
Satu hari berlalu, kondisi Zaifa masih belum sadar meskipun tadi malam ia sudah berhasil melewati masa kritis. Beruntung darah Santi dan Dani tidak di oleh tubuh Zaifa.
Saat ini Niel, Raihan dan mama Niken sedang duduk di sofa yang ada di ruangan Zaifa. Sebagai istri dari pengusaha muda yang sukses tentu saja ruangan Zaifa bukan ruang sembarangan. terlebih Dani sang pemilik rumah sakit merupakan sahabat dari Raihan.
"gimana kondisi kamu Rai?" tanya mama Niken.
"sudah lebih baik ma"
Mama Niken tersenyum mendengar jawaban sang menantu. mereka sedang menikmati nasi goreng yang di beli di kantin rumah sakit oleh Niel. Mereka bisa saja menyuruh bodyguard untuk menunggu Zaifa tapi mereka ingin saat Zaifa sadar mereka lah yang pertama kali di lihat oleh Zaifa.
Setelah selesai sarapan Raihan duduk di kursi di dekat ranjang Zaifa. Di tatap nya wajah wanita yang kemarin baru saja melahirkan malaikat kecil untuk nya. Raihan menggenggam tangan Zaifa kemudian mengecup nya. sungguh ucapan terima kasih saja rasanya tak akan cukup untuk mengungkapkan kebahagiaan Raihan.
Mama Niken menghampirimu box bayi yang berada tak jauh dari Zaifa. Bayi perempuan itu sedang terlelap. Bersyukur bayi itu tak rewel sama sekali. Dan meskipun kurang 2 Minggu usia nya di dalam kandungan tapi bayi perempuan itu sudah di nyatakan sehat.
Mama Niken menjawil pipi tembam sang cucu. Setidaknya ia merasa bahagia meskipun juga sedih ketika melihat putri nya belum juga siuman.
Niel terlelap di sofa, pria itu merasa sangat ngantuk sebab tadi malam beberapa kali keponakan nya menangis terbangun dan minta di ganti popok juga merasa haus. Raihan dan mama Niken tak mendengar tangisan itu akhirnya membuat Niel yang mengganti popok dan membuat susu.
Dan sekarang setelah sarapan rasa ngantuk menyerang dirinya.
**
Di perusahaan Niel, Rama dan Shila sedang melakukan meeting yang waktu itu sempat tertunda karena kecelakaan yang menimpa Rama. Di ruangan pribadi Niel mereka berempat sedang melakukan negoisasi untuk meraih keuntungan bersama dan akhirnya membuat mereka melakukan kerja sama yang sama-sama menguntungkan.
"saya dengar adik dari tuan Niel sedang di rumah sakit?" tanya pak Hadi kepada Rama.
"betul tuan, adik dari Niel kemarin operator karena melahirkan. Dan sempat kritis namun tadi malam dokter mengatakan bahwa dia sudah berhasil melewati masa kritis hanya saja tadi pagi suaminya berkata bahwa ia belum sadar"
"apakah boleh jika kami ingin menjenguk kesana?"
"tentu saja boleh pak, mari saya antar biar urusan kantor di selesaikan oleh sekretaris Shila"
__ADS_1
pak Hadi dan sekretaris nya pun mengangguk. Mereka kemudian keluar ruangan dan menuju parkiran. Tak lama mereka pun memacu kendaraan roda empat menuju rumah sakit. Namun, mereka berhenti sejenak di toko buah untuk membeli beberapa buah-buahan sebagai buah tangan.
***
"Rai..." seru Boby yang baru datang bersama Diva.
Raihan menoleh, di tatap nya dua orang yang baru masuk ke ruangan Zaifa. Diva meletakkan oleh-oleh yang di bawa nya berupa parcel buah dan sebuah kado berukuran besar. Diva pun menghampiri mama Niken sementara Boby menghampiri Raihan.
"sabar. Zaifa adalah wanita yang kuat. Dia pasti akan segera sadar" Ical Boby menepuk punggung Raihan.
