SETELAH DI CERAI

SETELAH DI CERAI
bab 39


__ADS_3

"assalamualaikum"


Santi dan bik Surti menoleh, beda dengan buk surti yang tersenyum ramah Santi menatap pria itu dengan wajah yang tanpa ekspresi.


"wa'alaikum salam" jawab bik Surti.


"duduk sini mas, bibik mau bikinin minum dulu. teh atau kopi?" tanya bik Surti.


"Kopi pahit saja bik kalo ada"


Bik Surti mengangguk kemudian berlalu meninggalkan dua muda mudi itu. Santi diam namun sekarang pandangan nya menatap ke arah depan, dimana banyak nya tanaman bunga yang di tanam dengan baik oleh bik surti.


Mereka berdua sama-sama diam, hingga saat bik Surti datang membawa segelas kopi mereka belum berbicara apa pun. Bik Surti meletakkan gelas itu dan langsung kembali ke dalam meninggalkan mereka berdua.


Karena seperti yang ia dengar dari Rani saat menelpon kemarin, antara Rafli dan Santi ada yang perlu di bicarakan dan di selesaikan.


"Santi" panggil Rafli menatap Santi.


"ya" Santi menjawab tanpa menoleh ke arah Rafli.


Rafli menghela nafas berat. Entah mengapa saat ia sedang menyelesaikan sebuah proposal tiba-tiba teringat dengan ucapan Rani Minggu lalu, tepat nya saat pagi-pagi ia hendak berpamitan kembali ke desa.


"jangan cintai aku Raf, umur kita berbeda jauh. kau lebih cocok jadi adikku dari pada kekasih ku. Lebih baik kau dengan Santi, di balik senyum nya yang manis ada jutaan kepedihan yang ia pendam. Dan yang terpenting adalah dia mencintai mu"


"Santi mencintai mu Raf, dengan terus menatap ku kau akan semakin menyakiti nya dan aku pun akan merasa bersalah."


Ucapan Rani yang sekarang mulai akrab ia panggil Zaifa itu terus terngiang.


Lalu saat ini bagaimana ia akan menanyakan hal seperti itu kepada Santi. Sementara yang ia dengar saat ini Santi telah di jodohkan oleh orang tua nya. dan logika yang di pakai oleh Rafli, jika Santi mencintai dirinya mengapa harus menerima lamaran orang lain.


"kenapa Raf? Jika tidak ada yang penting aku akan masuk, udara nya semakin dingin" ucap Santi menghentikan lamunan Rafli.


Sebenarnya bukan udara yang dingin, namun mereka. mengapa duduk berdua jika hanya saling diam. kopi dan teh di samping mereka terasa dingin jika terus di diam kan, apalagi mereka sendiri.

__ADS_1


"aku akan masuk Raf, permisi" Santi beranjak sembari membawa nampan yang berisi segelas teh yang tinggal separo dan juga kue bolu.


"tunggu San"


"katakan, aku tidak suka jika duduk berdua namun hanya diam tidak ada pembicaraan" tegas Santi.


"duduk lah lagi"


Santi duduk agak menjauh dan menatap Rafli, begitu pula Rafli. di pandangi nya wajah perempuan yang memiliki kulit kuning Langsat itu. Wajah bulat dan hidung kecil membuat nya terlihat sangat imut. Santi langsung memutus pandangan itu dan melihat ke arah bintang.


"San... Apakah benar yang di-di katakan Bu Rani... Ji-jika kau menyukai ku?" tanya Rafli akhirnya.


Meskipun dengan terbata-bata namun ia berhasil menanyakan hal itu. Santi diam, dia tidak kaget Rafli menanyakan hal ini sebab Rani sudah memberitahu nya beberapa hari yang lalu saat mereka bertukar pesan.


Santi menghela nafas, hatinya gamang. Rasanya jika ingin mengungkapkan segalanya toh tidak akan merubah apapun. semua sudah terlambat.


Santi meraba leher yang terdapat kalung emas dengan simbol S sebagai inisial nama nya. kalung pengikat yang di berikan oleh seseorang yang melamar nya beberapa Minggu yang lalu.


