SETELAH DI CERAI

SETELAH DI CERAI
bab 91


__ADS_3

Rafli sudah berdiri di pintu mobil. Ia memandang ke arah kostan di depannya. Pagi ini mereka berencana akan datang ke warung makan mang Asep. Selain untuk mengisi perut karena belum sarapan, mereka juga ingin bertemu dengan wanita yang bekerja sebagai pencuci piring disana.


"udah siap?" tanya Rafli.


Santi mengangguk, Santi masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku samping Rafli. Rafli mulai melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang.


Tak perlu waktu lama, mereka sudah sampai di warung makan mang Asep. Mereka masuk dan mencari duduk, rupa nya meskipun masih pagi banyak pembeli yang sudah datang. Rata-rata mereka memesan bubur ayam yang memang cocok di jadikan menu sarapan pagi.


"kamu pesen apa?" tanya Rafli.


"aku aja deh yang pesen, kamu mau apa?"


"aku bubur ayam aja deh, kayak nya enak"


"oke, minum nya apa?"


"teh hangat aja kalo ada"


Santi mengangguk, ia bangkit dan berjalan ke arah dapur untuk memesan bubur ayam dan teh hangat.


"mang..!!" panggil Santi.


Namun, mang Asep tak ada. Santi mengernyit heran karena tak biasa nya mang Asep meninggalkan warung nya.


"mau pesen apa mbak?" tanya seorang wanita yang baru masuk ke dalam dapur.


Santi menoleh ke arah wanita itu, suara yang sangat tidak asing di telinga nya membuat ia langsung menoleh.


"ibu..." gumam Santi dengan mata berkaca-kaca.


Tak beda dengan Santi, Bu Dewi pun menatap Santi dengan mata berkaca-kaca. Sudah setahun ia tak bertemu sang putri dan sekarang Tuhan begitu baik mempertemukan mereka.


Bu Dewi mendekati Santi, air mata sudah jatuh di pipi nya begitu pun Santi. Mereka berpelukan menyalurkan rasa rindu yang teramat dalam. Rasa kesal, marah dan benci dalam hati Santi sirna. Terlebih ketika tanpa sengaja ia mendengar bahwa sang ibu menjual segala milik nya agar Santi terbebas dari jerat juragan Bala.


"Santi kangen sama ibu!!" ucap Santi memeluk erat sang ibu.


Rafli yang melihat Santi sedang memeluk seorang wanita pun segera menghampiri.


"sayang... kamu kenapa?" tanya Rafli.


Santi melepas pelukan nya pada Bu Dewi. Bu Dewi yang mendengar suara pria yang di kenal nya menoleh.

__ADS_1


"Rafli!" seru Bu Dewi.


"ya Allah, ini Bu Dewi" ucap Rafli bahagia.


Rafli mencium tangan Bu Dewi kemudian memeluk nya singkat.


"Bu Dewi apa kabar?"


"Alhamdulillah baik. kalian apa kabar?"


"kami baik bu. Ibu ikut kamu duduk di sini aja" ajak Rafli.


Bu Dewi menggeleng, ia merasa sungkan sebab ia adalah pekerja disini.


"nanti aja nak, ibu kan kerja disini. kalian pesan apa biar ibu buat kan. Mang Asep lagi sakit perut jadi enggak ada di dapur"


"ibu duduk di sini aja yuk, ngobrol sama Santi. Santi masih kangen sama ibu" ucap Santi manja.


Bu Dewi tersenyum, ia bahagia, sangat bahagia. Selain bahagia karena bertemu dengan sang putri tapi ia juga bahagia karena Santi telah bahagia selama ini.


"ya sudah. Ibu duduk, tapi sebentar aja ya"


Santi mengangguk, ia menggandeng lengan sang ibu dan mendudukkan di samping nya.