Bagaimana ia pernah merasakan menemani perjuangan seorang istri yang melahirkan. Melihat Diva tertidur waktu itu membuat Boby panik. Apalagi Raihan yang melihat Zaifa mengalam pendarahan dan belum sadar hingga saat ini. sudah pasti sedih yang di rasakan oleh pria itu.
Raihan mengangguk mendengar ucapan Boby, di tatap nya wajah pucat yang masih belum mau membuka mata itu. Seandainya bisa Raihan akan memilih dirinya yang ada di posisi itu daripada ia harus melihat wanita yang di cintai nya kesakitan.
"dia sangat cantik Tante" ucak Diva mengelus gemas pipi tembam anak dari sahabat nya itu.
"ya dia sangat cantik"
"eh, kau Bob kapan kemari?" tanya Niel.
"baru saja. Kau terlihat lelah" ejek Boby memandang Niel.
Niel mendengus kemudian menoleh ke arah sang keponakan yang menangis. Niel berdiri dan menghampiri bayi itu. Tadi malam meskipun popok nya basah bayi itu tak menangis seperti ini.
"sayang.!!!" seru Raihan dengan panik.
Tubuh Zaifa mengalami kejang dan Raihan panik melihat nya. Boby langsung berlari memanggil dokter padahal ada tombol penghubung di atas ranjang Zaifa. Tapi karena panik Boby tak melihat itu.
"tidak. Sayang!!!" seru Raihan menggenggam tangan Zaifa yang terasa kaku.
Sementara Niel dan Diva sibuk menenangkan bayi perempuan yang terus menangis itu. Mama Niken berlari masuk ke ruangan, ia panik ketika mendengar Boby berteriak memanggil dokter.
__ADS_1
"sayang...." panggil mama Niken di telinga Zaifa.
Beberapa saat kemudian, tubuh Zaifa kembali normal dan bertepatan dengan kedatangan dokter Wulan. Raihan menyingkir agar dokter Wulan leluasa memeriksa Zaifa. Setelah di periksa dokter Wulan tersenyum samar.
"bagaimana dok?" tanya Raihan khawatir.
"tak apa Rai, ini kondisi wajar ketika pasien baru saja di nyatakan lolos dari masa kritis. Sebentar lagi pasti Zaifa akan sadar" ucap dokter Wulan.
"terima kasih nak" ucap mama Niken.
"sama-sama Tante, kalau begitu saya permisi" ucap dokter Wulan.
Sebelum keluar ia sempat melirik ke arah Niel yang tak memandang ke arah nya mungkin karena sibuk menenangkan bayi yang menangis. tapi ada sesak di dada dokter Wulan ketika melihat Niel sedang menenangkan bayi itu bersama seorang perempuan.
"sayang" panggil Boby yang menyadari arah pandang dokter Wulan.
Diva menoleh dan menjauh dari Niel ketika paham dengan kode yang di berikan oleh Boby. Niel ikut menoleh namun dokter Wulan sudah pergi dari sana. Bayi perempuan itu sudah tenang namun tak lagi tertidur.
"apakah kau haus?" tanya Niel.
Bayi perempuan itu menggeliat kan badan sebagai jawaban.
"huh, kau sama seperti mama mu yang doyan makan" ucap Niel.
Sembari menggendong bayi itu Niel menghampiri sang mama dan mengambil dot susu dari tangan sang mama.
"oh, maafin Oma yang sayang, Oma lupa karena panik" ucap mama Niken mencium pipi sang cucu.
Bayi perempuan itu begitu rakus menyedot susu dalam dot itu hingga tak lama susu itu telah habis. Mama Niken memandang sang cucu dengan iba, seharusnya bayi merah itu meminum asi sang mama. tapi apa daya karena kondisi membuat bayi itu harus minum susu formula.
Jari tangan Zaifa bergerak dan membuat Raihan menoleh karena sejak tadi genggaman tangan itu tak lepas.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti Zaifa mulai membuka matanya dengan pelan. Semua menunggu dengan perasaan bahagia dan haru.