SETELAH DI CERAI

SETELAH DI CERAI
bab 106


__ADS_3

Seminggu berlalu dengan cepat tapi Santi dan Rafli masih belum mendapat titik terang dimana kira nya sang bapak berada. Sempat datang ke rumah pak Bala, sang juragan yang dulu di tinggal kan oleh Santi ketika menjelang akad pernikahan tapi bukan nya petunjuk melainkan sebuah amukan yang di terima oleh Santi.


Pak Bala mencaci Santi yang telah membuat nya malu karena di tinggalkan ketika menjelang akad. Apalagi sudah banyak masyarakat yang ingin ikut menyaksikan proses ijab qobul kala itu. Dan akhirnya mereka berdua memutuskan kembali ke rumah.


Hari ini, setelah satu Minggu berlalu di desa Santi dan Rafli memutuskan untuk kembali ke kota karena besok adalah hari spesial Rama dan Patricia. tak mungkin mereka melewatkan meskipun masih ingin mencari pak bewok.


"kita ke kostan aku aja mas, kangen ibuk. Nanti malam baru ke rumah Tante Niken" ucap Santi.


tak lama mereka sampai di kostan milik Santi. Santi dan Rafli turun dari mobil dan langsung di sambut oleh Bu Dewi. Mungkin karena mendengar suara mobil berhenti di depan kostan hingga Bu Dewi memutuskan untuk keluar.


"gimana kabar ibu?" tanya Santi memeluk Bu Dewi.


"ibu baik. ayo masuk dulu, kalian pasti capek"


Mereka pun masuk ke dalam rumah, Santi dan Rafli duduk di sofa yang ada di ruang tamu sementara Bu Dewi menuju dapur. Tak lama wanita yang telah melahirkan Santi itu kembali dengan membawa nampan berisi dua gelas jus jeruk.


"kok repot-repot Bu" ucap Rafli sungkan.


"enggak repot kok, ibu tau kalian pasti haus"


Rafli mengangguk. Ia pun meraih gelas jus itu kemudian meminum nya beberapa teguk. dingin yang menjalar ke tenggorokan nya membuat lelah nya sedikit berkurang.


"kebetulan ibu baru saja selesai masak. Yuk makan siang dulu. kalian pasti ngga sempet mampir di restoran"


Rafli menatap Santi kemudian beranjak ketika melihat Santi mengangguk dan ikut berdiri. Mereka bertiga menuju ke ruang makan sederhana yang ada di kostan Santi. Tak semewah ruang makan milik mama Niken tapi Rafli merasa nyaman juga disini karena Bu Dewi dan Santi calon keluarga nya juga kelak.


"gimana kabar orang tua kamu Raf?" tanya Bu Dewi.


"Alhamdulillah bapak sama ibu baik Bu. Mereka nitip salam ibu Dewi"


Bu Dewi tersenyum, ia mengenal baik keluarga Rafli yang tak pernah sekalipun menggunjing atau membicarakan tetangga. Keluarga Rafli memang keluarga terpandang meskipun tidak kaya tapi setidaknya mereka baik.

__ADS_1


"mau pake apa mas?" tanya Santi.


Rafli melihat meja makan, ada beberapa menu sederhana seperti tumis daun singkong, tempe tepung, telur ceplok dan sambel tomat. Menu sederhana itu adalah menu favorit nya.


"tumis daun singkong nya dek sama tempe tepung"


Santi mengambil tumis daun singkong dan dua tempe mendoan dan mengisikan nya di piring Rafli setelah itu meletakkan piring itu di depan Rafli.


Rafli menyuap sesendok demi sesendok makanan sederhana namun terasa nikmat itu hingga habis tak tersisa.


"masakan Bu Dewi enak" puji Rafli.


"masakan Santi juga enak, nanti kalo kalian nikah kan yang masak juga Santi"


Blush...


