
Acara ijab qobul dan penyerahan pengantin telah usai. Kini pada tamu undangan di persilahkan menikmati hidangan. Sementara pengantin sedang berdiri di atas pelaminan untuk seso pemotretan bersama keluarga dan para teman atau dengan para tamu undangan yang hendak foto bersama.
Kamera blitz menyala dari arah mana saja. bukan hanya kepada sang pengantin tapi juga pada para tamu undangan yang hadir. Meskipun acara ini sedikit tertutup namun ada wartawan yang di izinkan untuk meliput oleh Niken.
Pada hari pernikahan yang menjadi hari membahagiakan bagi Raihan, beruntung Zaifa seperti sudah lupa permasalahan akan Santi. Raihan sebenarnya mengirim anak buah nya kesana untuk mencari informasi. Sebab nomor Rafli tak bisa di hubungi dan bik Surti juga tak bisa berkunjung ke rumah Santi sebab disana tak ada ojek, jika harus berjalan kaki jauh.
Acara singkat itu telah usai. pengantin dan pada keluarga masuk ke dalam rumah mama Niken disaat para tamu undangan sudah seluruhnya pulang. Sementara Raihan dan Zaifa memasuki kamar Zaifa untuk beristirahat sebab nanti malam akan ada pesta pernikahan yang di adakan oleh tuan Bram.
Zaifa tak kuasa menolak permintaan sang ayah mertua sebab bagaimana pun Raihan adalah putra semata wayang dan sudah tentu tuan Bram menginginkan pernikahan putra nya di gelar dengan mewah.
"mas tolong bantu buka resleting baju ini" ucap Zaifa sembari tangan nya menggapai resleting di belakang baju nya namun tangan nya tak sampai.
Raihan melangkah lalu menggapai resleting itu dan membuka nya. dan terpampang lah punggung mulus milik Zaifa.
"sudah cukup mas" pekik Zaifa.
Raihan terperanjat dan terkejut ketika tau ternyata tangan nya terus membuka resleting hingga hampir ke tulang ekor. Sehingga ia melihat dengan jelas gaun itu hampir melorot dari bahu Zaifa.
Zaifa memegangi gaun di depan dada nya agar tak jatuh. Ia kemudian berlari masuk ke walk in closet untuk berganti baju. Sementara Raihan memegang dada nya yang bergetar.
__ADS_1
Raihan melepas jas nya dan menyetel AC menjadi lebih dingin karena entah mengapa suhu tubuhnya menjadi lebih panas. Dan ketika suhu tubuhnya hampir mendingin, ia terbelalak menatap Zaifa yang keluar hanya memakai tank top dan celana pendek sepaha padahal selama ini Zaifa selalu memakai pakaian longgar tertutup dan berjilbab.
Jakun Raihan naik turun, ia menelan saliva nya kasar. Ia mengumpat dalam hati bagaimana bisa istrinya memiliki tubuh putih mulus seperti itu.
"kenapa mas? Ada yang aneh?" tanya Zaifa memandang dirinya sendiri dan tak ada yang aneh sedikit pun.
Raihan menggelengkan kepalanya kemudian merebahkan tubuhnya di ranjang.
"kau tak merasa dingin mas?" tanya Zaifa.
"tidak. Tidur lah sayang, nanti malam akan ada acara lagi"
Zaifa manggut-manggut kemudian merebahkan tubuhnya. Tak lama ia pun terlelap, dan disaat ia terlelap ponsel nya menyala dan terpampang jelas nama Rafli. namun, tak ada yang mengangkat panggilan itu sebab baik Zaifa atau pun Raihan telah berkelana ke alam mimpi.
sementara di desa, Rafli menatap cemas ke arah tenda biru yang telah terpasang di depan rumah Santi. Beberapa hari yang lalu, tepat nya setelah ia menghubungi Zaifa, ponsel nya jatuh ke dalam air dan rusak. Baru hari ini ia mengambil nya dari toko elektronik.
