tanya Rama dengan mata memicing.
Patricia mengangkat bahu nya acuh kemudian berbalik. Namun baru selangkah Patricia pergi tangan nya di tahan oleh Rama. Patricia melirik jangan yang di pegang oleh Rama. Ada rasa hangat ketika telapak tangan besar milik Rama menggenggam pergelangan tangan nya.
Patricia pun menatap datar ke arah Rama. Meskipun sebenarnya dalam hati ia menahan gejolak bahagia sebab dari pandang Rama terlihat sebuah kerinduan dan setitik cinta untuk nya.
"apa lagi? Aku bukan baju yang bisa kau gantung seenak dirimu. Aku lelah dengan hubungan tanpa kepastian, biarkan aku pergi" ucap Patricia melepas kasar genggaman tangan Rama.
Rama kembali meraih tangan Patricia dan menyentakkan tubuh gadis itu hingga menabrak tubuh nya. Patricia tercengang, jantung nya jelas berdebar tak karuan. Ia menatap Rama kemudian mendorong tubuh Rama agar menjauh tapi Rama memeluk Patricia dengan erat.
"mari kita menikah" ucap Rama setelah beberapa saat memeluk Patricia.
Patricia berhenti memberontak, mendengar ajakan menikah dari Rama entah mengapa membuat ia bahagia. Bibir nya tersungging senyum tipis tapi ia tetap memasang wajah datar.
"berhenti membual. Bukan kah kau memiliki prinsip tidak akan menikah"
Rama terdiam, ia menduga pasti ada salah satu sahabat nya berkhianat dan membicarakan kesedihan nya di masa lampau. tapi itu tak penting sekarang. Karena ia harus meyakinkan Patricia bahwa dirinya benar-benar ingin menikah dan menghapus duka masa lalu.
"ekhem...."
suara deheman membuat Patricia dan Rama saling melepas pelukan. mereka memandang kikuk ke arah tuan Hadi yang sedang menghampiri mereka. Rama mencoba tersenyum ramah, sementara Patricia menghindari tatapan mata sang papa.
"pa-papa.." sapa Patricia.
__ADS_1
"kenapa? Papa tak melihat apapun" ejek tuan Hadi.
"papa..." rengek Patricia membuat tuan Hadi terkekeh sementara Rama merasa gemas dengan gadis di sebelah nya.
"acaranya sebentar lagi di mulai dan kalian justru berpacaran disini"
"papa!" teriak Patricia.
"ayo lekas ke depan. Bukan kah kau tadi berpamitan hendak ke kamar mandi lalu mengapa kau berhenti disini?" tanya tuan Hadi.
Rama menggaruk tengkuk nya yang tak gatal. Bahkan rasa kebelet nya telah hilang entah kemana.
"mari kita kembali ke depan nak Rama"
Mereka pun kembali ke depan meninggalkan Patricia yang tersenyum manis memandang ke arah dua pria yang di cintai nya.
"awas kesambet!" seru seseorang dari belakang Patricia.
"kak Fatma!" seru Patricia.
Fatma terkekeh, sudah sering dirinya mengatakan bahwa Fatma adalah wanita berusia 26 tahun tapi wanita di sekeliling nya malah memanggil nya dengan sebutan kakak atau mbak. Namun, ia memilih abai, sebab ia menikah dengan Dani yang berusia 34 tahun jadi mereka menganggap Fatma seorang kakak.
"kenapa justru disini? Apakah kau baru saja melihat pangeran sehingga kau tersenyum sendiri di sini?" ejek Fatma.
Patricia terkekeh, ia pun menggeret lengan Fatma dan mengambil kekurangan souvernir.
Acara demi acara telah di selesaikan. Banyak tetangga yang hadir, Raihan, Niel dan beberapa teman nya beserta tuan Bram termasuk Tuan Hadi ikut memberi kan amplop kepada para anak yatim dan anak dari panti asuhan. Sementara mama Niken dan nyonya Adrin memberikan beberapa bungkus makanan yang tersisa untuk di berikan kepada anak yatim agar di bawa ke panti asuhan.
Anak-anak panti itu terlihat bahagia sekaligus terharu. perut mereka kenyang, mereka membawa berkat, mendapat souvernir dan sekarang mendapat amplop. mereka menyalami satu per satu orang-orang yang memberikan amplop kepada mereka dan beberapa orang yang belum pulang kembali ke rumah.
sampai akhirnya acara benar-benar selesai. Dan satu per satu teman telah pulang. Hanya Rama yang menginap sebab ia sendiri yang belum memiliki pasangan.
"apa yang kau bicarakan dengan putri tuan Hadi?" tanya Raihan.
Rama mengernyit, darimana Raihan tau.
"cih, rumah ku memiliki cctv di setiap sudut. Kau tak perlu heran" ucap Raihan bangga.
Rama mencebik, ia tahu pasti ada yang bermulut ember disini. Ia menatap Niel yang sedang mengunyah kue bolu dengan tatapan curiga.
__ADS_1
"apa? Kenapa tatapan mu seperti itu? Aku bahkan tak tau apa pun" ucap Niel.
"saran ku, jika memang kau serius. Maka segera lah resmikan hubungan itu. perempuan tidak suka di gantung Ram" ucap Raihan.
"menurut mu siapa yang sudah mengatakan pada Patricia bahwa aku memiliki prinsip tak akan menikah seumur hidup?" tanya Rama pada Raihan.
Tapi Niel tiba-tiba tersedak ketika mendengar pertanyaan Rama.
"kenapa? Apakah kau yang memberi tahu padanya?" tanya Rama pada Niel.
"kenapa aku?"
"karena kau tersedak"
"heii,,, aku mengunyah kue ini dengan cepat maka dari itu aku jadi tersedak" elak Niel.
"aku tak percaya"
Rama beranjak dan kemudian mulai menyerang Niel. Sementara Niel berusaha mempertahankan tubuhnya agar tidak terkena pukulan Rama. Mereka persis seperti anak-anak yang rebutan mainan. Raihan beranjak, daripada meyaksikan hal konyol itu lebih baik ia ke kamar menemui putri kecil nya dan sang istri.
Raihan membuka pintu dan terlihat Zaifa sedang memberi asi kepada sang putri. Raihan mengecup kening Zaifa kemudian menoel pipi putri kecil nya.
"jangan di ganggu papa" seru Zaifa.
"papa?"
"iya, aku sudah memutuskan untuk mulai memanggil mas Rai dengan sebutan papa kalau di depan anak kita"
Raihan tersenyum, hanya berganti panggilan saja Raihan rasanya sudah sangat bahagia.
"kalau begitu aku akan memanggil dirimu dengan panggilan mama"
Zaifa tersenyum, Raihan menatap wajah sang istri yang meskipun baru melahirkan tapi tetap cantik. Justru wajah nya terlihat lebih cantik dari sebelumnya. Raihan mengangkat dagu Zaifa kemudian mengecup bibir nya.
"mas, ingat harus puasa. Aku belum boleh melakukan itu"
Raihan terkekeh, ia hampir lupa dengan hal itu. Ia harus berpuasa setidaknya sampai 40 hari. Raihan pun merebahkan tubuhnya di ranjang dengan kaki yang menjuntai ke lantai. Zaifa melirik ke arah bawah pusar sang suami. tampak mengembang dan sesak. Ia kemudian meletakkan sang putri ke box bayi dan merangkak ke atas tubuh Raihan.
"sayang...." ucap Raihan kaget.
__ADS_1
"biarkan aku melakukan tugas ku sebagai seorang istri" ucap Zaifa.