Pipi Santi sontak memerah mendengar ucapan sang ibu. sedang Rafli terkekeh, ia sungguh menanti saat itu. Saat dimana ia akan mengganggu Santi ketika sedang memasak, mengganggu ketika Santi tidur. Atau setidaknya mengganggu waktu me Time Santi. Membayangkan nya saja membuat Rafli merasa bahagia apalagi jika sudah terjadi.


di rumah tuan Hadi, halaman rumah yang luas itu telah di sulap menjadi tempat ijab qobul pernikahan. Hiasan bunga-bunga telah terpajang sempurna di sisi kanan kiri kursi-kursi tempat tamu undangan duduk. Karpet merah beludru yang menjadi pemisah kursi-kursi itu menjadi dua bagian, karpet merah yang nanti akan di gunakan sebagai pijakan langkah-langkah calon mempelai.


Beralih ke ruang megah itu, di sebuah kamar seorang pria baya yang tak lain adalah sang tuan rumah. Tuan Hadi, tengah berdiri menatap dinding kaca yang mampu menembus pemandangan di bawah sana. Tepat di bawah sana, ia akan menyerahkan putri nya kepada pria yang ia kenal sebagai pria alot dan pekerja keras. pria yang di percayai nya kelak pasti akan membahagiakan sang putri yang telah rawat sepenuh hati.


Sementara di ruangan berbeda, seorang gadis dengan kebaya putih mengembang di bagian bawah nya telah di rias dengan sangat cantik. Bak boneka hidup dengan kebaya putih yang sangat cocok dengan kulit mulus ya. Ia memandang puas ke arah cermin dimana pantulan wajah nya tampak disana. Bibir nya menyunggingkan senyum indah karena saat ini lah yang telah nanti sejak lama.


Namun tiba-tiba ada perasaan gundah menghampiri nya. Senyum di bibir nya mulai terkikis ketika sekelebat bayangan membuat matanya menjadi berkaca-kaca.


"mbak kenapa? Hiasan saya jelek ya?" tanya sang MUA.


"oh enggak kok, ini udah bagus banget. Tiba-tiba aja jadi ke inget mama saya" jawab Patricia.


"tolong keluar sebentar ya"

__ADS_1


MUA itu mengangguk kemudian meninggal kan Patricia dengan segala pikiran nya.


"ini bukan perasaan kangen mama, bukan. Tapi lebih ke perasaan sedih yang aku sendiri belum tau karena apa" lirih Patricia memandang wajah ayu nya di cermin.


bersamaan dengan perasaan gundah yang melanda Patricia, di kamar tuan Hadi. pria itu sedang meminum tiga butir obat karena merasakan sesak di dada nya. Di belakang nya orang kepercayaan nya berdiri menopang tubuh nya.


"apa tuan baik-baik saja?" tanya pelayan itu.


"aku baik Ndra, tolong ke kamar putri ku lihat lah apakah ia sudah selesai di hias atau belum. dan jangan katakan apapun mengenai keadaan ku"


pelayan itu mengangguk kemudian keluar dari kamar. ia menuju kamar Patricia dan mengetuk pintu nya, tak lama seorang MUA yang tadi sempat di minta keluar oleh Patricia telah kembali dan membuka kan pintu.


"ada paman Indra?" tanya Patricia yang melihat orang kepercayaan sang papa berdiri di ambang pintu.


"apakah nona sudah selesai? tuan besar ingin bertemu"


"aku sudah selesai, biarkan aku menemui papa" Patricia hendak beranjak namun di cegah oleh Indra.


"tak perlu nona, tuan besar yang akan berkunjung ke kamar nona"


Patricia pun duduk kembali. Sementara MUA tadi yang mendengar pembicaraan mereka pun langsung pamit undur diri. Ia tau pasti akan ada yang hendak di bicarakan oleh calon pengantin dan ayah nya.


Tak lama tuan Hadi datang ke kamar Patricia. Patricia beranjak duduk di ranjang di sebelah sang papa.


"kau cantik sekali nak.." seru tuan Hadi menatap wajah Patricia dengan mata berkaca-kaca.


"apa papa baik-baik saja?" tanya Patricia.


"ya papa baik, papa sangat bahagia karena akan menyaksikan sendiri acara pernikahan mu"


Patricia memandang sang ayah yang terlihat pucat. Entah mengapa perasaan gundah yang sempat hilang kini kembali lagi.

__ADS_1


__ADS_2