
Jangan lupa cerita baru othor di lirik juga ya gaes, berikan dukungan kalian supaya othor lebih semangat membuat karya.
****
"pak bos" panggil Shila pelan.
Niel menoleh dan mengambil ponsel nya yang jatuh ke meja. Meeting tiba-tiba terhenti, mereka bisa menebak pasti telah terjadi sesuatu.
ponsel nya kembali menyala dan sekarang nama mama nya yang tampil di layar. Ia langsung menggeser tombol hijau dan suara mama nya membuat tubuh nya menegang.
"Niel, tolong cepat ke rumah sakit nak"
Deru nafas Niel menjadi tak beraturan, jantung nya berdetak lebih kencang. Suara serak sang mama terdengar jelas. Sudah pasti wanita yang melahirkan dirinya itu sedang menangis saat ini.
Niel langsung beranjak, namun sebelum itu ia berpesan agar Shila mencatat hasil rapat.
"Shila, kamu tangani meeting ini. saya akan ke rumah sakit"
Niel langsung berlari cepat menuju keluar kantor dan langsung mengemudikan mobil nya dengan cepat. Beruntung hari menjelang siang sehingga jalanan tak terlalu macet.
Sementara di rumah sakit, mama Niken duduk di bangku tunggu pasien. Raihan sedang menemani Zaifa di ruang operasi. Sudah satu jam berlalu dan belum ada tanda-tanda operasi selesai.
mama Niken tak berhenti memanjat kan doa berharap sang putri dan cucu nya akan selamat. air mata terus menggenang di pipi mulus nya. Bayang-bayang buruk menghantui pikiran nya meskipun sudah berusaha di tepis. Mama Niken sebentar-sebentar melihat ke ruang operasi yang lampu nya masih menyala yang menandakan operasi masih berjalan.
Sementara di ruang operasi, Raihan menangis menyaksikan sang istri yang dalam kondisi antara sadar dan tidak. Ia terus mengeluarkan kata-kata positif untuk mensugesti Zaifa agar tetap sadar. tangan nya menggenggam erat jemari Zaifa yang terasa lemah dengan selang infus menancap di punggung tangan nya.
"sayang.... Buka mata mu. Tolong bertahan. kita sudah berjanji untuk merawat anak-anak kita sampai mereka dewasa."
"kau adalah wanita yang kuat, aku sangat mencintai mu. Kau wanita hebat sayang, sebentar lagi kau pasti akan bahagia sebab menjadi seorang ibu hal yang selalu kau impikan"
mata Zaifa terbuka, begitu sayu dan pucat wajah yang tengah berjuang melahirkan sang anak meskipun melalui operasi sesar. Bibir pucat nya tersenyum. Jemari nya menggenggam erat tangan Raihan. Ia ingin mengatakan sesuatu tapi bibir nya tak mampu mengeluarkan suara. Tubuh nya terasa lemas, saat ini Zaifa hanya merasa sangat lelah dan ingin beristirahat. Ia ingin tidur barang sebentar.
"tolong jangan biar kan mbak dek Zaifa tidur Rai" seru Wulan yang menangani operasi itu.
"sayang.. sayang buka mata mu"
__ADS_1
Zaifa membuka kembali matanya, ia sungguh tak sanggup lagi menahan rasa ngantuk yang menyerang matanya.
"aku ngantuk mas"
Selesai berkata seperti itu, Zaifa memejamkan matanya. Dan bersamaan itu pula terdengar suara tangis bayi yang memenuhi ruangan itu.
"sayang... Buka matamu!!!" seru Raihan panik.
"suster tangani bayi nya. Saya akan mengurus ibu nya" seru dokter Wulan.
Raihan menangis, pikiran buruk menyerang. Ia langsung lemas menatap tubuh lemah Zaifa.
"gawat, pasien pendarahan" seru dokter Wulan.
Raihan panik, ia langsung ke luar dari ruangan untuk memanggil dokter lagi tapi sudah di dahului oleh dokter Wulan. Dokter Wulan keluar dari ruangan untuk mengambil stok darah untuk di transfusi kan pada Zaifa.
"dokter Wulan bagaimana.....?"
dokter Wulan berlalu dengan wajah panik dan mengabaikan mama Niken. Hal itu membuat mama Niken bertambah panik padahal baru saja ia mendengar tangisan bayi. tapi kenapa menantu nya belum keluar juga dari ruang operasi.