"Santi tolong jawab" desak Rafli.


"Santi" panggil Rafli lagi tak sabar.


"iya." jawab Santi.


"aku memang menyukai mu, bahkan tidak hanya menyukai namun aku sangat mencintai mu dan ingin hidup berdua dengan mu. Puas!" kata Santi tegas.


"apakah kau tak bisa membaca sikap ku selama ini Raf? Apakah kau bu*ta sehingga tak melihat bagaimana engkau terlihat berbeda di mataku?! Apakah kau baru sadar ketika Bu Rani yang mengatakan nya?? Kemana kau selama ini hah?!" ucap Rani sarkas.


Rafli terdiam, sekarang baru ia sadar mengenai sikap Santi yang selalu mengedepankan dirinya dalam hal apapun. Bahkan Santi juga yang merekomendasikan dirinya kepada Rani dulu.


"San..."


"cukup! Jangan bahas lagi Raf, itu hanya akan semakin menyakiti ku. Pulang lah, permisi"

__ADS_1


Santi berlalu pergi namun secepat mungkin Rafli menahan tangan kiri Santi.


"apalagi? Semua sudah terlambat Raf"


Santi mengibaskan tangan Rafli kasar kemudian lekas masuk dan menutup pintu dengan kasar. tubuh Santi luruh ke lantai, ia menangis. Sangat terlambat jika Rafli baru menyadari perasaan nya selama ini.


Rafli memandang pintu yang sudah tertutup, entah mengapa dada nya sesak melihat mata Santi berkaca-kaca. Mengapa rasanya ia menyesal baru menyadari hal ini.


***


Pagi hari telah tiba, hari ini langit terlihat cerah secerah wajah kedua pengantin yang duduk di depan penghulu siap untuk melakukan ijab qobul.


"siap mas?" tanya penghulu di depan Boby.


"siap pak" jawab Boby tegas.


setalah itu penghulu menjabat tangan Boby dan kalimat sakral pun terucap. Semua mengucapkan Alhamdulillah ketika semua saksi mengatakan SAH.


"Alhamdulillah, selamat nak Boby dan nak Diva kalian sudah sah menjadi suami istri" kata penghulu itu.


Air mata Boby dan Diva luruh. Mereka tak menyangka bahwa ternyata selama ini dekat dengan jodoh. Tak hanya sang pengantin, para keluarga, teman dan semua yang menyaksikan pun ikut terharu, terlebih ketika Boby dan Diva sungkem kepada orang tua Boby.


"jadi suami yang baik ya nak, tanggung jawab mu sekarang bertambah. Didik istri mu dengan kelembutan, cintai dia seperti saat engkau mencintai nya pertama kali" pesan sang ayah kepada Boby.


Boby memeluk pria panutan nya itu dan beralih kepada sang mama.


"selamat nak, mama bahagia sekali kamu sudah menikah dan menemukan pasangan yang kau cintai. semoga kalian bahagia selamanya bisa saling memahami satu sama lain" ucap sang mama mencium kening Boby lama.


Diva yang ada di belakang Boby pun menangis sesenggukan, di hari bahagia nya tak ada satu keluarga pun yang datang karena memang ia sudah yatim piatu dan sanak keluarga nya jauh di luar pulau semua.


Diva memeluk mama mertua nya, bahu nya bergetar. Mama Boby menepuk pundak sang menantu, ia paham betul bagaimana perasaan seorang anak ketika menikah tidak di dampingi orang tua atau pun keluarga.


"Diva anak baik, Diva pasti bisa jadi istri yang baik untuk putra mama. Mulai sekarang Diva putri mama, Diva anak mama. Kalo Diva rindu dengan orang tua Diva, lihat mama dan papa ya sayang. Kami orang tua mu sekarang"

__ADS_1


Mama Boby mencium kedua pipi, hidung, mata dan terakhir kening Diva. ia kemudian memeluk lagi menantu sekaligus putri nya itu.


Suasana haru menular kepada penonton, tidak ada yang tidak terharu menyaksikan hal itu.


__ADS_2