
Beberapa hari berlalu begitu cepat, Zaifa sudah mulai terbiasa tinggal di rumah besar milik sang mama. Setiap hari Zaifa membantu sang mama memantau perkembangan restoran dan cafe milik keluarga. Sementara Niel mengerjakan tugas kantor.
Seperti saat ini, tidak ada angin dan hujan tiba-tiba di jam sibuk-sibuknya ia kedatangan tamu tak di undang.
"kenapa kau datang kemari?" tanya Niel.
"aku hanya ingin meminta restu kepada calon kakak ipar" jawab Raihan.
"akhirnya kau percaya jika Zaifa adalah adikku" ledek Niel kemudian membubuhkan tanda tangan pada dokumen terakhir dan menatap wajah Raihan.
"kau tak sibuk?"
"Alex bisa di andalkan."
"kenapa wajah mu seperti itu?" tanya Niel melihat ekspresi Raihan yang tak bisa di tebak.
"sebenarnya Niel kalau bukan karena melihat sendiri hasil tes DNA itu 99 persen menunjukkan bahwa ada hubungan darah antara kau dan Zaifa aku tak akan percaya jika gadis kecil ku itu adalah adik mu"
Niel mengernyit kemudian menumpukan kedua tangan nya sembari menatap Raihan.
"kau tau semasa kecil nya sangat menderita, tak pernah sedikit pun ia merasakan kasih sayang seorang ibu atau pun ayah. Dulu ketika ibu ku meninggal Zaifa adalah anak kecil yang selalu menghibur ku. Padahal ia sendiri tak ada yang menghibur ketika sedang menangis" ucap Raihan.
"hentikan Rai, kau membuat ku merasa bersalah"
"ya, jika mengingat hasil tes DNA itu rasanya aku ingin memukul wajah mu hingga babak belur karena terlambat menemukan Zaifa sehingga ia merasakan kesedihan selalu" sentak Raihan.
"maaf kan aku Rai, aku merasa menjadi kakak yang bo*doh" keluh Niel menundukkan kepalanya.
"kau bukan bo*doh Niel, tapi sangat bo*doh. Bahkan saat pertama bertemu dulu kenapa kau tak langsung curiga dan justru menunggu Zaifa menghilang baru melakukan tes DNA. padahal sampel rambut sudah kau dapat kan dari awal Zaifa masuk ke perusahaan ku"
"aku terlalu takut Rai, aku takut aku salah asumsi. Jika bukan karena Boby meyakinkan diriku mungkin sampai saat ini aku tak berani melakukan tes DNA"
"hah, kau benar di antara kita Boby memang lebih banyak tau. Dan jika bukan karena anak buah ku memata-matai Boby mungkin aku pun tak akan pernah bertemu dengan Zaifa ku lagi"
Niel beranjak dan mendekat pada Raihan. Ia merangkul pindah tegap Raihan.
"dengan apa yang sudah terjadi, kita lupakan Rai. semoga kedepannya akan lebih baik, dan mari kita pergi ke hotel Rama untuk melihat persiapan pernikahan Boby besok"
Raihan mengangguk kemudian beranjak dan mereka berdua pun keluar dari ruangan itu.
***
__ADS_1
Malam berlalu, malam ini keluarga dan para teman menginap di hotel atas permintaan Boby. Di ruangan Boby, kini pria itu tengah duduk gelisah, bahkan ada sedikit keringat di dahi nya padahal ruangan itu ber AC dan suasana pun sudah hampir tengah malam.
"kau berkeringat Bob!" seru Rama.
"tidak" sanggah Boby namun mengusap bulir di dahi nya.
"kau gugup? Santai saja bro, bukan kah besok adalah saat yang kau nantikan" ucap Dani.
"ya kau benar. tapi entah mengapa aku merasa sangat gugup sekarang" ucap Boby jujur membuat teman nya terkekeh.
"kau sudah terbiasa menghadapi klien, dan sekarang kau merasa gugup ketika hendak menikah?" ledek Dani.
