
Seorang wanita menatap sendu ke arah pria yang pandangan nya fokus menatap televisi yang menampilkan siaran langsung pertunangan seorang pebisnis muda 'Raihan Pratama' dengan seorang gadis yang baru-baru ini di ketahui sebagai putri bungsu Niken sang pemilik butik yang terkenal dan sering hadir sebagai tamu undangan di televisi.
Pandangan wanita itu sendu, ikut merasa sakit bukan karena kabar pertunangan itu. tapi karena pria yang ada di depan nya ternyata masih memiliki perasaan kepada sang mempelai wanita. terlihat ia beberapa kali mengusap air matanya pertanda ia merasa sedih.
wanita yang menggunakan gaun lengan pendek dengan panjang selutut itu menghela nafas, mengatur perasaan nya agar terlihat baik-baik saja. Setelah tenang ia dengan anggun menghampiri sang pria.
"mas" panggil nya lembut sembari menyentuh bahu sang pria.
wanita itu melihat sekilas sang pria menghapus air matanya. Ia tersenyum sendu kemudian duduk telah di sebelah sang pria yang tak lain adalagi Imam.
"kau kesini?" tanya imam dengan suara serak.
"ya,,, aku melihat berita itu dan aku teringat padamu" ucap sang wanita.
Imam menatap wanita di sebelah nya dengan pandangan yang sendu. bukan ia tak tau bila wanita ini memiliki perasaan kepadanya. Setelah bertahun-tahun menunggu ternyata ia tak bisa melupakan Zaifa, mantan istri nya. Tapi wanita ini tak beranjak dari hidup nya dan justru dengan sabar setia menanti nya.
"maafkan aku Nai"
"maaf untuk apa mas?"
"aku... Bahkan sampai saat ini aku masih menjadi pria pengecut yang tidak tau bagaimana caranya membalas perasaan mu"
Wanita bernama Naila terenyuh, hatinya sakit mendengar itu. Setelah bertahun-tahun ia mendampingi Imam ternyata rasa Imam masih lah sama, hanya untuk Zaifa.
"Naila,,, kau boleh pergi saja.. karena aku hanya kesakitan untuk mu. Jangan menunggu ku, karena aku belum pasti"
"mas....."
__ADS_1
Belum sempat Naila menjawab ponsel dalam tas nya berdering. Ia segera mengambil ponsel nya dan melihat nama yang tertera di layar. Ia menghela nafas.
"aku akan mengangkat telepon dulu mas"
Imam mengangguk, memandang punggung Naila yang menjauh. Entah mengapa perasaan nya agak tersentil. Baru ini Naila menghindar ketika menerima telepon saat sedang bersama dirinya. Namun Imam mencoba menenangkan hatinya dan tersenyum tipis ketika Naila telah kembali.
"mas aku harus pergi" pamit Naila mengambil tas selempang branded milik nya.
"aku akan kembali kesini besok"
Naila langsung pergi setelah menyunggingkan senyum manis kepada Imam.
***
Beberapa hari berlalu, kabar pertunangan Raihan dan Zaifa merebak seantero kota dan sampai ke desa. Bukan hanya karena siaran langsung namun juga karena itu menjadi trending topik selama beberapa hari terakhir ini.
Ia menekan tombol pause dan langsung mengembalikan layar ke menu home. Ia tak kuat melihat wajah bahagia yang terpancar di wajah Zaifa maupun Raihan.
Sementara di balik pintu yang tidak tertutup sepenuhnya, Santi mendengar apa yang di katakan oleh Rafli.
'ternyata begitu dalam kau mencintai Bu Rani' batin Santi kemudian berlalu.
Setelah kejadian malam itu Santi cenderung diam terhadap Rafli meskipun mereka berhadapan. Terlebih sekarang sekolah hanya di kelola oleh kedua nya semenjak Rani memutuskan menetap di kota. Itu membuat pertemuan antara mereka semakin sering. Meskipun mereka menjadi tampak canggung, namun kedua nya tetap mencoba profesional.
