SETELAH DI CERAI

SETELAH DI CERAI
bab 104


__ADS_3

Satu hari berlalu, setelah subuh Zaifa dan Raihan bersiap untuk kembali ke jakarta karena takut Rara rewel karena ini pertama kali nya bocah itu di tinggal oleh kedua orang tua nya. Sebenarnya Raihan masih ingin berkeliling di kebun milik Zaifa dan ingin melihat proses panen padi yang selama ini belum pernah di lihat nya. Lagipula Raihan pun merasa nyaman di desa itu karena warga setempat yang ramah dan suasana yang masih asri jauh dari polusi.


namun berada jauh dari sang putri membuat Raihan pun tak ingin berlama-lama berada di desa itu. karena tak mungkin kedua orang tua nya bersenang-senang tapi anak nya justru bersama orang lain. meskipun Rama tak akan keberatan tapi tetap saja kedua orang tua itu merasa sungkan.


"mbok kami pamit ya, mungkin nanti kalo mas Rai sudah ngga sibuk kami kesini bersama putri kami" ucap Zaifa berpamitan kepada mbok Lasmi.


"duh non, padahal baru aja nyampe eh udah mau pulang lagi aja" seru mbok Lasmi dengan mata berkaca-kaca.


Zaifa menghampiri mbok Lasmi dan memeluk erat wanita baya itu. Raihan yang melihat itu merasa bangga memiliki istri seperti Zaifa yang berhati lembut tak tidak pernah membedakan antara majikan dan pembantu. Betapa beruntung Raihan memperistri seorang wanita yang sangat di sayangi oleh semua orang termasuk Niel dan mama Niken.


"kami pergi ya mbok, jaga diri mbok baik-baik. kalo ada apa-apa jangan sungkan menghubungi kami"


Mbok Lasmi mengangguk, ia melihat dari teras ketika mobil Raihan sudah pergi meninggalkan halaman rumah. Meskipun jarang bertemu tapi mbok Lasmi menganggap Zaifa seperti putri kandung nya sama seperti bik Surti memperlakukan Zaifa. Tapi menurut mbok Lasmi, bik Surti lebih beruntung karena bisa dekat dengan Zaifa setiap hari padahal tanpa mbok Lasmi tau bahwa bik Surti pun di tempat kan di rumah pribadi Raihan karena sudah di percaya bisa merawat rumah itu.


melihat mobil sudah jauh di jalan mbok Lasmi pun beranjak masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan acara bersih-bersih nya. Namun baru akan masuk terdengar sapaan dan membuat mbok Lasmi kembali berbalik.


"eh, Santi sama Rafli. Sini masuk" seru mbok Lasmi gembira.


"enggak usah mbah, kami cuma mau ketemu sama mbak Zaifa" ujar Santi.


Sedang Rafli mengernyit heran karena melihat mobil sang majikan tak ada lagi di depan rumah itu. padahal mereka sudah pagi-pagi sekali berkunjung kesana.


"aduh San, non Zaifa sudah pulang ke kota lagi baru saja. mobil nya juga paling belum sampe perbatasan desa" jawab mbok Lasmi.


"pagi-pagi sekali mereka berangkat Mbah?" tanya Rafli.


"Iyo Raf, takut anak nya rewel nangis"


Santi dan Rafli mengangguk paham. karena orang yang di cari nya tak ada akhirnya mereka pun memilih pamit.


"ya sudah Mbah kalo mbak Zaifa sudah pulang. Kami permisi dulu"


"iya-iya"

__ADS_1


Melihat dua tamu nya sudah pergi mbok Lasmi kembali masuk ke dalam rumah untuk beres-beres kembali. Sebenarnya rumah itu tidak terlalu besar tapi cukup besar jika hanya di tempati oleh mbok Lasmi saja. pernah mbok Lasmi meminta kepada para guru yang masih lajang untuk tinggal bersama nya. tapi mereka bilang merasa sungkan karena bagaimana pun mereka belum pernah bertatap muka secara langsung dengan Zaifa.


***


"kemana lagi kita harus cari bapak ya mas?" tanya Santi dengan raut wajah lesu.


