
Pagi hari yang sejuk membuat sepasang pengantin baru yang baru saja membuka mata kembali merapatkan tubuh dan bergelung dalam selimut. Raihan memeluk erat tubuh Zaifa yang menghangatkan sembari menciumi tengkuk Zaifa sehingga membuat Zaifa merasa geli.
"hentikan mas" ucap Zaifa dengan suara serak.
"ayo lah sayang, kita ulangi yang semalam ya" goda Raihan mengelus lembut dua buah milik Zaifa.
"maasss!!!!" seru Zaifa langsung duduk kemudian menatap tajam Raihan.
"hentikan! Ini sudah pagi, kita pasti sudah di tunggu untuk sarapan" ucap Zaifa marah.
Raihan tersenyum geli menatap Zaifa yang menutupi tubuh nya sampai batas leher.
"sebentar saja sayang" Raihan mencoba mendekat namun Zaifa dengan gesit segera berdiri dan berlari ke kamar mandi.
"uhh menggemaskan sekali" gumam Raihan kemudian memakai celana boxer milik nya dan duduk di sofa kemudian membuka handphone yang sejak kemarin tak ia buka.
Begitu layar di hidup kan terlihat banyak pesan dan panggilan tak terjawab. Raihan hendak menghubungi balik namun handphone nya sudah berdering terlebih dahulu.
"bagaimana?" tanya Raihan.
"aman bos, gadis dan pria itu sudah ada di kamar yang ada di sebelah anda"
Tut.
Panggilan di tutup sepihak oleh Raihan ketika terdengar handle pintu kamar mandi berbunyi. Ia menatap Zaifa yang hanya mengenakan handuk kimono itu. Ia pun berniat menggoda istrinya itu. Ia meletakkan hp nya dan berjalan ke arah Zaifa. Namun, seperti nya niat buruk Raihan sudah terbaca oleh Zaifa sehingga kurang dari beberapa langkah Zaifa sudah menutup keras pintu walk in closet dan berganti baju.
"wanita itu....." gemas Raihan kemudian masuk ke kamar mandi.
Sementara Zaifa terkekeh pelan, bukan maksud ia menolak permintaan sang suami. Hanya saja tubuh nya terasa pegal sebab tadi malam ia di gempur habis-habisan oleh Raihan.
__ADS_1
Zaifa berjalan pelan-pelan sebab ia masih merasakan perih di **** ***** nya. Meskipun sudah pernah menikah namun entah mengapa ia masih merasakan sakit.
Zaifa menyiapkan baju ganti untuk Raihan dan meletakkan nya di atas ranjang. sembari menunggu Raihan selesai mandi Zaifa memoles wajah nya dengan make up tipis-tipis.
Ceklek..
Pintu kamar mandi di buka, Raihan tersenyum manis ketika mendapati di ranjang sudah siap baju dan celana yang akan di kenakan nya. Ia menghampiri Zaifa kemudian menatap nya dari cermin.
"ada apa?" tanya Zaifa mendongak menatap wajah Raihan yang masih basah. Bahkan setetes air menetes di dahi Zaifa.
"terima kasih" ucap Raihan mengecup singkat bibir Zaifa.
Raihan mengambil baju ganti nya dan berganti di ruang ganti. Sementara Zaifa sudah siap dengan pakaian muslimah nya.
Setelah selesai, mereka berdua pun keluar hendak ke restoran hotel untuk menikmati sarapan. namun, saat mereka menutup pintu bersamaan dengan itu dua orang dari kamar yang sama juga hendak keluar.
"Bu Rani" gumam kedua orang itu namun masih terdengar di telinga Zaifa.
"Rafli, Santi.. kalian disini?" tanya Zaifa antusias.
"heee.... Iya Bu. Aku pun ngga tau kenapa bisa pas bangun tau-tau ada di sini" ucap Santi.
Zaifa mengerutkan keningnya heran kemudian menatap Rafli, saat Rafli hendak menjawab Raihan sudah menghampiri mereka.
"sudah lah sayang,, kita sarapan dulu. Ayo kalian juga ikut" ucap Raihan.
Raihan memeluk pinggang Zaifa dan menuju lift. Tak lama mereka pun tiba di restoran hotel yang ternyata disana anggota keluarga dan tiga orang temannya sudah menunggu.
