
sehari berlalu dengan begitu cepat, Zaifa sudah kembali bugar. Niken dan Niel pun tak keberatan jika Zaifa tak mengingat apapun terlebih saat itu Zaifa memang masih berusia 2 tahun.
Hari ini adalah hari pertunangan Diva dan Boby, pertunangan itu di lakukan di salah satu hotel milik keluarga Rama. Dan pertunangan di lakukan pada malam hari atas permintaan Diva.
Boby dan Diva tampak sibuk memperhatikan betapa gesit para WO yang sedang mempersiapkan acara mereka. Mereka duduk manis di kursi yang telah di sediakan untuk acara nanti malam.
"aku sudah tak sabar" ucap Boby.
"apa?" tanya Diva tanpa menoleh.
Diva tampak asyik melihat salah satu WO yang sedang memasang bunga-bunga kecil sebagai hiasan pada dinding. Bunga Krisan dan beberapa bunga lainnya yang berwarna putih dan di padukan oleh beberapa warna tampak indah menghiasi dinding.
"apakah itu indah?" tanya Boby.
Diva menoleh ketika menyadari nafas hangat menerpa pipi nya. Dan ketika menoleh ia terkejut dan langsung menjauhkan wajah nya. Bagaimana tidak, wajah mereka sangat dekat.
"pipi mu merah bee" goda Boby tersenyum.
plak.
"kenapa kau menampar ku!?"
"aku ingin saja. Udah lah aku mau lihat-lihat dulu,"
Diva langsung beranjak, sebenarnya tamparan itu hanya alibi untuk menghilangkan rasa gugup ketika berdekatan dengan Boby. Entahlah, nanti malam adalah pertunangan mereka dan rasanya jantung nya berdebar.
Sedangkan Boby hanya tersenyum tipis menyadari kekasih nya tengah malu dan ingin menghindari nya. Ia menyentuh pipi yang di beri tamparan yang serasa pukulan kecil bagi Boby.
"dia terlihat sangat manis" gumam Boby kemudian beranjak dan menyusul Diva.
Diva melihat ke arah panggung settingan yang mana itu akan di pakai oleh nya dan Boby saat bertukar cincin.
Pada sisi kanan dan kiri panggung settingan itu ada tangga yang hanya beberapa kali naik saja. Di tengah-tengah panggung itu ada tulisan besar 'happy engagement Boby dan Diva'.
"bukan kah itu cantik" ucap seseorang memeluk Diva dari belakang.
Diva langsung menyikut pria itu karena kaget, dan ternyata itu adalah kekasih nya.
"kenapa kau suka menyakiti ku bee?" tanya Boby memelas.
"kau membuat ku terkejut" seru Diva kesal.
"aku hanya ingin dekat dengan mu"
Boby menciumi pundak Diva yang terbungkus sweater rajut itu. Membuat Diva bertambah kesal sekaligus malu sebab disini ramai orang. Meskipun banyak yang tidak peduli, tapi ada beberapa yang tanpa sengaja melihat ke arah mereka dan langsung pergi dengan wajah yang memerah.
__ADS_1
"hentikan Boby!" sentak Diva.
Bukan nya berhenti, Boby justru memeluk Diva lebih erat dan sekarang ciuman nya sudah merambat ke leher yang di tutupi rambut sebahu itu.
"hen-hentikan bee" mohon Diva dengan wajah yang memerah. Ia menahan diri untuk tidak bersuara yang aneh ketika Boby mencium leher nya.
Merasakan tubuh kekasih nya menegang, Boby menghentikan aktivitas nya. Ia tersenyum tipis, entah mengapa ia bahagia. dari reaksi Diva, terlihat gadis itu belum pernah di perlakukan seperti tadi.
"aku mencintaimu" ucap Boby.
"aku pun juga" balas Diva.
"juga apa?"
"mencintai mu"
"mu siapa?"
"kau Boby" seru Diva.
"ucapan tidak lengkap bee"
"ya, aku juga mencintai mu Boby prawirya!" ucap Diva dengan tegas dan nada yang di tekan.
"apa kau puas!"
