
Cerita yang baru rilis di lirik ya gaes..sambil nunggu yang ini update.
****
Pagi ini, disini lah Rama berada. Di depan rumah mewah milik tuan Hadi. Setelah pembicaraan nya dengan Niel kemarin, Rama membulatkan tekad untuk menemui sang pujaan. Dan akhirnya pagi ini bahkan ketika matahari belum muncul ia sudah bertandang ke rumah gadis yang sudah berhasil meruntuhkan prinsip hidup nya.
Lama ia berdiri di bersandar pada pintu mobil nya, berharap pintu rumah di depan nya akan segera terbuka meskipun itu adalah hal yang mustahil karena saat ini jam baru menunjukkan pukul enam pagi.
Rama dengan sabar menunggu pintu itu terbuka, tak apa jika harus berdiri di tempat begitu lama yang terpenting ia bisa berjumpa dengan sang gadis.
tanpa Rama sadari, sang gadis yang di nanti memperhatikan Rama dari jendela kamar nya. karena kamar itu menghadap ke depan sehingga dengan muda melihat siapa tamu yang pagi-pagi sudah datang. Meski begitu hati nya tak tergugah untuk segera membuka pintu. Tapi ia bergegas keluar dari kamar.
Tak sampai sepuluh menit kemudian pintu terbuka, Rama lekas menoleh dan ternyata tuan Hadi yang membuka pintu.
"tuan Rama" sapa tuan Hadi kemudian menghampiri sang tamu.
"selamat pagi tuan"
"pagi, ada apa gerangan tumben kesini pagi sekali?"
Rama ragu ingin mengatakan bahwa ia sengaja datang pagi-pagi karena ingin bertemu Patricia. tuan Hadi menunggu Rama menjawab sembari memperhatikan wajah Rama.
"kau ingin bertemu putri ku?"
Rama menatap tuan Hadi, pria muda itu tersenyum lega ternyata tuan Hadi memiliki kepekaan yang tinggi.
"iya tuan, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan dengan Patricia"
tuan Hadi mengangguk, sebenarnya ia ingin membawa Rama masuk ke dalam rumah. Tapi ia harus menuruti keinginan sang putri untuk tidak menerima Rama. Meskipun ada tak tega karena bukan nya tuan Hadi tak tau kalo Rama sudah berdiri di halaman rumah nya sejak pagi buta. Tapi sepertinya ia harus tega, karena bagaimana pun ia ingin melihat perjuangan Rama untuk sang putri.
"tapi sayang sekali nak Rama, Patricia pergi sejak kemarin dan belum kembali" ucap tuan Hadi yang seketika meruntuhkan semangat Rama.
Rama menatap tuan Hadi dengan seksama. tak ada raut kebohongan di wajah pria yang sudah tak muda lagi itu. Akhirnya dengan lemah Rama pun memilih pamit pergi. Padahal ia sengaja melimpah kan pekerjaan kantor kepada sang sekretaris karena ia ingin mengajak Patricia mengobrol tapi ternyata ia harus kecewa.
"baik lah kalau begitu om, saya pamit"
tuan Hadi mengangguk dan tersenyum, panggilan dari Rama membuat ia kembali muda. karena sejujurnya daripada di panggil tuan atau om, tuan Hadi lebih suka dipanggil om oleh Rama atau pun sahabat-sahabat Rama.
Tuan Hadi masuk kembali ke dalam rumah setelah memastikan bahwa mobil Rama sudah keluar dari gerbang.
"kau senang?" tanya tuan Rama pada sang putri yang ternyata mengintip sejak tadi.
jendela di rumah tuan Hadi adalah jendela yang bisa melihat dari dalam, tapi orang luar tak bisa melihat ke dalam. Patricia nyengir, meskipun ada rasa tak tega tapi ia ingin melihat wajah kecewa Rama.
"hari ini aku akan bertemu dengan Niel" ucap Patricia.
"apakah setelah di tolak oleh Rama kau berganti mendekati sahabat nya?" goda tuan Hadi.
__ADS_1
"papa!!! Niel sudah memiliki kekasih dan mereka akan segera bertunangan" jawab Patricia kesal.
"lalu? Untuk apa kau bertemu dengan nya?"
"Niel bilang akan mengatakan sesuatu tentang Rama padaku"
"ohhh,,, jadi karena akan membahas tentang Rama jadi kau mau di ajak bertemu oleh Niel?"