"pengantin baru lama banget sampe nya, perut kita sampe keroncongan nunggu kalian" ucap Rama.
__ADS_1
Zaifa hanya terkekeh malu mendengar godaan dari Rama. Zaifa duduk di sebelah Niel, sementara Raihan duduk di sebelah Zaifa. Rafli dan Santi duduk di sebrang sana bersama orang tua Raihan.
mereka pun akhirnya sarapan dengan khidmat. Zaifa mengambil kan nasi dan lauk untuk Raihan, melihat itu ketiga teman Raihan hanya berdecak sebal.
"kalian jangan iri, makanya cepet nikah biar ada yang melayani" ucap Raihan memainkan kedua alis nya.
Ketiga temannya hanya memutar bola mata jengah. Bisa di pastikan mulai hari ini Raihan akan menjadi orang yang menyebalkan untuk mereka. Sementara Raihan hanya terkekeh keli, namun ia galfok kepada Dani yang pagi ini terlihat sedikit lesu.
Raihan menikmati sarapan nya, namun ia sebentar-sebentar melirik ke arah Dani dan itu tak luput dari penglihatan Zaifa membuat Zaifa heran namun urung bertanya sebab saat ini semua orang sedang menikmati sarapan masing-masing.
***
Sementara jauh di desa sana, kedua orang tua Santi sedang bertengkar hebat. Di karenakan pak bewok sudah mencari Santi semalaman tapi tak bertemu berujung ia emosi dan melampiaskan kepada sang istri.
"Iki (ini) semua gara-gara kamu buk! Kalo seandainya kamu bisa menjaga anak kurang ajar mu itu kita pasti udah jadi orang yang di segani di desa ini. Punya mantu sugeh (kaya) dan kita tinggal minta apa saja pasti di kasih" seru pak bewok lantang.
"tapi ibu ndak menyesal pak Santi kabur dari rumah, ibu juga sebenarnya Ndak rela kalo anak ibu satu-satunya nikah sama orang tua macam juragan Bala itu" elak Bu Dewi.
Plak
Tamparan mendarat di pipi kanan Bu Dewi, ia menatap sang suami yang tengah melotot ke arah nya.
"kamu jangan munafik buk, kamu juga ikut makan uang pinjaman itu. Kamu beli emas, beli opo wae (apa saja) yang kamu inginkan itu uang dari mana hah, DARI MANA!???" teriak pak bewok.
"ibu mau jual rumah dan pekarangan ini untuk melunasi hutang kita. Biar Santi pergi aja, itu lebih baik"
"jangan gi*la buk!!!! Kalo kita punya mantu seperti Bala, kita bisa hidup enak. Santi juga pasti bahagia dapat suami kaya"
"sampean sing edan (kamu yang gi*la) pak. Anak sendiri di jual, ibu nyesel selama ini terlalu gengsi sama hidup dan terlalu iri sama tetangga. kalo seandainya ibu ngga kayak gitu pasti Santi ga bakal di lirik sama juragan tua. dan lagi apa kata bapak tadi? Santi bakal bahagia nikah sama juragan Bala? NGGAK ADA WANITA YANG BAHAGIA MENIKAH SAMA PRIA TUA DAN BAHKAN PRIA ITU SUDAH MEMILIKI DUA ISTRI!!!" teriak Bu Dewi.
__ADS_1
Setelah itu Bu Dewi masuk ke dalam kamar nya dan mengambil surat tanah yang hendak di serahkan kepada juragan Bala sebagai penebus hutang nya. Biarlah setelah ini ia tak memilih pekarangan lagi, asal ia tak melihat anak nya menikah dengan pria yang tidak di cintai.
Hari-hari terakhir ia melihat Santi terpuruk, dan mendengar bisikan tetangga membuat ia sadar kesalahan yang ia lakukan. Bu Dewi mengambil sebuah kotak yang ada di dalam lemari. Ia membuka kotak itu dan terdapat beberapa kalung emas dengan bandul emas yang besar. Ada juga cincin, gelang dan anting. Bu Dewi berniat menjual semua itu untuk tambahan membayar utang. karena uang seratus juta tak sedikit.