"belum, karena kau belum melakukan apapun pada ku"
"kau gi*la!!!!" teriak Diva.
"kau yang membuat ku gi*la yang... Heii mau kemana kau?" seru Boby ketika melihat Diva berjalan cepat menuju ke luar hotel.
Mereka berdua tak tau jika tingkah mereka di awasi oleh dua orang tua yang sedang berdiri di tangga hotel.
"kita harus segera menikah kan mereka atau Boby justru akan membuat anak orang hamil sebelum sah" ucap seorang pria menatap Boby di bawah sana yang sedang mengejar Diva.
"kau benar pa, Boby terlihat sangat mencintai kekasih nya" ucap sang istri.
"akhirnya papa akan segera bebas dari dunia bisnis ma" jawab sang suami memeluk dari samping tubuh sang istri.
"ya, kita hanya tinggal duduk di rumah menikmati masa tua dan semoga saja mereka berdua segera di karuniai anak bila perlu kembar. Maka mama akan dengan senang hati merawat nya"
"papa pun juga ma"
mereka kembali menatap ke bawah dimana rupanya dua sejoli yang sedang di mabuk asmara sudah tidak ada disana.
__ADS_1
"dimana mereka?" tanya sang suami.
"biarkan saja pa. Mama yakin putra kita tau akan batasan nya"
"mama benar. Mari kita beristirahat karena nanti malam kita akan menjamu para tamu undangan"
Mereka pun kembali ke kamar yang tak jauh dari tangga itu.
Sebuah kebahagiaan bagi orang tua menyaksikan anak nya berbahagia dengan seseorang yang di cintai nya.
***
Tidak hanya Boby dan Diva yang sibuk. Raihan dan Zaifa pun sekarang tengah berada di butik Niken untuk memilih gaun pertunangan mereka.
"anda terlihat sangat cantik nona" ucap seorang pegawai yang membantu Zaifa memakai gaun pilihannya.
Zaifa mematut dirinya di cermin, sementara pegawai itu keluar untuk memberikan waktu kepada Zaifa mengagumi kecantikan yang di miliki nya.
Tampak di cermin seorang wanita memakai gaun brukat berwarna mocca dengan banyak taburan mutiara gaun itu. Jilbab berwarna putih dengan kain satin serta taburan make up yang flawless membuat nya semakin terlihat anggun dan cantik.
Sementara di luar, Raihan sudah siap dengan jas dan celana yang senada dengan baju Zaifa.
"dimana Zaifa?" tanya Raihan saat melihat pegawai yang tadi membantu Zaifa.
"nona Zaifa ada di dalam tuan, mari menunggu. pasti sebentar lagi nona Zaifa akan keluar" jawab pegawai itu tersenyum ramah.
tak kamar tirai tempat mencoba gaun terbuka.. Zaifa berdiri disana dan menatap ke arah luar yang ternyata kekasih hatinya sudah menunggu.
pipi nya memerah ketika melihat Raihan memandang nya lekat dan berjalan ke arah nya.
"kau sangat cantik sayang" puji Raihan.
"hentikan. Kau membuat ku malu" ucap Zaifa pelan. Pipi nya sudah seperti kepiting rebus karena Raihan memandang nya penuh cinta.
Sementara dua pegawai yang berada di belakang mereka langsung undur diri. Membiarkan sepasang kekasih yang sangat cocok itu saling mengagumi satu sama lain.
Raihan tersenyum hangat, mengangkat dagu Zaifa hingga mata mereka saling pandang.
Raihan tak berhenti mengagumi wanita ciptaan Tuhan di hadapan nya ini. bulu mata yang lentik, hidung bangir, bibir tipis dengan polesan lipstik warna pink dan juga tahi lalat kecil di ujung dagu yang menjadi penyempurna wajah Zaifa.
"kau sangat cantik Zaifa, aku tak sabar ingin segera menikahi mu"
Mendengar itu pipi Zaifa sontak memerah, namun ia di paksa tetap menatap mata indah dan tajam milik Raihan. Mereka berhadapan saling menatap dengan dalam. Hingga wajah mereka semakin dekat, semakin dekat, dan kemudian....
"wooooyyy!!!!"
__ADS_1