"huh, tidak juga sih"
"ya ya ya.... Papa tau. tapi nanti kau di antar oleh supir saja. Karena papa ada meeting penting di perusahaan"
"tapi ..."
"tidak boleh mengendarai mobil sendiri" tegas tuan Hadi.
Patricia menatap cemberut ke arah sang papa. Ia menghentakkan kakinya dengan kesal lalu masuk kembali ke dalam kamar dan bersiap untuk bertemu Niel. Entah apa yang akan di katakan pria itu.
***
"kenapa kau mengajak ku?" tanya Wulan pada Niel.
Hari ini seharusnya Wulan memiliki shif piket di siang hari. tapi karena permintaan Niel jadi Wulan meminta kepada teman nya untuk bertukar shif.
"aku hanya tak ingin kau salah paham kembali" jawab Niel santai.
Wulan hanya mendengus. memang sikap nya seminggu yang lalu cukup kekanakan. Ia merasa cemburu karena Niel dekat dengan wanita lain, padahal wanita itu sudah memiliki suami. tapi melihat kekompakan mereka menenangkan bayi yang menangis membuat hati Wulan terasa panas.
"ya,, aku tau"
Niel meraih jemari Wulan kemudian mengecup nya, terlihat pipi Wulan memerah membuat Niel terkekeh.
"hei..." sapa seseorang.
Niel dan Wulan pun mendongak dan mata Wulan melebar ketika melihat siapa datang.
"Wulan!"
"Patricia!"
Mereka kemudian berpelukan, sungguh tak di sangka jika kedua nya saling mengenal.
"bagaimana kabar mu Lan?" tanya Patricia setelah mereka selesai cipika-cipiki.
"aku baik, bagaimana dengan mu?" tanya Wulan.
"aku juga baik"
__ADS_1
"kalian saling kenal?" tanya Niel.
"iya" jawab Wulan dan Patricia kompak, mereka pun saling pandang kemudian sama-sama terkekeh.
"syukur lah" ucap Niel lega.
"setidaknya kau tidak perlu cemburu nanti" lanjut Niel membuat Wulan melotot.
Sementara Patricia tertawa, Wulan adalah sahabat nya di SMA dulu. Dan mendengar ucapan Niel, Patricia tau apa yang mereka bahas.
"kau masih belum bisa menghilangkan sifat cemburuan mu itu?" ucap Patricia.
Wulan mendengus kemudian menatap tajam Niel.
"bagaimana lagi" elak Wulan.
"baik lah lupakan dulu hal itu." ucap Patricia.
"jadi ada apa kau mengajak ku bertemu?" tanya Patricia pada Niel.
"kau tak ingin memesan sesuatu?" tanya Niel.
Patricia melihat di meja dan sudah ada dua jus jeruk yang tinggal tersisa setengah. Patricia lalu memanggil seorang waiters dan memasan coklat hangat.
"jadi?" tanya Patricia setelah waiters itu pergi.
"kau tak sabaran? Apakah karena yang akan di bahas adalah Rama?" ejek Niel.
"Rama? Cia kau dengan dengan Rama?" tanya Wulan.
Patricia menarik nafas pelan kemudian ekspresi wajah nya terlihat sendu.
"awalnya, tapi sekarang tidak" ucap Patricia.
"hei, waktu itu sekilas aku melihat mu datang ke rumah sakit bersama Rama bukan ketika menjenguk Zaifa?"
"iya, tapi setelah itu kami tidak lagi" jawab Patricia ambigu.
"lagipula kau sudah melihat ku saat itu kenapa tak menyapa ku" ucap Patricia sinis.
"aku terburu-buru" ucap Wulan terkekeh.
"terburu-buru karena cemburu melihat ku kan" ejek Niel.
Wulan memukul lengan Niel membuat Niel meringis.
"Patricia, aku ingin mengatakan beberapa hal mengenai Rama. aku mengatakan ini bukan atas nama sebagai sahabat tapi sebagai sesama pria. Dan aku harap setelah kau mendengar ini kau akan mempertimbangkan lagi keputusan mu" ucap Niel serius.
__ADS_1
Wulan dan Patricia sama-sama memasang wajah serius dan bersiap mendengarkan ucapan Niel.
"sebenarnya..........."