"dua Minggu setelah kamu pergi ibu menjual rumah dan tanah serta perhiasan ibu sebab ibu ingin melunasi hutang ibu dan bapak pada juragan Bala. Ibu juga sudah menggugat cerai bapak mu. Ibu ngga bisa hidup sama bapak mu lagi nduk, karena bapak mu ngga bisa di omongi"


"enggak apa buk, apa yang ibu lakuin pasti yang terbaik untuk ibu"


"Dewi!!" panggil seseorang dari arah belakang.


Mereka bertiga menoleh dan mendapati mang Asep yang baru datang. tampak mang Asep memegang perut nya dan wajah nya terlihat sedikit pucat.


"mamang udah baikan?" tanya Bu Dewi khawatir.


Bu Dewi langsung menghampiri mang Asep dan menyeduh minuman hangat untuk Mamat. Minuman itu di beri sedikit gula pasir dan juga garam. setelah larut Bu Dewi memberikan nya kepada mang Asep.


"minum mang"


"apa ini wi?" tanya mang Asep melihat segelas air itu.


"itu kalo di desa saya nama nya oralit alami mang, itu cuma air di campur sama gula dan garam. Bisa untuk mengobati perut sakit kok" jelas Bu Dewi.

__ADS_1


Mang Asep percaya saja dan kemudian meminum nya. Sensasi hangat langsung menjalar di tubuh nya. Melalui tenggorokan masuk ke lambung dan ternyata benar rasa mulas di perut nya sedikit berkurang.


"oh iya Dewi, gadis ini yang waktu itu nyariin kamu" ucap mang Asep.


"iya mang, sejak itu saya belum kesini lagi karena sibuk ada kerjaan. Tante Niken juga sekarang jarang ke butik karena selalu menghabiskan waktu nya bersama si kecil Rara" jelas Santi.


"ohhh,, jadi Bu Niken sudah punya cucu? Dari mas Niel atau putri yang baru ketemu itu neng?"


"dari mbak Zaifa mang, putri yang baru setahun lebih ini di temukan"


"oh ya udah, jadi kamu waktu itu nanyain Dewi kenapa?" tanya mang Asep.


"itu ....." belum sempat Santi menjawab tapi omongan nya sudah di potong oleh pembeli.


"mang, saya pesen dong bubur nya 10 porsi mau di bawa buat sarapan pekerja proyek" seru seseorang yang mengenakan seragam proyek itu.


"aduh maaf mas, bubur nya udah habis. ini aja saya udah mau tutup soalnya lagi ngga enak badan. Perut saya mules dari tadi" jawab mang Asep.


"yah, terus anak-anak di kasih sarapan apa dong mang. Saya udah biasa beli disini"


"gimana kalo nasi kuning aja. Ini masih ada kalo 10 porsi"


"ya udah deh mang, bungkus aja. daripada ngga sarapan anak-anak"


pria itu lalu duduk di kursi sembari menunggu mang Asep menyiapkan pesanan nya. Tak lama pesanan itu telah siap sebab mang Asep di bantu juga oleh Bu Dewi.


"ini adal 12 bungkus, kamu bayar yang 10 bungkus aja enggak apa-apa. Soalnya setelah ini saya mau tutup aja mau istirahat"


"makasih ya mang" ucap pria itu sembari menyodorkan uang lembaran merah pada mang Asep.


Mang Asep mengangguk, pria paruh baya itu mulai menutup warung dengan tirai kain dan di bantu oleh Rafli. sementara Bu Dewi mencuci piring di bantu Santi.


"makasih ya neng sama mas udah bantuin saya" ucap mang Asep.


Mereka berempat sudah berdiri di luar warung makan karena warung makan itu sudah tutup lebih awal.


"sama-sama mang" jawab Rafli.


"ya udah. kalian kalo mau ngobrol di lanjut aja. mamang mau pulang dulu. perut mamang masih mulas"


"iya mang, nanti kalo belum sembuh juga jangan lupa berobat"

__ADS_1


Mang Asep mengangguk menanggapi nasihat Dewi setelah itu berlalu. Mereka bertiga pun masuk ke dalam mobil setelah melihat Mang Asep sudah berjalan masuk ke rumah kontrakan nya.


__ADS_2