
"Fatma...." gumam Dani.
Ia menatap ke arah pria yang sempat memanggil Fatma dengan sebutan 'sayang'. Apakah ini alasan Fatma menolak dirinya.
"da-dani" ucap Fatma terbata.
Dani mengembalikan tas Fatma dan langsung berlalu pergi dari mall itu, rencana untuk melupakan segala masalah dengan bermain Timezone pupus sudah karena saat memasuki mall ia justru bertemu sumber masalah nya.
"siapa itu fat?" tanya pria itu.
Fatma menatap ke arah pria itu dengan perasaan sebal, Dani pasti sudah salah paham terhadap nya.
"kenapa lu tadi panggil gue sayang? hah?" ucap Fatma galak.
"tadi pacar lu?" tanya pria itu.
"tau ah, awas aja lu"
Fatma berlalu pergi berniat mengejar Dani, namun saat ia sampai di parkiran Dani ternyata sudah pergi dan tak mungkin bisa di kejar.
"maafin gue Dan" gumam Fatma.
Gadis dengan gaya tomboy itu pun memasuki mobil nya dan berlalu tak memedulikan pria yang berteriak memanggil nama nya sebab di tinggal.
"ah kampret emang itu anak" ucap pria itu sebal.
***
mata Dani memerah, ia kira bahwa penolakan Fatma hanya lah bentuk ujian untuk dirinya. Sebab selama ini Dani adalah seorang player. Namun ternyata Fatma sudah memiliki kekasih, mungkin saja sebab itu Dani selalu di tolak nya mentah-mentah.
Dani menyusuri jalan, terus bergerak tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri, dan bahkan ia tak menyadari bahwa sejak tadi Fatma mengejar nya. Namun saat sedang fokus mengamati mobil Dani hp Fatma berdering. Fatma memakai headset kemudian mengangkat panggilan nya. Dan sesaat kemudian Fatma memutar mobil nya ke arah lain walaupun matanya sesekali melihat ke mobil Dani.
Kepala Dani begitu pening, dada nya terasa sesak dan ada amarah yang berkecamuk dalam hatinya. Rasa cemburu yang begitu besar membuat Dani seperti kehilangan kontrol. Akhirnya Dani memutuskan membelokkan mobil nya ke tempat yang selama ini selalu di hindari nya.
***
"ke bar?" tanya Niel.
__ADS_1
"iya tuan" jawab seorang suruhan Niel.
"kau yakin? Bar adalah tempat yang paling di hindari oleh Dani" ucap Raihan.
"tapi, saya tidak berbohong tuan. Tuan muda Dani benar-benar datang ke bar"
Niel dan Raihan saling pandang kemudian sama-sama menghela nafas kasar. Agak nya sang Playboy mereka tengah mengalami patah hati yang sangat sehingga memilih minuman sebagai pelampiasan nya.
"hubungi Rama, kita harus susul pria itu" ucap Raihan.
Niel pun mengangguk dan berlalu ke kamar sebab hp nya ada di nakas kamar nya.
"dan kalian awasi Dani, jangan sampai ia di ganggu atau kebanyakan minum yang akan membuat kondisi badannya tak stabil" perintah Raihan.
"baik tuan. Saya permisi"
Raihan mengangguk kan kepalanya kemudian naik ke atas dan masuk ke kamar sang istri. Ia melihat Zaifa sedang membolak-balik kan majalah kesukaan nya.
"kau bosan sayang?" tanya Raihan.
"baiklah, kau bisa berbelanja atau pun bertemu dengan Diva jika bosan. Aku dan Niel akan keluar sebentar sebab ada hal yang harus di urus" pamit Raihan.
"baik lah"
Raihan pun mengecup kening Zaifa kemudian mengambil jaket kulit milik nya dan keluar dari kamar. Selepas kepergian Raihan, Zaifa mengganti bajunya dan hendak berbelanja ke mall bersama Diva.
***
"Santi kau berbakat sekali nak, lihat hasil gambar mu di sukai oleh klien Tante. Bagaimana jika kau bekerja dengan Tante, pekerjaan mu hanya menuangkan ide-ide mu dalam gambaran" ucap Niken kepada Santi.
