
Zaifa mengerjapkan matanya dan memindai ruangan, ini adalah kamar mewah nya di rumah mama Niken. Zaifa menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang, melirik pada jam dinding yang menunjukkan pukul delapan malam. Ternyata ia kelelahan dan tertidur di mobil saat perjalanan pulang.
Zaifa meraih tas di nakas hendak menghubungi sang kekasih dan menanyakan mengapa tak membangun dirinya yang ketiduran. Ketika layar handphone menyala matanya terbelalak saat mendapati banyak nya panggilan tak terjawab dan pesan yang tak di balas nya dari Rafli.
Ia segera mendial nomor Rafli dan setelah beberapa saat akhirnya tersambung.
"halo Rafli, ada apa?" tanya Zaifa khawatir.
Dari banyak nya panggilan telepon dan pesan yang di kirim oleh Rafli, Zaifa bisa menyimpulkan bahwa telah terjadi sesuatu di desa sana.
"halo bu, saya butuh bantuan ibu" jawab Rafli dengan suara lirih.
"katakan"
Rafli menghela nafas berat dan itu di dengar oleh Zaifa. hening beberapa saat dan Zaifa menebak Rafli sedang menyusun kata-kata untuk berbicara dengan nya.
"kau bisa bercerita dari mana saja Raf, aku akan berusaha memahami"
"tadi siang saya sempat datang ke rumah Santi, dan disana saya melihat Santi sedang di paksa menikah oleh pak Bala. Santi juga sempat mendapati kekerasan fisik. Say....."
"apa??? Kekerasan fisik katamu?" teriak Zaifa memotong ucapan Rafli.
Rafli memejamkan matanya, untuk gadis kota seperti Zaifa pasti akan terkejut mendengar hal seperti ini. Namun di desa hal ini adalah sebuah kewajaran. Tapi yang Rafli tak tau, saat ini Zaifa sedang menahan gejolak trauma dalam dirinya.
"aku akan membantu mu Raf, aku akan menghubungimu kembali besok"
Zaifa memutuskan panggilan secara sepihak. Dada nya sesak, mendengar Santi mendapat kekerasan fisik entah mengapa hatinya seperti tercubit. Hatinya ikut merasa sakit padahal ia tak melihat kekerasan fisik seperti apa yang di alami oleh Santi.
"cepet nyuci baju nya anak bo*doh! Kalo mau makan kau harus kerja jangan mau enak nya aja!!!" seru seorang wanita baya menoyor keras kepala seorang bocah perempuan berusia tujuh tahun.
Wanita baya itu mendorong keras bahu sang bocah ketika secara tak sengaja menjatuhkan salah satu baju yang hendak di jemur. Tak lama terdengar suara tamparan keras dan isakan yang tentu nya berasal dari mulut gadis kecil yang ujung bibir nya robek dan mengeluarkan darah.
"makanya kerja yang bener! dasar nyusahin!!!" wanita baya itu beranjak dan meninggalkan gadis kecil yang terisak-isak.
Zaifa menggeleng, ia menutup kedua telinganya.
__ADS_1
"tidak..!!! Tidak !!!!"
Seru Zaifa sembari menangis.
Mama Niken yang kebetulan masuk ke kamar Zaifa karena hendak membangunkan sang putri untuk makan malam pun terkejut. Ia segera mendekati Zaifa dengan raut wajah khawatir.
"sayang... apa yang terjadi??" tanya Niken khawatir.
"tidak..!!!!" ucap Zaifa lirih sembari menggeleng kan kepalanya kuat.
Niken merengkuh tubuh sang anak, namun tangis Zaifa tak kunjung berhenti dan itu mengundang kepanikan nya.
"Niel!!!!" teriak Niken.
"Niel tolong mama!!!" lanjut nya.
Niel yang sudah duduk di ruang makan bersama Raihan yang ternyata belum pulang pun terkejut. Mereka menajamkan pendengaran, kemudian saling memandang dan akhirnya saling berlari menuju sumber suara.
Mereka masuk ke dalam kamar Zaifa yang pintu nya memang tak tertutup. Terlihat mama Niken sedang berusaha menenangkan sang putri dengan memeluk dan mengusap bahu nya lembut.
"mama....."
panggil Niel dan Raihan bersamaan. Mereka menghampiri keduanya dengan ekspresi bingung. Apa yang sudah terjadi?
"tolong berhenti..." rintih Zaifa.
