
Pak Bala keluar rumah dengan angkuh, ia menatap sinis ketika mendapati Rafli tengah terdiam di halaman rumah Santi. Pak Bala mengabaikan Rafli dan masuk ke mobil kemudian langsung pergi dari rumah sederhana itu di ikuti oleh para ajudan nya.
Rafli masih terdiam, tak beranjak sedikit pun meski cuaca panas sudah hampir terik dan tepat di atas kepala.
Plak....
Rafli menatap nanar ke arah rumah sederhana itu ketika terdengar suara tamparan kemudian suara isakan kecil. Ia tahu, suara itu milik sari. Rupanya berita yang sampai di telinga nya akhir-akhir benar. Santi di gunakan sebagai gadis penebus hutang oleh orang tua nya.
"cukup pak, ini anak mu" seru seorang wanita yang di kenal Rafli sebagai ibu dari Santi.
"kalo seandainya bapak bilang sama Santi kalung ini pemberian dari juragan Bala, Santi ngga mau Nerima pak" lirih Santi namun masih terdengar di telinga Rafli.
perasaan Rafli bagai di sayat-sayat, tak menyadari bahwa gadis yang selama ini selalu tersenyum dan berwajah ceria ternyata menyimpan duka.
"kenapa harus Santi yang menanggung pak! kenapa? uang itu bapak dan ibu yang memakai, tapi disaat bapak dan ibu tak bisa membayar nya justru Santi yang di gunakan untuk barter. Itu sama saja bapak dan ibu menjual Santi!!" seru Santi lantang.
Plak
Plak
"berani kurang ajar kamu sama bapak mu hah! Aku ini udah ngidupin kamu dari kamu bayi sampe sebesar ini, anggap saja pernikahan mu dengan juragan Bala itu sebagai balas Budi mu terhadap orang tua!" seru pak bewok bengis.
Santi terisak-isak, tak mengerti mengapa takdir begitu kejam terhadap nya. mengapa ia di haruskan menikah dengan seorang pria yang bahkan cocok menjadi paman nya. Terlebih pria itu sudah memiliki dua istri. akan jadi apa dia jika tinggal serumah dengan dua istri juragan Bala.
"kamu ngga usah kembali ke rumah nya si guru sok baik itu. Disana kamu itu cuma bakal di cuci otak mu sama pembantu nya itu. Kamu harus nurut sama orang tua. Jangan jadi anak durhaka!" seru pak bewok kemudian keluar dari rumah.
Pak bewok memandang tajam ke arah pemuda yang ia tak tau sejak kapan berdiri di depan rumah nya.
***
__ADS_1
"kamu kenapa?" tanya Raihan kepada Zaifa.
"ada masalah?"
Zaifa menggeleng, entah mengapa pikiran nya tertuju kepada Santi padahal saat ini ia dan Raihan tengah berada di butik sang mama untuk fitting baju pengantin nya. Tiba-tiba perasaan nya menjadi kurang nyaman dan merasakan sesuatu yang entah apa itu.
"sayang...." panggil Raihan lembut.
"aku ngerasa kurang nyaman mas"
Raihan mengernyit, baju pengantin bahkan belum di coba dan Zaifa sudah merasa tak nyaman.
"bukan baju mas, tapi perasaan ku... Entah mengapa tiba-tiba aku jadi inget Santi" ungkap Zaifa menyadari kebingungan Raihan.
"Santi?" tanya Raihan tak mengerti.
"gadis yang waktu itu ikut bersama ku"
Zaifa menggeleng kan kepalanya, saat ia hendak mengatakan dan menjelaskan tapi sebuah panggilan membuat mereka menoleh.
"sayang, coba ini mama sendiri yang sudah merancang nya untuk mu" ungkap Niken mendekati Zaifa.
Niken datang bersama dua pegawai yang membawa gaun pengantin berwarna krim kalem. gaun pengantin yang menggunakan kain brokat pilihan dengan manik-manik di kerah leher dan di pergelangan tangan. di pinggang pun melingkar manik-manik indah yang di selingi dengan mutiara berwarna putih.
