
Zaifa menata makanan dari ranjang. Di bawah sendiri berisi nasi, tingkat dua ada sayur sop yang sudah ia masak. tingkat tiga ada tempe mendoan dan sambel terasi yang ia buat. Dan di tingkat paling atas ada beberapa potong buah-buahan.
"udah siap yang?" tanya Raihan.
"udah mas. Yuk berangkat"
"mmaaaa maaa maaa" celoteh Rara sembari memperhatikan sang mama.
"waahh putri kecil mama sudah bisa manggil mama ya..." ucap Zaifa gembira.
Hihii....
Bayi kecil itu tertawa ketika Zaifa menciumi leher nya dan wajah nya.
"maaa maaa maamaaa maa"
"emmm,,, manis banget sih putri mama" Zaifa mencubit lembut pipi sang putri.
"coba panggil papa dong sayang" ucap Raihan membuat bayi kecil itu menoleh dan menepuk pipi Raihan..
"ppaaaa....."
"dia bisa!!" seru Raihan antusias.
"putri mama pinter banget"
"maaa....." bayi kecil itu mengulurkan tangannya pada Zaifa meminta di gendong.
"putri Rara mau di gendong ya?"
Zaifa segera mengambil alih tubuh sang putri dan Raihan mengambil rantang itu kemudian mereka berjalan ke depan. Di depan sana sudah ada Santi dan Rafli yang menunggu mereka. Terlihat Santi dan Rafli sedang bercanda dan sesekali mereka akan tertawa. Hal itu membuat Zaifa ikut tersenyum.
"kenapa yang?" tanya Raihan heran.
"aku cuma bersyukur mas, setidaknya sekarang Santi lebih bahagia dari pada yang dulu. Dan aku dengar beberapa waktu lalu Santi sudah bertemu dengan ibu nya."
"benar kah?"
Zaifa mengangguk sembari tetap pandangan nya tetap melihat ke arah dua sejoli yang sedang asyik bergurau di depan sana.
"lagi ngobrol apa sih seru banget" ucap Raihan membuat kedua nya terdiam dan menoleh ke arah Raihan.
"sudah mau berangkat den?" tanya Rafli.
__ADS_1
"panggil mas aja Raf, saya ngga enak kalo di panggil kayak gitu"
Rafli menggaruk pelipis nya, entah terbuat dari apa hati keluarga ini yang selalu membuat Rafli merasa di hargai meskipun sebatas supir.
"rantang nya biar aku yang bawa pak" ucap Santi mengulurkan tangannya hendak mengambil rantang yang di pegang Raihan.
"enggak perlu San, biar mas Rai yang bawa ini buat kak Niel. Kamu tadi kan udah bantuin masak juga. Makasih ya"
"sama-sama mbak... Lagian juga aku malah seneng daripada di rumah suntuk sendirian"
"berangkat yuk yang, keburu sore nanti"
Rafli membuka kan pintu untuk Zaifa dan Raihan. sedang Santi sengaja membuka pintu mobil sendiri karena ia bukan majikan Rafli yang harus di layani oleh pria itu.
"mbak aku ngga enak duduk di depan sini, gimana kalo tukeran sama pak Raihan aja. Biar aku duduk sama mbak" ucap Santi.
"enggak perlu sungkan San, itung-itung kamu belajar menemani Rafli biar kalo udah nikah nanti terbiasa"
"eh, hhee..." Santi hanya nyengir mendengar itu.
Sedang Rafli tersenyum sembari melirik ke arah Santi. tinggal satu tahap lagi dan mereka akan menjalin hubungan resmi yang halal.
***
"mungkin sebentar lagi datang nak, kenapa? kamu udah lapar? Ini tadi Wulan udah beli sayur sop juga buat kamu" ucap mama Niken.
Niel menggeleng, pria itu sudah seperti ibu hamil muda yang tidak akan makan apapun jika keinginan nya belum terpenuhi.
"Wulan pasti capek karena semalem tidur nya ke ganggu" lirih Niel namun terdengar di telinga mama Niken.