"itu berbeda Dan, kau belum pernah merasakan tentu saja kau tidak tau rasanya" cemooh Boby dan Dani hanya mencebik.
Sementara di sofa di depan mereka Raihan pun seperti merasakan apa yang di rasakan oleh Boby. Tiba-tiba ia terdiam dan hanya menunduk.
"apa kau juga merasa gugup?" tanya Niel.
Raihan mendongak menatap Niel dan menatap teman-teman yang sedang menatap ke arah nya.
"aku merasa berdebar" jawab Raihan
"aku pun akan segera menikah"
"kau belum bertunangan" ledek Rama.
"aku akan bertunangan besok lusa, dan setelah itu aku akan menikah seminggu kemudian" balas Raihan.
"benar kah? Apakah Zaifa setuju?" tanya Dani.
pertanyaan konyol Dani sukses membuat Raihan melempar bungkus snack kosong ke arah Dani dan tepat mengenai wajah nya.
"sial*an!" umpat nya.
"mau tak mau maka aku akan membuat Zaifa mau. Lagipula dari dulu sampai besok dan selamanya Zaifa adalah milik Raihan" ucap Raihan bangga.
"cih, siapa tau saja besok Zaifa jadi milik Rama atau Dani" ejek Rama.
"jika kalian berani maka aku akan membun*uh kalian" ucap Raihan datar.
"ampun" ucap Dani dan Rama bersamaan sembari mengangkat kedua tangan mereka.
__ADS_1
"daripada kalian mendebatkan sesuatu yang tak penting lebih baik kita main game saja. Itung-itung agar Boby tak merasa gugup lagi" usul Niel.
"kau benar Niel, daripada mendengarkan para anak kecil berantem mending kita main PS"
Mereka berdua pun berlalu dan duduk di lantai sembari memegang stick ps.
Raihan, Rama dan Dani Pun kemudian menyusul dan ikut nimbrung meskipun hanya menonton dan menghabiskan beberapa bungkus camilan.
***
Berbeda dengan para lelaki yang asyik bermain game, di ruangan yang lain Diva dan Zaifa sedang asyik melakukan perawatan yang sengaja di panggil ke hotel untuk memake over Diva agar bisa tampil maksimal besok.
"berapa lama lagi penderitaan ini akan berakhir?" tanya Diva kepada seseorang yang sedang mengecat kuku nya dengan warna-warna yang sangat cantik.
"sabar kak, ini bahkan baru permulaan. Sebentar lagi setelah selesai dengan cat kuku maka kami akan memijat wajah dan tubuh kakak agar besok rileks saat duduk di pelaminan" jawab nya.
"ini sangat membosankan. lihat lah, bahkan teman ku sampai tertidur" keluh Diva.
Ya, di samping nya Zaifa sudah terlelap sebab ia sangat bosan hanya duduk menunggu kuku nya selesai di cat.
"jika kakak mengantuk kakak bisa tidur juga terlebih dahulu"
"hemh, baik lah. Jangan lupa nanti bangun kan aku jika sudah selesai"
"baik kak"
Diva pun mencoba menyandarkan tubuhnya mencari posisi yang nyaman dan segera memejamkan matanya. entah karena lelah atau bosan tak lama setelah itu terdengar nafas yang beraturan pertanda bahwa ia sudah tertidur.
***
jauh di desa sana, saat ini Santi sedang duduk di lantai teras di temani oleh bik Surti. Di samping mereka ada segelas teh hangat dan sepiring kue bolu sebagai pelengkap. Mereka sedang asyik menatap banyak nya bintang yang bertebaran di langit.
"aku rindu Bu Rani bik" ucap Santi memecah keheningan.
"sama mbak, bibik juga rindu. Kira-kira sekarang non Rani lagi apa ya" tanya jika Surti.
"mungkin....."
"assalamualaikum"
Santi tak jadi melanjutkan ucapannya saat ia mendengar salam dan mengenal pemilik suara itu. Ia kemudian menoleh dan pandangan mereka beradu.
__ADS_1