Belum di coba Zaifa sudah merasa bahwa gaun itu pasti akan sangat nyaman di kenakan nya sebab gaun itu adalah gaun impian nya ketika menikah. Dan entah darimana sang mama mengetahui nya.
"cobalah sayang, mereka akan membantu mu" ucap Niken.
Zaifa mengangguk kemudian mengikuti dua pegawai itu masuk ke ruang ganti.
__ADS_1
"ayo Rai, mama tunjukkan pakaian mu" ucap Niken.
Raihan mengangguk kemudian mengikuti langkah kaki Niken.
Mereka sampai di ruangan yang banyak terdapat jas dan pakaian khusus pria. Salah satu pegawai yang melihat Niken langsung mengambil jas yang sudah di siapkan dan membawa nya.
"kau pakai lah ini dan nanti temui mama di ruangan tadi"
Raihan menerima jas itu dan masuk ke ruang ganti. Jas formal berwarna senada dengan gaun Zaifa. Dengan kemeja putih sebagai dalaman sangat cocok di tubuhnya.
Tak lama ia pun kembali ke tempat yang tadi, dan ia langsung terpukau dengan penampilan Zaifa yang terlihat lebih dewasa. Ia tersenyum hangat ketika Zaifa melihat ke arah nya.
"kalian sangat cocok" ungkap Niken.
Setelah di rasa cocok keduanya melepas kembali pakaian itu dan menyerahkan kepada Niken. Mereka akan melanjutkan aktivitas mereka menyiapkan pernikahan mereka agar sesuai keinginan. Sebab yang Zaifa ingin kan adalah pesta pernikahan ini berkesan dalam hidup nya maupun Raihan.
Saling bergandengan tangan mereka menuju toko mas. mereka memilih cincin yang cocok untuk mereka masing-masing. Dan setelah menemukan mereka segera membungkus cincin itu dan berlalu.
Mereka kini menuju pihak katering yang telah di tunjuk oleh Niken. Mereka akan memilih menu yang akan di hidangkan. Awalnya Niken yang akan menghandle nya namun kedua calon mempelai menolak dan ingin memilih sendiri.
Akhirnya Zaifa dan Raihan memilih semua menu yang di sediakan. karena setelah di cicipi semua rasanya cocok di lidah mereka dan para tamu undangan pasti tak akan kecewa.
Berkeliling seharian membuat Zaifa lupa dengan firasat nya tadi pagi. Firasat yang benar-benar terjadi. Bahkan Zaifa melupakan handphone nya yang memang di buat silent mode. Terlihat dalam handphone itu banyak sekali panggilan dan pesan-pesan yang di abaikan oleh Zaifa. Bukan di abaikan, namun karena kesibukan nya membuat ia lupa dengan benda pipih yang lagi-lagi menyala karena sebuah panggilan.
Namun, handphone itu berada di dalam tas dan berasa di bangku belakang mobil. sehingga Tek terlihat, dan lagipula sang empu nya tengah tertidur sebab lelah nya seharian berkeliling menyiapkan segala sesuatu untuk pernikahan nya.
***
Rafli mondar-mandir di teras rumah nya. Tadi siang ia sempat menemui Santi ketika pak bewok telah pergi. Rafli tak habis pikir dengan pak bewok kenapa sampai mengorbankan anak gadis satu-satunya hanya karena utang yang tak bisa ia bayar.
__ADS_1
Bukan rahasia lagi bahwa pak bewok adalah sang pemain dan peminum di desa itu. Dan Rafli yakin utang sebesar seratus juta yang di pinjam dari pak Bala itu di gunakan hanya untuk kesenangan nya sendiri.
Dan lagi sudah menjadi rahasia umum, bahwa ibu dari Sinta juga adalah orang yang suka panas terhadap apa yang di miliki oleh tetangga. Rela berhutang agar ia bisa membeli apa yang di inginkan. Dan akhirnya anak lah yang menjadi korban keegoisan mereka.