"cepat cari seseorang yang memiliki golongan darah AB min, pasien membutuhkan segera!!!" seru dokter laki-laki.
Niel yang sudah sampai di parkiran rumah sakit tak menggubris telepon nya sebab ponsel itu berada di saku jas nya dan lagipula ponsel nya masih dalam silent mode.
setelah bertanya pada resepsionis rumah sakit Niel langsung berlari menuju ruangan di mana sang adik di operasi.
"mama!!" seru Niel.
Mama Niken memasukkan kembali hp nya dan langsung menghampiri Niel. Memeluk erat putra nya. sungguh ia tak sanggup jika harus kembali kehilangan sang putri padahal baru setahun mereka hidup bersama-sama.
"adik mu Niel, adik mu" ucap mama Niken dengan derai air mata.
"dimana Raihan?" tanya Niel yang tak melihat Raihan.
"Raihan ada di dalam menemani adik mu"
__ADS_1
"kalau bagaimana ma?"
"keponakan mu berhasil di lahir kan tapi adik mu mengalami pendarahan. Sekarang dokter sedang mencari seseorang yang bisa mendonorkan darah untuk adik mu. Adik mu butuh transfusi darah Niel"
"Niel, tolong adik mu nak. Hanya darah mu yang cocok dengan nya"
"Tante, pihak rumah sakit kehabisan stok darah dengan golongan AB min. Tante tolong sebar pengumuman agar kita lekas mendapatkan pendonor. Sebab darah itu di butuh kan segera" ucap dokter Wulan yang menghampiri mama Niken.
"periksa darah ku dokter" ucap Niel.
Wulan menatap Niel, ia pun mengangguk cepat dan membawa Niel ke ruang pemeriksaan darah. dan setelah beberapa saat ternyata darah Niel cocok dengan darah Zaifa sehingga Niel segera di bawa ke ruang operasi Zaifa untuk melakukan donor darah secara langsung.
Mama Niken sedikit bernafas lega, semoga saja. semoga putri nya baik-baik saja.
di ruang operasi, pendarahan Zaifa telah berhasil di hentikan. Hanya saja tubuh Zaifa telah pucat karena kehabisan banyak darah. Denyut jantung nya pun melemah. Raihan hanya bisa menangis dan memanjatkan doa agar istri nya baik-baik saja. Meskipun kenyataannya Zaifa sedang tak baik-baik saja.
Transfusi darah mulai di lakukan, beruntung tak ada penolakan dari tubuh Zaifa. tapi dokter hanya berani mengambil satu kantong darah saja dari tubuh Niel. Sedangkan Zaifa membutuhkan setidaknya tiga kantong darah.
Dokter Wulan keluar dari ruangan dan menghampiri mama Niken.
"Tante, kami pihak rumah sakit hanya bisa mengambil satu kantong darah dari tubuh Niel karena kami tak ingin terjadi sesuatu pada pendonor. saya mohon Tante membuat pengumuman untuk mencari pendonor lain. Zaifa masih membutuhkan dua kantong darah lagi Tan" ucap dokter Wulan.
Mama Niken pun langsung mengambil ponsel nya dan menghubungi Santi guna meminta tolong agar di carikan seseorang yang memiliki golongan darah AB-.
Santi yang hendak beristirahat terkejut ketika ponsel nya berdering. Ia langsung menjawab ketika nama Tante Niken muncul.
"Santi tolong Tante nak, Tante membutuhkan bantuan mu"
"ada apa Tante?" tanya Santi panik.
"Zaifa mengalami pendarahan hebat dan membutuhkan darah tiga kantong. Rumah sakit kehabisan stok darah dan kami membutuhkan pendonor"
"apa golongan darah mbak Zaifa Tante?"
"AB- nak"
__ADS_1
"baik Tante saya akan segera kesana"
Santi ikut panik, tapi ia kemudian teringat bahwa ia dulu pernah mengecek golongan darah nya. semoga masih tetap sama. Santi mengambil tas dan langsung menghampiri Rafli yang berada di parkiran. Santi menjelaskan sedikit apa yang terjadi dan mereka langsung menuju rumah sakit di mana Zaifa di rawat.