
Jangan lupa cerita baru othor di lirik ya gaes.
***
Santi berangkat menuju rumah sakit bersama Rafli. Rafli mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi sebab Santi berkata bahwa Zaifa membutuhkan darah nya segera dan kondisi Zaifa kritis.
Di tempat lain, tepat nya di apartemen milik Dani. Ia di ganggu oleh suara sang istri yang sedang membangunkan dirinya. Fatma menggoyang kan tubuh Dani agar suaminya itu lekas bangun.
"apa sih sayang. Aku masih ngantuk" ucap Dani dengan mata yang masih terpejam.
"bangun dulu" ucap Fatma.
"apa? kenapa? Kamu masih belum puas sama yang tadi malem? Mau minta lagi hem?"
Mendengar itu Fatma langsung melempar bantal telah mengenai kepala Dani hingga pria itu mengaduh kemudian duduk di atas ranjang.
"kok malah di lempar sama bantal sih" sungut Dani.
Pria itu bahkan hanya mengenakan kaos dalam dan celana pendek.
"mandi dan kita akan ke rumah sakit" ucap Fatma.
Dani terdiam mencerna ucapan sang istri. Mau ngapain Fatma mengajak nya ke rumah sakit.
"cepat mas. Zaifa kritis dan Raihan pasti butuh kamu sebagai teman"
"hah!"
"cepat!!!" teriak Fatma.
Dani pun langsung secepat kilat masuk ke dalam kamar mandi. Fatma hanya menggeleng kan kepala nya merasa heran dengan sang suami karena yang ada di pikiran Dani hanya seputaran bermain di atas ranjang saja.
Fatma membereskan kasur yang acak-acakan karena kerja keras mereka tadi malam. Setelah selesai Fatma pun menyiapkan baju ganti untuk sang suami. sedang dirinya duduk di depan meja hias untuk bersiap.
"apa yang terjadi pada Zaifa yang?" tanya Dani.
"apakah Zaifa sudah mau melahirkan?" lanjut Dani.
"kita akan tau jika kita segera kesana"
Dani pun dengan cepat berganti baju bahkan ia berganti baju di depan sang istri. sungguh suami dari Fatma itu tak mau sekali.
Tak lama mereka pun segera keluar dari apartemen dan menuju parkiran dan langsung ke rumah sakit.
Di samping itu, Santi dan Rafli sudah sampai di rumah sakit. mereka langsung menuju tempat dimana mama Niken menunggu.
Zaifa sudah di pindah ke ruang UGD, karena operasi telah selesai. hanya saja Zaifa masih dalam kondisi kritis karena kekurangan banyak darah.
Santi dan Rafli menghampiri Niel dan Raihan yang duduk di kursi tunggu.
__ADS_1
"den"
"mas"
panggil Santi dan Rafli bersamaan. Niel dan Raihan menoleh. Santi merasa iba dengan kondisi Raihan, pria itu terlihat sangat berantakan dan pucat. Sedang Niel sama pucat tapi masih sedikit terlihat rapi.
"makan dulu mas, tadi aku mampir ke kantin. tapi maaf cuma beli roti aja sama air minum" ucap Santi meletakkan kresek di kursi samping Niel.
"makan dulu Rai, kau pasti belum sarapan tadi"
Raihan menggeleng, bagaimana ia bernaf*su makan jika sang istri masih dalam kondisi kritis disana. Ia menyalah kan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Zaifa. Ia merasa menjadi suami yang tak berguna karena membiarkan istri nya terbaring lemah tak berdaya.
Membayangkan itu air mata Raihan kembali meleleh. Niel yang melihat itu menepuk pundak sahabat sekaligus adik ipar nya itu.
"kamu harus tetap makan Rai, lihat wajah mu begitu pucat. Jika sampai Zaifa sadar nanti dia pasti akan sedih melihat mu seperti ini" bujuk Niel.
Di lorong sana terlihat mama Niken berjalan berdampingan bersama dokter Wulan. Mama Niken terlihat menggendong seorang bayi.
"Raihan..." panggil mama Niken lembut.
Raihan mendongak. Ia terkejut melihat mertua nya menggendong seorang bayi. Ia melupakan anak nya. Raihan langsung berdiri dan menatap wajah mungil yang masih terlelap.
"i-ini anak ku ma?" tanya Raihan.