Raihan mengamati wajah Zaifa yang pucat dan cenderung seperti merasa ketakutan. Ia pun mencoba mendekat.
"Tante, tolong minggir dulu"
Niken akan menolak, namun mengingat Raihan adalah satu-satunya pria yang telah dekat dengan Zaifa sejak dulu. Niken akhirnya berdiri dan memberi ruang untuk Raihan.
"Zaifa..... Sayang ...." panggil Raihan lembut.
Raihan menyentuh bahu Zaifa dan melepas kedua tangan Zaifa yang menutup telinga. Raihan mendekatkan bibirnya pada telinga Zaifa kemudian membisikkan sesuatu yang masih bisa di dengar oleh mama Niken dan Niel.
__ADS_1
"sayang,,, dengar.. Semua sudah berlalu, mereka tak akan mungkin menyakiti dirimu. Ada aku Zai, sekarang kamu tidak sendiri. Lawan rasa takut itu Zai, kamu pasti bisa. Kamu adalah Zaifa yang kuat. Dan seterusnya kamu adalah Zaifa nya mas Raihan.. Kamu kuat, kamu baik. Lupakan semua kenangan buruk dari mereka. Hidup lah dengan lebih baik"
Bisikan lembut itu mengalun merdu di telinga Zaifa. perlahan isakan dari bibir mungil itu terhenti. Zaifa mendongak, terlihat matanya sedikit sembab dengan bekas air mata yang menganak sungai di pipi.
Raihan tersenyum hangat kemudian mengecup kening Zaifa. Hal yang selalu ia lakukan ketika Zaifa baru saja selesai menangis.
"mas Rai...." ucap Zaifa dengan suara parau.
"ya, mas ada disini.. Mas selalu ada untuk Zaifa, dan sekarang bukan hanya mas. tapi Niel dan juga mama Niken ada untuk Zaifa"
Zaifa mendongak dan mendapati sang kakak yang tengah tersenyum hangat. begitu juga dengan sang mama yang ikut tersenyum meskipun jejak air mata terlihat di pipi nya.
"semua akan baik-baik saja...."
Zaifa menatap mata Raihan, terlihat sebuah ketulusan disana. Sudah lama sekali ia melupakan semua perlakuan buruk keluarga angkat nya di masa lalu. entah mengapa setelah mendengar apa yang di ucapkan oleh Rafli membuat Zaifa tiba-tiba teringat dengan kekerasan yang sering ia dapat dulu.
"kau lelah? Atau sebaiknya kau menceritakan sesuatu? Tak baik memendam semuanya sendirian sayang.... beberapa hari lagi kita akan menikah, jangan sampai ada beban yang membuat mu menjadi kepikiran dan akan sakit nanti"
"aku akan bercerita, dan semoga mas Rai bisa membantu"
"pasti. Sekarang cuci muka dulu dan mas Rai akan menunggu mu di bawah"
Zaifa mengangguk kan kepalanya, kemudian turun dari ranjang. Setelah Zaifa masuk ke kamar mandi Raihan memberi kode kepada Niel dan mama Niken agar membiarkan Zaifa sementara.
Mereka turun dan menunggu Zaifa di ruang makan. Raihan mengabaikan tatapan dua orang di hadapan nya. Baginya belum saat nya bercerita karena nanti pasti nya Zaifa sendiri lah yang akan menceritakan nya.
Zaifa tersenyum ketika Zaifa telah turun, terlihat Zaifa sudah berganti pakaian dan wajah nya pun terlihat lebih segar dari sebelumnya.
"sebaiknya kita makan dulu ma" putus Niel.
melihat adiknya telah tersenyum cerah ia tak ingin membuat sang adik kembali menangis. Sebab jika tak salah menebak, Zaifa pasti mengalami trauma kesakitan sampai ia menangis seperti tadi.
Niken mengiyakan dan menunggu sang putri duduk di kursi yang ada di sebelah Raihan. Niken mengambilkan sepiring nasi lengkap dengan lauk kesukaan sang putri kemudian memberikan piring itu kepada Zaifa.
"makasih mama" ucap Zaifa ceria.
__ADS_1
"makan lah yang banyak sayang" ucap mama Niken.
Setelah itu mereka pun makan dengan hening, hanya suara denting sendok yang beradu dengan piring yang terdengar. Sesekali Raihan akan melirik ke arah Zaifa dan hal itu tak luput dari penglihatan Niel dan mama Niken.