
"kita ke kontrakan ibu aja San, siapa tau besok atau kapan kalian mau mampir"
Santi dan Rafli saling pandang kemudian mengangguk. mobil yang di kendarai Rafli masuk dalam gang sempit. terpaksa mobil itu di parkir agak jauh sebab gang itu tidak bisa di masuki oleh mobil.
"maaf ya nak, kontrakan ibu jauh di dalam jadi mobil ngga bisa di bawa" ucap Bu Dewi tak enak.
Santi tersenyum, ia menggandeng lengan sang ibu dan bergelayut manja di lengan ibu nya.
"enggak apa Bu, kan Santi udah biasa jalan kaki. Dulu waktu di desa juga Santi sering jalan kaki pas mau berangkat ngajar"
Bu Dewi hanya tersenyum dan mengelus pipi Santi.
"yuk ikutin ibu. Kontrakan ibu 300 meter dari sini"
Santi berjalan sembari menggamit lengan ibu nya sesekali menyandar kan kepalanya dengan manja di bahu sang ibu. sedang di belakang Rafli berjalan mengikuti kedua wanita berbeda usia itu. melihat kedekatan Santi dengan ibu nya Rafli merasa bahagia sekaligus lega.
Karena Rafli tak menyangka jika Bu Dewi bisa berubah setelah di tinggal kan oleh Santi. Rafli bersyukur setidaknya ia sudah mendapat lampu hijau dari calon ibu mertua nya itu. Kini hanya mencari sang calon ayah mertua. Karena Santi adalah anak kandung pak bewok jadi ketika Santi akan menikah maka pak bewok harus menjadi wali nya.
"mas..!!" panggil Santi melambaikan tangan nya di depan wajah Rafli.
"mas!!" panggil Santi lebih keras.
"eh..." Rafli berjingkat kaget.
Ia memandang ke arah Santi yang sedang terkekeh.
"mas Rafli ngelamun apa sih?" tanya Santi.
"kita udah sampe?" tanya Rafli agak linglung.
"kita udah sampe dari tadi mas. Mas Rafli jalan sambil ngelamun untung aja ngga nabrak atau jatuh di selokan" ucap Santi terkekeh.
__ADS_1
Rafli hanya ikut tersenyum kemudian mengikuti Santi masuk ke dalam kontrakan Bu Dewi yang pintu nya sudah di buka.
***
"aku mau nikah secepatnya ma" ucap Niel.
"pokok nya jangan di tunda lama-lama" lanjut nya.
Mama Niken hanya menggeleng, sedang Zaifa dan Raihan tak menggubris ucapan antara ibu dan anak itu. Mereka berdua lebih seru bermain dengan putri mereka yang sudah bisa merespon suara-suara yang di dengar nya.
"lihat mas, anak ku lucu banget sih. Duuhh gemes nya" seru Zaifa melihat Rara yang memainkan jari-jari tangan nya hendak menyentuh mainan yang ada di atas nya.
"Rara juga putri ku sayang" seru Raihan.
"tapi aku yang mengandung dan melahirkan nya" seru Zaifa tak terima.
Raihan menghela nafas, apakah ia harus mengingat kan istri nya ini jika dari buah nya lah Rara bisa hadir.
"tapi aku pemilik bibit nya sayang" bisik Raihan kemudian meniup telinga Zaifa.
***
hari berganti bulan, sudah dua bulan berlalu. Kini tiba acara pernikahan Niel dan Wulan. Wulan menginginkan pernikahan sederhana yang hanya di hadiri oleh anggota keluarga dan teman-teman dekat nya saja.
Wulan tidak ingin lelah hanya untuk berdiri di panggung pelaminan menyalami para tamu undangan. Wulan ingin pernikahan nya berlangsung khidmat dan sakral. Niel tentu saja memenuhi keinginan sang calon istri.
acara ijab qobul di laksanakan di kediaman dokter Nana. Dan acara ijab qobul sudah sukses di laksanakan tadi pagi. Meskipun acara nya sederhana namun Niel memberikan mahar yang tidak main-main.
