SETELAH DI CERAI

SETELAH DI CERAI
bab 50


__ADS_3

Zaifa mengerjapkan matanya terkejut mendengar suara teriakan suami dan kakak nya itu. Sementara si mbok menundukkan kepalanya takut-takut.


"hee..." Zaifa nyengir menatap suami dan kakak nya.


"mbok tolong bawa sisa kue yang di kolam renang ya" ucap Niel.


"baik den"


Si mbok pun berlalu, wanita baya itu menghela nafas lega karena tidak di marahi.


"kenapa kamu masak dek" tanya Niel menghampiri sang adik.


"pengen aja kak" jawab Zaifa.


Zaifa melanjutkan menggoreng tempe mendoan. Zaifa menggoreng lumayan banyak sebab ia sedang ingin memakan camilan gorengan itu. Sementara sambel terasi dan daun ubi sudah di selesaikan oleh si mbok.


"mas, tolong bantu tata di meja ya" ucap Zaifa.


Raihan pun tanpa banyak kata langsung membawa sepiring telur ceplok, semangkuk sambel terasi, sepiring tumis kangkung, daun ubi rebus dua kepal, dan nasi satu per satu dengan di bantu oleh Niel dan yang lain.


Setelah itu Zaifa membawa dua piring tempe mendoan dan meletakkan nya di atas meja satu piring, sementara satu piring lainnya di simpan di lemari makan.


"mama sama Santi kok belum pulang ya" ucap Zaifa.


"mungkin sebentar lagi dek, kenapa kamu udah lapar?" tanya Niel.


Zaifa pun mengerucutkan bibirnya sembari mengangguk-anggukkan kepalanya lucu membuat sang suami gemas dan langsung mencuri kecupan sekilas di bibir Zaifa.


"mas...!!" teriak Zaifa.


Sementara yang melihat itu hanya menggeleng kan kepalanya.


***


"Dewi!!!!" teriak pak bewok.


"Dewi sini kamu, DASAR ISTRI KURANG AJAR!"


"DEWIII"

__ADS_1


"ada apa pak?" tanya Bu Dewi.


Plak


Plak


Bu Dewi memegang pipi nya yang baru saja di tampar oleh pak bewok.


"gi*la kamu ya Dewi! Aku udah bilang urusan utang bisa di selesaikan kalo Santi nikah sama Bala. kenapa kamu malah bayar semua utang itu hah!!!" teriak pak bewok.


"cukup pak, kalo bukan karena kamu suka main dan minum kita ga bakal punya utang sebanyak itu sama Bala. Ibu senang Santi minggat, biar dia tidak selalu sakit menikah dengan pria itu"


Plak


satu tamparan kembali mendarat di pipi Bu Dewi, rasa panas Bu Dewi rasakan. Bahkan sudut bibir mengecap rasa anyir, yang sudah pasti sudut bibir nya pecah dan mengeluarkan darah. Pak bewok menatap nyalang ke arah Bu Dewi lalu pergi begitu saja.


Sementara di rumah bik Surti, wanita baya itu baru saja selesai memberikan upah kepada para pekerja wanita. Karena hari sudah siang, maka bik Surti berniat istirahat sebentar karena nanti jam dua seperti biasa ia akan mengawasi para bapak-bapak yang akan membawa sayuran ke kota.


Brak... Brak ...


Suara pintu di gebrak dengan keras. Bik Surti yang baru saja masuk langsung terkejut. ia menyingkap tirai jendela dan melihat pak bewok datang dengan wajah marah.


"ada apa bewok?"


"katakan dimana anakku!" tanya pak bewok.


"mana aku tau wok, bahkan sudah dua Minggu anak mu tidak tidur disini lagi. Tepat nya seminggu sebelum pernikahan itu di gelar putri mu sudah pamit dengan ku untuk pulang ke rumah mu" jawab bik Surti tenang namun matanya menatap nyalang pak bewok.


"jangan kurang ajar Surti! Kalo bukan kamu menghasut anakku untuk tinggal di rumah mu ini, sudah lama anakku menikah dengan juragan kaya"


"eling bewok, eling. Santi iku (itu) anak mu, kalo kamu tua nanti yang merawat pasti anakmu"


"jangan ceramah Surti!"