"iya ini adalah putri mu"
Mama Niken mengangguk, ia menatap haru ke arah Raihan. menantu nya ini terlihat begitu kacau, matanya sayu, wajah nya sedikit pucat, baju nya pun berantakan.
"aku ingin menggendong putri ku ma"
Mama Niken menyerah kan bayi mungil itu kepada Raihan. Bayi kecil yang panjang nya hanya sebatas lengan Raihan. Ini adalah anak nya, buah cinta nya bersama Zaifa. Jika Zaifa sadar sudah pasti wanita itu akan bahagia.
Raihan menciumi wajah anak nya. Tak terasa air mata kembali mengalir. Ia merindukan Zaifa, seharusnya saat ini ia sudah duduk bersama Zaifa sembari mengamati putri kecil nya.
Mama Niken mengambil alih sang cucu ketika mendengar isakan Raihan. Bayi kecil itu di serahkan kepada Niel sementara mama Niken membawa Raihan ke dalam pelukan nya. Dan air mata Raihan pun kembali tumpah.
"istri ku ma" ucap Raihan.
Mama Niken menepuk lembut punggung sang menantu. Bukan hanya Raihan, bahkan mama Niken pun merasa sangat sedih. Tapi, ia tahu jika Raihan mencintai sang anak lebih dari apapun. Hal yang wajar jika Raihan sedih seperti ini.
"sabar nak, Zaifa pasti akan baik-baik saja" ucap mama Niken.
Mama Niken melepas pelukan itu dan menghapus air mata Raihan.
"lihat Rai, putri kecil mu. Dia membutuhkan papa nya. Gendong dia, berikan ia kenyamanan. ia belum merasakan di gendong oleh orang tua nya"
Niel berbalik, menatap bayi kecil dalam gendongan Niel.
"sekarang makan lah dulu, kau butuh tenaga untuk merawat putri mu dan menunggu Zaifa sadar. Kau tak ingin membuat Zaifa sedih kan jika Zaifa sadar dan melihat mu sakit"
__ADS_1
Mama Niken mengambil dua bungkus roti selai dan membuka nya. Ia menyerahkan masing-masing satu roti untuk sang anak dan menantu. Ia pun kemudian menggendong kembali sang cucu.
"dia terlihat lucu Tante" seru Santi.
Mama Niken menoleh, ia baru sadar jika ada Rafli dan Santi disini.
"kau sudah mendapatkan pendonor nya nak?" tanya mama Niken.
"aku yang akan mendonorkan darah Tan, semoga golongan darah ku sama"
"terima kasih nak. Kau begitu baik"
"mbak Zaifa lebih dulu selalu berbuat baik sama aku Tante"
"baiklah dek, mari ikut saya untuk memeriksa kecocokan darah mu dengan Zaifa"
Santi mengangguk dan mengikuti dokter Wulan.
Beberapa saat Dani datang bersama Fatma. Terlihat di tangan Dani membawa parcel buah.
"Niel, Rai. gimana keadaan Zaifa?" tanya Dani.
"ini anak Zaifa Tante?" tanya Fatma.
Mama Niken mengangguk, sebisa mungkin ia menekan rasa sedih di hatinya sebab ada cucu yang juga harus di perhatikan oleh nya.
"bagaimana Niel?"
"Zaifa kritis, ia masih membutuhkan satu kantong darah lagi"
"apa golongan darah nya?"
"AB-"
"maka biar aku yang mendonorkan darah ku untuk Zaifa" seru Dani.
Raihan menoleh, ia menatap haru ke arah Dani.
"thanks bro" Ical Raihan.
Dani mendekat ke arah Raihan. Ia memeluk sahabatnya yang tampak kacau itu. Ia memeluk bahu Raihan dan tersenyum tipis.
"kau adalah saudara Rai, Zaifa sudah seperti adik bagiku. Kau jangan berterima kasih sebab kau sudah sangat baik padaku selama ini"
Raihan tersenyum tipis. Wajah nya sudah tidak terlalu pucat setelah memakan satu bungkus roti dan minum air.
"Niel antar Dani ke ruang periksa. agar sekalian di periksa bersama Santi. Niel pun mengangguk dan membawa Dani ke ruangan sang kekasih.
Dalam hati mereka semoga saja golongan darah Santi dan Dani cocok dan di terima oleh tubuh Zaifa.
__ADS_1