Rafli memandang tak tega ke arah sang calon istri. Seharusnya mereka sudah mempersiapkan untuk acara pernikahan mereka tapi kini mereka harus berjuang terlebih dahulu untuk mencari pak bewok.


"sabar ya sayang, semoga hari ini mendapat hasil" ucap Rafli menyemangati meskipun dirinya sendiri tidak yakin.


Santi hanya mengangguk, Rafli menggenggam jemari Santi berusaha menyalurkan semangat pada sang kekasih. mereka berhenti di sebuah warung kecil yang menjual gorengan, pecel dan kopi. Biasanya menjadi tempat nongkrong anak-anak muda dan bapak-bapak ketika menjelang malam atau ketika ronda.


"kita berhenti dulu ya, sarapan dulu"


Santi mengangguk mengikuti sang calon suami untuk masuk ke dalam warung sederhana itu.


"Mbah pecel nya sudah ada?" tanya Rafli.


Mbah penjual itu menoleh dan sedikit menyipitkan mata untuk mengenali siapa yang berkunjung ke warung nya karena suara nya terdengar tidak asing namun perawakan nya membuat pangling. si Mbah memang sudah sepuh namun belum terlalu tua sehingga penglihatan nya sudah agak terganggu tapi beliau tak berhenti berusaha untuk mencari nafkah. Memang beliau tidak sepenuhnya melayani pembeli karena ada sang anak dan cucu yang membantu nya.


"iya Din"


"ini mbak Santi? Ya Allah mbak Santi makin cantik" puji gadis kecil itu.


Santi tersipu mendengar pujian itu kemudian memeluk singkat bocah yang menghampiri nya.


"mau makan pecel mbak, mas?" tanya gadis itu.


"iya Din, sudah ada?" tanya Santi.


"siapa to nduk" tanya si Mbah.


"ini Lo Mbah mas Rafli anak nya pakde man, sama mbak Santi anak nya pakde bewok" jelas gadis itu.

__ADS_1


"owalah, pulang dari kota nduk, le. gimana kabar nya?" tanya si Mbah berjalan ke depan menghampiri kedua nya.


"Alhamdulillah kami sehat Mbah" jawab Santi dan Rafli menyalami si Mbah.


"mbak mau gorengan nya juga enggak?" tanya gadis kecil tadi.


"sudah Mateng juga gorengan nya Din?" tanya Santi.


"iya mbak. mumpung Nadin belum berangkat sekolah sama ibu belum ke pasar. Biasanya mbokde yang kerja di kebun Bu guru itu pada mampir beli gorengan buat bekal"


Rafli dan Santi pun mengangguk, mereka mengambil bakwan yang masih hangat yang baru saja di letakkan oleh gadis bernama Nadin itu.


"sekarang pulang mau tinggal di sini lagi le?" tanya si Mbah.


"mboten (enggak) Mbah, kami masu nyari pak bewok"


"lha kenopo (kenapa)?"


"insyaallah kami mau menikah bulan depan Mbah, jadi kami perlu kehadiran pak bewok untuk jadi wali nya Santi"


"owalah,,, Mbah tuh seneng Lo nduk pas denger kamu minggat dari pernikahan mu waktu itu. Memang bapak mu iku edan (g*la) harta sampe mau jual anak ke rentenir" seru si Mbah geram.


"iya Mbah, saya juga bersyukur bisa kabur dari bapak. Tapi sekarang saya juga kebingungan mau nyari bapak kemana" ucap Santi sedih.


Rafli langsung menggenggam jemari tangan Santi. Ia pun merasa sedih, mungkin jika tidak harus mencari pak bewok pernikahan mereka sudah di gelar seminggu setelah acara lamaran tapi mau bagaimana lagi.


"ini mbak, mas pecel nya. Monggo di nikmati, Nadin mau siap-siap ke sekolah dulu"


"makasih ya Din" ucap Rafli.


"nggeh (iya) mas"


"di sambi le, nduk, Mbah mau bantu-bantu ibu nya Nadin"

__ADS_1


"nggeh Mbah"


Si Mbah pun beranjak ke dalam membiarkan sepasang kekasih itu menikmati pecel sebagai menu sarapan.


__ADS_2