Rafli beranjak dari duduk nya, jam sekolah sudah lewat satu jam lalu. Namun ia belum beranjak sebab masih menyelesaikan proposal pembangunan TPA atau sekolah penitipan anak. Ia sudah menemukan calon donatur dan ia akan segera menyelesaikan proposal itu agar bisa membawa nya sekalian ketika ia hadir di pernikahan Rani tiga hari kedepan.
Ia keluar dan menuju ke ruang kelas, namun ia tak mendapati Santi. padahal mereka telah berjanji akan pulang bersama.
__ADS_1
"kemana Santi?" gumam Rafli.
Tadi pagi Rafli menjemput Santi menggunakan motor matic milik nya. Meskipun awalnya Santi menolak tapi Rafli memaksa dan akhirnya Santi pun menerima. Memang sejak itu Rafli menjadi lebih mendekati Santi, namun Santi merasa canggung dan sungkan sebab bagaimana pun ia telah di ikat oleh orang lain.
Rafli segera mengunci kelas dan memacu motor nya. Ia menuju ke rumah bik Surti dan kebetulan bik surti sedang duduk di teras rumah bersama ibu-ibu yang bekerja di kebun Rani.
"permisi bik Surti. Santi udah pulang?" tanya Rafli.
"mbak Santi sudah pulang mas, tapi tadi izin pulang ke rumah nya katanya rindu sama orang tuanya" jawab bik Surti.
"oh, kalo gitu makasih bik"
Bik Surti mengangguk kan kepalanya dan melihat Rafli yang memacu motornya dengan kecepatan sedang. Sudah pasti pemuda itu akan berkunjung ke rumah Santi.
"aduh, si bewok Ki piye to (bagaimana sih) harusnya Santi iku rabi (itu menikah) sama si Rafli aja. Udah muda, pendidikan nya tinggi, ganteng lagi. Mosok malah Santi arep di rabek ne (mau di nikah kan) sama bapak-bapak. Ya memang kaya tapi udah tua loh, istri nya aja udah dua" celetuk ibu-ibu yang melihat Rafli berlalu.
"Iyo yu, kebangetan kok memang si bewok Ki. Anak cantik-cantik masak mau di nikah kan sama Mbah tuek (orang tua)" sambut yang lain geram.
Bewok adalah julukan untuk ayah Santi, berita pertunangan Santi dengan pak Bala si rentenir bengis di desa itu memang sudah terkenal. Namun, usut punya usut karena utang yang banyak dan pak bewok tak mampu membayar nya membuat Santi harus di korban kan.
Rafli sampai di halaman rumah Santi. Rumah dengan bangunan yang masih separo bata dan separo lagi papan itu terlihat ramai dengan beberapa motor dan satu mobil. Rafli kenal dengan mobil itu. Sebab selain Rani, hanya pak Bala yang memiliki mobil di desa itu. Bahkan pak kades pun tak memiliki mobil, jika ada keperluan ia akan meminjam mobil Rani dengan salah bapak pekerja sebagai sopir nya.
Rafli terpaku mendengar suara teriakan yang ia kenal milik Santi. Tak lama ia mendengar suara isakan kecil. Maklum saja, dengan rumah yang masih terbuat dari papan suara kecil saja mampu terdengar dari luar.
"dengar Santi kau sudah menerima kalung pemberian dariku. Dan itu arti nya mau tak mau kau harus menjadi pengantin ku!" seru seorang pria yang Rafli kenal adalah suara pak Bala.
"bukan saya yang menerima kalung ini pak, saya mendapat kalung ini dari ayah saya. Dan beliau berkata bahwa ini adalah hadiah untuk saya" elak Santi.
__ADS_1
"bewok, urus putri mu. Pokoknya Minggu depan aku ingin anak mu ini sudah siap jadi istri ku!" seru pak Bala kemudian keluar dari rumah sederhana itu di ikuti oleh antek-antek nya.