
Malam telah larut, pesta pernikahan Boby dan Diva telah usai satu jam yang lalu. Saat ini kedua pengantin baru itu tengah berada di dalam kamar dengan posisi duduk yang saling berjauhan.
Mereka saling lirik, kemudian saling mengalihkan pandangan jika lirikan mata mereka saling bertemu. Jika sudah seperti itu mereka akan tersenyum malu-malu.
Entah mengapa perasaan keduanya begitu berdebar. Namun, entah angin apa yang membuat mereka kemudian tiba-tiba saling mendekat. Mereka bertatapan, saling menyelami perasaan masing-masing.
Wajah cantik Diva tak mampu membuat Boby menahan sesuatu dalam dirinya. Begitu pula dengan Diva yang selalu terpesona oleh wajah tampan Boby.
Boby mengecup singkat bibir Diva, kemudian menatap Diva penuh cinta. Rasanya malam ini ia ingin segera memiliki Diva seutuhnya.
Melihat respon Diva yang tak menolak, tapi justru tersenyum malu membuat Boby mengulangi perbuatannya.
Kali ini bukan hanya kecupan, tapi ******* kecil yang membuat Diva memejamkan matanya menikmati. Mereka bukan lah anak kecil yang tidak tau tentang adegan dewasa itu, mereka hanya belum memiliki pengalaman saja.
Perlahan ******* itu semakin menjadi dan menjalar kemana-mana, hingga mereka melakukan sesuatu yang wajar di lakukan oleh sepasang suami istri. Malam ini mereka larut dalam buai surga dunia.
***
Dua hari berlalu, hari ini adalah hari dimana Raihan akan mengikat Zaifa menjadi milik nya. semua sudah di siapkan bahkan sejak sehari sebelumnya.
Lamaran resmi itu akan di lakukan di kediaman Niken, sebab Zaifa menolak melakukan lamaran di hotel sesuai usulan Raihan. namun, apalah Raihan yang tak dapat menolak permintaan Zaifa meskipun ia sangat ingin memberikan lamaran yang sangat besar kepada Zaifa.
Saat ini Raihan tengah bersiap dengan baju batik dan celana kasual berwarna hitam. Rambut nya di tata serapi mungkin. Tak lupa parfum mahal di semprot kan pada baju dan pergelangan tangannya. Harum semerbak parfum mahal itu menguar kemana-mana.
Di luar sana, teman, beberapa kerabat termasuk Bram dan Adrin juga telah siap. Tinggal menunggu sang bintang utama yang belum juga keluar dari kamar.
Sementara di rumah yang halaman nya telah di siapkan sebagai acara lamaran, Zaifa tengah di dandani oleh seorang MUA. Baju terusan yang mengembang dari pinggang hingga bawah membuat Zaifa seperti seorang putri yang sangat cantik. baju terusan berwarna pink kalem dan jilbab senada membuat ia terlihat seperti boneka hidup.
MUA telah selesai memberikan sentuhan terakhir pada wajah Zaifa. MUA itu bahkan merasa kagum dengan wajah imut Zaifa. Selama menjadi seorang MUA baru kali ini ia mendadani calon pengantin yang sudah cantik bahkan sebelum ia mengaplikasikan berbagai make up.
__ADS_1
"mbak Zaifa sangat cantik" seru MUA itu bahagia.
Zaifa hanya tersenyum menanggapi, kemudian menatap pantulan wajah nya di cermin. Dengan sedikit polesan make up membuat Zaifa bertambah semakin cantik. Ia merasa tak percaya bahwa ia secantik itu.
"saya tinggal dulu ya mbak, jika membutuhkan atau kurang sesuatu mbak bisa panggil saya"
"iya kak, terima kasih. tolong panggil kan mama dan kak Niel ya"
MUA itu pun keluar dan terkejut ketika mendapati Niel yang sudah berdiri di depan pintu kamar Zaifa.
"sudah selesai?" tanya Niel datar.