Ia mendengar kabar bahwa pernikahan Santi di percepat menjadi hari ini, ini di luar rencana dan ia bingung harus melakukan apa sekarang. Sementara di depan sana, rombongan iring-iringan pak Bala sudah sampai di depan rumah Santi. Padahal yang Rafli dengar ijab qobul akan di laksanakan malam nanti. entah mengapa juragan kaya itu sudah sampai padahal hari masih siang.
Sekali lagi Rafli menekan nomor Zaifa, dan lagi-lagi panggilan itu hanya di abaikan. Padahal yang Rafli tak tau saat ini Zaifa sedang mandi akan bersiap-siap berangkat ke hotel tempat pesta di selenggarakan. Dan Handphone yang terus menyala itu berada di nakas dan bertumpuk dengan jilbab yang tadi di pakai oleh Zaifa.
__ADS_1
Rafli tak beranjak dari jalan dimana ia berdiri sejak pagi. Matanya terus awas menatap rumah Santi. rumah yang ramai dan sesekali terdengar gelak tawa. Namun, Rafli yakin di dalam sana ada gadis yang tengah menangis sendirian dan mencoba memberontak.
Senja sudah hampir menampakkan warna nya. Rafli bergetar menatap tenda yang menjadi lebih ramai dari siang tadi. Sebab para tetangga banyak yang ingin menyaksikan ijab qobul Santi dan juragan kaya raya di desa itu. Dan tentu saja untuk mencari hot gosip yang akan di bicarakan besok pagi tentang alasan mengapa pak bewok dan istri bersedia menikahkan putri nya dengan pria yang sudah memiliki dua istri.
Mata Rafli memicing saat ia melihat dua orang mencurigakan ikut masuk ke dalam tenda biru yang di hiasi janur kuning itu. Dua pria dengan pakaian batik dan celana hitam. Sekilas tak ada yang mencurigakan namun, dua pria itu selalu melirik kesana kemari seperti sedang menghindari atau justru mengawasi sesuatu.
Rafli ingin ikut masuk atau menerobos, namun ternyata ada banyak anak buah pak Bala yang menjaga titik-titik gelap yang mungkin di lewati oleh penyusup. padahal rencana nya Rafli akan membawa Santi kabur diam-diam. Jika begini ia hanya bisa gigit jari sebab ia tak menemukan sedikit celah.
"bagaimana cara nya aku masuk?" gumam Rafli.
Masyarakat semakin banyak berdatangan, dua pria tadi sudah ikut masuk tanpa di curigai oleh siapa pun.
Di dalam kamar, Santi menatap bayangan cantik di depan nya. Ini adalah wajah nya, cantik dengan polesan make up yang selama ini tak pernah ia pakai karena memang ia tak punya. Santi meraba pipi nya, bekas tamparan sang ayah kemarin tak berbekas. akhir-akhir ini pipi nya sering menjadi samsak untuk sang ayah karena Santi terus menolak untuk di nikah kan.
Air mata Santi jatuh lagi, hanya tinggal menunggu beberapa jam lagi maka ia akan resmi menjadi istri pak Bala, juragan kaya di desa nya. sekaligus resmi menjadi istri ketiga sang rentenir kejam di desa itu.
"Bu Rani....." panggil Santi lirih.
Di kota sana, seperti mendengar bisikan Santi. Zaifa memegang dadanya yang tiba-tiba sesak.
__ADS_1
Santi mengerjapkan matanya saat ia melihat sekelebat bayangan hitam dari cermin. Ia menoleh ke belakang dan kosong. Tak ada siapa pun. Tiba-tiba ia merasa takut, siapa yang bisa masuk ke dalam kamar nya sementara pintu di kunci dari luar oleh sang ayah.
Santi berjalan menuju jendela, terkunci dari dalam dan tidak ada kerusakan. Ia bernafas lega namun ketika ia berbalik ia terkejut dengan kemunculan tiba-tiba seorang pria. belum sempat ia berteriak tengkuk nya di pukul hingga ia pingsan.