Pak bewok berbalik dan pergi begitu saja. Namun, ucapan bik Surti membuat ia menghentikan langkah nya.


"sudahi main judi dan minuman mu wok, saat ini putri mu yang pergi, dengan sikap mu yang sesuka hati dan kasar mungkin kau juga akan kehilangan istri mu" ucap bik Surti kemudian menutup pintu.


Pak bewok hanya mendengus dan menganggap angin lalu ucapan bik Surti. Pak bewok pergi, menapak langkah kemana saja langkah itu akan membawa nya.

__ADS_1


Sementara di rumah, Bu Dewi sudah memutuskan menjual rumah peninggalan orang tua nya. Ia sudah tidak betah hidup dengan suami kasar seperti pak bewok. Bu Dewi memasukkan baju-baju dan barang yang di sayangi serta foto-foto milik Santi. Ia akan membawa semua itu ke kota.


Ya, Bu Dewi memutuskan ke kota untuk mencari pekerjaan disana. Ia menjual rumah nya kepada kepala desa yang memang mencari rumah untuk tempat tinggal putra nya yang akan pulang ke desa ini bersama sang istri.


"ibu harap kamu baik-baik saja nduk" ucap Bu Dewi mengelus foto Santi yang mengenakan seragam guru. Setetes air mata jatuh membasahi sudut foto itu.


***


Santi merasakan sesak di dada nya, tiba-tiba ia teringat dengan sang ibu. Meskipun ibu nya berniat menjual dirinya, namun Santi yakin di sudut hati sang ibu, ibu nya sangat menyayangi dirinya. Mungkin jika bapak nya bisa mencukupi kebutuhan hidup dan tidak malas-malasan dalam bekerja hidup mereka tidak akan berantakan seperti ini.


"Santi..." panggil seseorang menepuk pundak Santi.


"Tante" Santi tersenyum mendapati mama Niken yang memanggil nya.


"kita segera pulang ya, putri Tante itu sudah menanti kita untuk makan siang"


Santi mengangguk lalu mengikuti mama Niken menuju mobil, mereka pun segera pulang ke rumah.


sementara di rumah mama Niken, saat ini di ruang kerja Niel, Raihan dan Dani sedang berbicara empat mata.


"katakan Dan apa yang bisa ku bantu" tanya Raihan.


Dani mengeluarkan nafas kasar. Ia menatap Raihan yang sahabat rasa saudara nya itu.


"rasanya mau nyerah aja Rai, Fatma selalu nolak"


Raihan menatap iba pada Dani, ia turut bersedih dengan apa yang di alami sahabat nya. Meskipun Dani adalah seorang playboy dulu nya, namun ada masa dimana masa-masa main-main pasti akan di akhiri dan Dani akan mencari seorang wanita yang benar-benar bisa dan pantas menjadi istrinya.


Tapi sayang nya hati Dani terpaut pada Fatma, gadis tomboy yang membenci seorang playboy. Bahkan Fatma selalu menolak mentah-mentah ungkapan cinta Dani dan selalu membalikkan apa saja pemberian Dani.


Dani beranjak dan berlalu, Raihan tak mencegah sebab ia tau bahwa Dani pasti perlu waktu untuk menenangkan dirinya. Raihan pun keluar dari ruang kerja Niel dan saat di ruang tamu ia sudah tak mendapati Dani.


Dani mengendarai mobil nya dengan kecepatan sedang. ia sengaja membuka jendela agar angin ikut masuk meskipun mobil nya ber AC.


Dani memutuskan membelokkan motor nya di mall terdekat. Ia ingin merefresh pikiran nya dengan bermain Timezone. Saat ia berjalan menuju area permainan tak sengaja ia bertabrakan dengan seorang perempuan.


"sorry" ucap Dani sembari membungkuk mengambil tas wanita itu yang terjatuh.


"sayang kamu ngga apa-apa?" tanya seorang lelaki menghampiri wanita itu.

__ADS_1


Dani berdiri, dan saat itu lah matanya bersitatap dengan mata wanita itu. Kedua nya terpaku. Sama-sama tak menyangka akan di pertemukan di waktu yang tidak tepat.


__ADS_2