Untuk gadis cantik, sopan dan berpendidikan seperti Wulan menerima mahar sejumlah emas dan uang 10.000 dolar USA adalah hal yang wajar. Bahkan para saksi terkesima dengan mahar yang di berikan. Meskipun Wulan tak meminta mahar yang besar tapi Niel yak ingin merendahkan harga diri Wulan dengan memberikan mahar yang kecil.
Bukan bermaksud sombong, hanya saja rasa cinta dan rasa sayang pada Wulan membuat Niel berpikir bahwa uang segitu tak berarti apa-apa. Terlebih jika untuk membayar perjuangan dokter Nana yang telah membesarkan Wulan seorang diri semenjak sang suami meninggal.
__ADS_1
Saat ini kedua pengantin baru itu sedang bercengkrama di kamar pengantin. Kamar Wulan yang sudah di dekorasi dengan hiasan ala-ala kamar pengantin. Di ranjang terdapat taburan bunga mawar yang semerbak harum nya. Dinding kamar itu di hiasi dengan bunga-bunga berwarna putih dan merah.
Niel merebahkan di ranjang sang istri. Sembari menunggu Wulan selesai membersihkan diri Niel mengedarkan pandangan nya dan melihat ke arah foto-foto yang bergantung di dinding.
Niel tersenyum ketika melihat foto seorang anak perempuan kecil. tubuh nya yang berisi dan pipi nya yang tembam terlihat menggemaskan ketika sedang tersenyum.
"apa yang kau lihat mas?" tanya Wulan.
Niel terkejut dan langsung berbalik. Niel menelan saliva nya kasar ketika mendapatkan sang istri baru keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan handuk pendek. Handuk itu hanya sebatas dada dan panjang nya hanya sebatas paha. Bahkan sebagian paha mulus Wulan pun terekspos.
melihat Niel semakin mendekat ke arah Wulan, tiba-tiba Wulan menyesal kenapa ia tadi tak langsung memakai pakaian nya. Wulan beringsut mundur ketika Niel semakin dekat. Ketika Wulan hendak berbaik tangan nya sudah lebih dulu di tahan Niel.
"mau kemana hem??" tanya Niel.
Wulan menelan ludah nya susah payah. Ia bukan nya remaja polos yang tak mengerti apapun. Namun, untuk sore hari ini ia ingin istirahat tapi melihat kabut gai*ah di mata Niel ia tak tega menolak nya.
"aku mau pakai baju dulu mas. Dingin" alibi Wulan.
"benar kah?" tanya Niel
Wulan mengangguk kan kepalanya dan mencoba melepas tangan yang di genggam oleh Niel.
"jika dingin kenapa kita tidak saling menghangatkan?"
Tanpa mendengar jawaban Wulan, Niel menarik paksa tangan Wulan dan membuat Wulan tertarik ke depan hingga menabrak dada Niel. Niel langsung meraih tengkuk Wulan dan memberi ciuman hangat di bibir Wulan.
Awalnya memang Wulan diam, namun semakin lama ia pun terbuai dengan permainan Niel. Hingga mereka larut dalam decapan lembut dan akhirnya terjadi lah hal yang seharusnya terjadi.
***
"sayang, nanti kalo kita menikah maaf ya aku ngga bisa memberikan mahar seperti yang tuan muda Niel berikan pada nona Wulan"
__ADS_1
"tak apa mas, aku hanya ingin mahar yang tidak memberatkan dirimu. karena sebenarnya yang lebih di butuhkan adalah tanggung jawab mu setelah resmi menjadi suami ku. Tak peduli berapa mahar yang kau berikan asal itu tak merendahkan ku aku akan terima. dan aku harap setelah menikah kau tak akan seperti bapakku yang hanya bisa membuat sedih anak dan istri"
Pria itu langsung memeluk tubuh kekasih nya. Ia tau, sikap kasar dan lepas tanggung jawab ayah nya dulu membekas dalam hatinya.