Mama dari Zaifa itu menunjukkan chat seorang klien kepada Santi. Dimana chat itu menunjukan bahwa klien merasa puas dengan hasil gambar Santi dan meminta agar gambar itu lekas di jadikan segera.
"tapi saya cuma lulusan SMA Tante. Saya merasa kurang cocok"
"Tante paham, pikir kan lagi dengan baik"
Mereka pun kembali menggambar, lebih tepat nya mama Niken mengawasi Santi menggambar. Gadis itu begitu tenang dan santai, dan hal itu lah yang membuat gambar Santi selalu maksimal.
__ADS_1
"mari kita pulang dulu nak, sudah waktunya pulang. kita akan menyusul Zaifa dulu ke mall. Agak nya pengantin baru itu merasa bosan di dalam kamar makanya bisa nyasar di mall" ucap mama Niken terkekeh.
Santi hanya tersenyum kemudian membereskan peralatan nya dan mengikuti Niken menuju parkiran.
"kita ke mall pla*a dulu ya Raf, kita jemput tuan putri kita" ucap mama Niken.
Rafli pun tersenyum dan mengangguk, Rafli tentu paham tuan putri yang di maksud tak lain adalah Zaifa. Rafli menyempatkan melirik ke arah gadis yang terlihat semakin cantik akhir-akhir ini. Badannya pun sedikit lebih berisi tidak kurus seperti sebelumnya.
Rafli tersenyum tipis, entah mengapa perasaan nya berdebar saat menatap Santi. Hal yang dulu belum pernah ia rasakan. Sedang Santi yang memang sadar bahwa Rafli sempat memperhatikan nya, pipi nya merah seperti kepiting rebus entah mengapa perasaan cinta nya tak lekas hilang.
Sedangkan Niken yang mengetahui gelegat dua anak muda itu hanya tersenyum tipis dan berpaling melihat ke arah jendela.
***
"bye-bye Diva. Kapan-kapan kita belanja lagi ya, kita kuras habis uang suami kita. Ha ha ha" ucap Zaifa.
Diva pun tersenyum senang. Wanita mana yang tidak bahagia jika di beri kartu dan di beri kebebasan belanja apa saja oleh sang suami. setiap wanita pasti akan bahagia, begitu juga dengan Diva dan Zaifa.
"aku pulang dulu enggak apa-apa? Mas Boby udah jemput" ucap Diva.
"tak apa, sebentar lagi mama akan jemput aku"
Diva mengangguk kan kepalanya, ia menunggu Boby menghampiri nya. Boby mengambil banyak tas belanjaan dari tangan Diva. Diva merangkul tangan kiri Boby kemudian membalikkan sedikit badannya dan melambai ke arah Zaifa.
"huh, seperti nya lain kali aku harus mengajak mas Rai ketika berbelanja, agar tangan ku ngga pegel membawa banyak belanjaan" gumam Zaifa.
Zaifa duduk di bangku yang di sediakan sambil menunggu mobil sang mama. Tak lama mobil hitam milik sang mama pun tiba. Rafli keluar dari mobil dan mengambil alih tas belanjaan Diva. Rafli membuka kan pintu depan untuk Zaifa, namun sebelum masuk Zaifa melirik ke arah Santi.
"aku mau duduk di samping mama aja. Santi tolong pindah di depan ya" ucap Zaifa.
Santi yang paham bahwa Zaifa ingin berdekatan dengan sang mama pun keluar mobil dan berpindah ke bangku samping Rafli. Sedangkan Zaifa hanya tersenyum tipis melihat kedua orang yang seperti nya sudah mengalami kemajuan.
Zaifa duduk di samping mama kemudian langsung memeluk mama nya dari samping.
"Zaifa kangen banget sama mama"
Mama Niken mengelus jilbab Zaifa lembut, dan tak lama Zaifa terbuai dalam pelukan hangat sang mama hingga kemudian tertidur.
__ADS_1