"sudah mas, saya permisi"
Niel pun langsung masuk dan terpaku kala mendapati wajah cantik seperti boneka. Zaifa yang sadar dengan kehadiran kakak nya tersenyum bahagia kemudian menghampiri sang kakak dan langsung memeluk nya.
Zaifa semakin mengeratkan pelukan nya sebab ia merasa malu. Niel mengusap rambut Zaifa yang terbungkus jilbab itu, matanya berkaca-kaca. Bahkan belum genap satu bulan ia tinggal serumah dengan sang adik, tapi sekarang adik nya ini akan menjadi milik sahabat nya.
"kau sangat cantik dek, rasanya kakak tidak rela jika Raihan akan segera melamar mu"
Zaifa melepas pelukan itu kemudian memandang wajah tampan sang kakak. Matanya berkaca-kaca.
"ssssttt,,, jangan menangis. Nanti riasan mu rusak" ucap Niel mengusap air mata yang belum sempat jatuh ke pipi.
Niel menuntun sang adik duduk di tepi ranjang, tak lama pintu terbuka dan terlihat Niken masuk ke ruangan itu.
"putri mama sangat cantik" ucap Niken mencium lama kening Zaifa.
Zaifa memejamkan matanya menikmati pelukan dan ciuman hangat sang mama. Bagaimana pun selama ini ia belum pernah di perlakukan hangat oleh orang lain, terkecuali Raihan.
__ADS_1
Rombongan Raihan telah sampai di kediaman Niken, mereka di sambut oleh keluarga Niken dan segera di persilahkan duduk.
Sementara salah satu pelayan menuju kamar Zaifa untuk memberitahu kan bahwa rombongan pria sudah datang.
"permisi nyonya" ucap pelayan itu setelah mengetuk pintu yang sedikit terbuka itu.
Niel, Niken dan Zaifa menoleh.
"rombongan tuan Raihan sudah tiba nyonya"
"oh, baiklah. terima kasih mbak. Kami akan segera turun"
Pelayan itu pun undur dan menyampaikan kepada keluarga di bawah. Niken dan Niel menggandeng Zaifa menuju halaman yang sudah di tata dengan indah.
Kursi berjejer di sebelah kanan dan kiri. Zaifa berjalan menuju kursi di panggung settingan yang di depan sana. Terlihat Raihan sudah menunggu dengan senyuman hangat yang jarang di perlihatkan kepada orang lain.
Di samping Raihan ada Bram dan Adrin, mereka pun menatap ke arah Zaifa. sebenarnya Adrin merasa malu berada disini, terlebih jika mengingat kejadian bertahun-tahun lalu. Namun, ia harus tetap ada disini sebagai ibu sambung dari raihan. Meskipun Raihan seperti tak menganggap ada dirinya.
Zaifa duduk di kursi sebelah Raihan, di ikuti oleh Niel dan Niken di samping nya. Mata Raihan dan Zaifa bertemu, mereka saling tersenyum bahagia. Akhirnya setelah bertahun-tahun dan setelah melewati segala hal menyakitkan mereka berdua bisa bersanding meskipun baru sekedar lamaran namun mereka akan mempercepat pernikahan mereka.
"baiklah, terima kasih kepada seluruh tamu undangan, keluarga dan teman-teman yang telah hadir dalam acara kedua sahabat kami Raihan dan Zaifa. Tak perlu berlama-lama mari kita langsung saksikan acara pertukaran cincin keduanya" seru sang MC semangat.
Bram memberikan cincin kepada Raihan dan kemudian di pakaikan di jari manis Zaifa. Begitu juga Niken yang memberikan cincin kepada Zaifa dan memasangkan di jari manis Raihan.
Riuh tepuk tangan terdengar membahana, para wartawan yang sengaja di undang tak berhenti mengambil gambar sejak tadi. Bahkan ada yang menyiarkan secara langsung acara pertunangan itu.
"pada akhirnya kau tetap berjodoh dengan nya Zai...." ucap seorang pria yang melihat siaran langsung di televisi.
Hatinya sakit bagai di tusuk beribu jarum. Terlebih ketika melihat wajah bahagia Zaifa.
__ADS_1