"Niel... Wajar jika ibu hamil gampang lelah dan gampang tidur. Meskipun kamu yang mengalami mual dan ngidam tapi itu hanya sebagian kecil dari proses kehamilan. Jadi nanti jangan marah-marah kalo lihat istri kamu sering tidur"
"iya ma"
"haii kak Niel...." sapa Zaifa dengan lantang nya.
Zaifa membuka pintu dan langsung menghambur ke pelukan sang kakak.
"kakak nya aku udah lama ya nungguin aku?" tanya Zaifa.
"mana sop nya?"
Santi maju meletakkan ranjang itu di atas meja samping Niel. Niel langsung mengambil rantang itu namun segera di tepis oleh Zaifa.
__ADS_1
"biar adik kakak yang cantik dan manis ini yang melayani kakak" ucap Zaifa.
Zaifa mengambil piring yang ada di meja, ia mengeluarkan ranjang satu per satu kemudian mengambil nasi, sayur sop, sambel dan tempe mendoan. hidung Niel yang berubah sensitif mencium aroma yang membuat air liur nya keluar seketika dan membuat ia tak sabar menyantap makanan masakan adek nya.
"ini aku yang masak khusus buat kakak" seru Zaifa.
Zaifa mulai menyuapi Niel. Niel menerima suapan itu dengan antusias. Ia bahkan menghabiskan nasi satu piring hanya beberapa menit saja.
"mau lagi kak?"
Niel mengangguk, Raihan di buat kaget melihat itu namun kemudian ia mengingat bahwa Niel sedang mengalami ngidam.
di sofa sana, Wulan mengerjap kan matanya, tidur nya terasa terganggu dengan suara ramai tak jauh dari nya. Ia pun tersenyum melihat kedekatan antara Niel dan Zaifa. Ia beranjak dan mencuci muka di kamar mandi. Setelah itu ia menghampiri keluarga dari suami nya itu.
"maaf ya dek, bikin repot kamu. Tadi kakak sudah beli sayur sop di depan tapi mas Niel ngga mau" ucap Wulan merasa sungkan.
"enggak apa-apa kak. aku ngga keberatan kok, aku kan suka masak. Oh iya, kakak jangan lupa ikut makan juga aku bawa banyak kok"
Wulan mengangguk, ia mengambil piring dan mengisi nya dengan sop dan tempe mendoan.
"mama mau makan juga? biar aku ambilin" tanya Wulan pada mama Niken.
"mama udah makan sama sop yang kamu beli tadi nak, kamu makan yang kenyang ya biar sehat-sehat terus" ucap mama Niken membawa sang menantu duduk kembali di sofa dan menemani nya makan.
***
"San, kenapa kamu ngga ajak Bu Dewi tinggal sama kamu aja?" tanya Zaifa.
Setelah acara menyuapi sang kakak usai, mereka duduk lesehan di tikar yang memang sudah di gelar oleh mama Niken tadi. Niel sudah terlelap sejak ia baru selesai makan sedang Wulan duduk di kursi samping Niel.
"aku udah ajak mbak, tapi ibu nggak mau" jawab Santi.
"jangan di paksa, tapi kalo ada kesempatan ajak terus siapa tau ibu kamu berubah pikiran" sahut mama Niken.
"iya Tante"
"jadi kapan kalian akan meresmikan hubungan kalian?" tanya Raihan.
Rafli menatap Santi begitu juga Santi. Jika untuk melamar uang tabungan Rafli sudah cukup. hanya saja ia tak mau memaksa Santi.
"Santi... Aku tau kamu masih memikirkan ayah mu kan? Memang sebagai perempuan jika hendak menikah harus di wali kan oleh ayah kandung nya. Namun apa salah jika kalian bertunangan terlebih dahulu. Dan semoga kalian akan segera bertemu dengan pak bewok" pesan Zaifa.
keduanya terdiam, apa yang di katakan Zaifa ada benar nya. hanya bertunangan dulu, dan seharusnya tak masalah jika tanpa kehadiran ayah nya.
__ADS_1